SEMARANG (inspirasiline.com) – Kota Semarang memperluas peluang kerja sama industri pariwisata melalui PHRI Vaganza Table Top 2026. Forum bisnis yang mempertemukan buyer dan seller dari berbagai daerah hingga luar negeri tersebut diharapkan menghasilkan kemitraan konkret, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat posisi Semarang sebagai destinasi wisata dan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti membuka kegiatan tersebut di Patra Semarang Hotel & Convention, Rabu (21/10/2026). Forum ini diselenggarakan dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) 2026.
Sebanyak 103 buyer dari Singapura, Malaysia, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali mengikuti forum tersebut.
Pertemuan antarpelaku usaha itu membuka ruang bagi penjajakan kerja sama di sektor pariwisata, termasuk pengembangan paket wisata, promosi destinasi, dan perluasan jaringan pemasaran.
Agustina mengatakan, penguatan industri pariwisata membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pengusaha hotel dan restoran, asosiasi, serta pelaku usaha lainnya. Kemitraan tersebut diperlukan agar potensi destinasi dapat diterjemahkan menjadi produk wisata yang menarik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Pariwisata merupakan ekosistem ekonomi yang menghubungkan banyak sektor, membuka peluang usaha, dan menggerakkan kesejahteraan masyarakat,” kata Agustina.
Menurutnya, tantangan industri pariwisata bukan hanya mendatangkan wisatawan, melainkan juga menghadirkan pengalaman yang berkesan agar pengunjung tertarik kembali. Di saat yang sama, industri perlu terus berinovasi dan memperkuat kualitas layanan.
Kunjungan Wisatawan Mendekati 9 Juta
Semarang memiliki potensi pasar pariwisata yang besar. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan tercatat mencapai 8.971.530. Hingga September 2026, jumlahnya telah mencapai 7.443.948 kunjungan.
Potensi tersebut diperkuat oleh berbagai agenda unggulan yang masuk kalender Karisma Event Nusantara (KEN), seperti Semarang Night Carnival, Festival Kota Lama, dan Festival Arak-Arakan Cheng Ho.
Pada September 2026, Semarang juga menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI yang diikuti 38 kafilah provinsi.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan sejarah, budaya, kuliner, dan produk lokal. Aktivitas wisata juga berpotensi mendorong permintaan terhadap layanan perhotelan, transportasi, perdagangan, serta industri kreatif.
Daya tarik pariwisata Semarang turut mendapat pengakuan melalui penghargaan Best of the Best City at Kota Lama Semarang dalam Best City Destination Award 2026 dari MarkPlus Tourism.
Selain itu, Semarang meraih Anugerah Inovasi Program Pembangunan Terpuji kategori Penggerak Pembangunan Kota Berbasis MICE. Kelurahan Wonolopo juga meraih penghargaan terbaik kategori Wisata Kuliner, sedangkan Kampung Melayu memperoleh penghargaan kategori Warisan Sejarah dalam Trisakti Tourism Award.
Agustina mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas destinasi dan memperluas kolaborasi usaha.
Perkuat Konektivitas dan Layanan Wisata
Untuk meningkatkan daya saing, Pemkot Semarang juga mendorong pembangunan dan pemeliharaan jalan strategis serta penguatan transportasi publik.
BLU Trans Semarang dikembangkan untuk mendukung mobilitas masyarakat dan wisatawan melalui layanan yang aman, nyaman, dan mudah diakses. Pada 2026, layanan tersebut meraih predikat Sustainable and Self-Sufficient Public Transportation.
Bagi industri pariwisata, konektivitas menjadi bagian penting dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih praktis. Akses menuju destinasi, fasilitas akomodasi, dan lokasi kegiatan MICE perlu didukung layanan transportasi yang memadai.
Agustina menilai kolaborasi antarpelaku industri juga perlu diarahkan pada pengembangan paket wisata yang menghubungkan berbagai daya tarik Semarang. Dengan demikian, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan pengalaman, mulai dari wisata sejarah dan budaya hingga kuliner serta kegiatan bisnis.
Pengembangan pasar tersebut sekaligus membuka peluang bagi hotel, restoran, operator wisata, dan pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan usaha.
Table Top Diharapkan Menghasilkan Kesepakatan Bisnis
Agustina menegaskan, PHRI Vaganza Table Top 2026 perlu dimanfaatkan lebih dari sekadar pertemuan antara buyer dan seller. Forum ini diharapkan menghasilkan kesepakatan bisnis, memperluas jaringan pemasaran, dan mendorong terbentuknya paket wisata yang kompetitif.
Kehadiran 103 buyer dari berbagai daerah dan negara menjadi kesempatan bagi pelaku industri untuk saling mengenalkan produk serta menjajaki kerja sama sesuai kebutuhan pasar.
Pemkot Semarang juga mendorong agar pengembangan pariwisata melibatkan UMKM lokal melalui platform WARAS EKONOMI. Melalui platform tersebut, pelaku usaha dapat dijembatani dengan peluang kemitraan untuk pengembangan produk unggulan, kerajinan, dan kuliner.
Agustina berharap produk lokal dapat menjadi bagian dari rantai pasok industri pariwisata sehingga manfaat pertumbuhan sektor ini menjangkau lebih banyak pelaku usaha.
“Semoga forum ini menghasilkan kerja sama nyata dan peluang usaha baru, sekaligus memperkuat posisi Semarang sebagai destinasi pariwisata dan MICE yang diperhitungkan,” pungkasnya.
Melalui PHRI Vaganza Table Top 2026, Pemkot Semarang berharap jaringan bisnis pariwisata semakin luas dan potensi destinasi dapat menjangkau pasar yang lebih beragam. Kemitraan yang terbangun diharapkan turut meningkatkan daya saing industri sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. (*)
