Intelek[tua]litas

NGASO

Oleh Dwi NR

TUMBEN-tumbenan Usman buka Youtube, nonton sebuah video tausiyah Syekh Ali Jaber. Ini tentu nganeh-nganehi. Apalagi, tangannya bisa tiba-tiba ngeklk ke video pengajian itu, semula gara-gara dia penasaran mendengar berita tentang ustaz dari Madinah itu ditikam seseorang tak dikenal saat berdakwah di Lampung.

Ternyata bisa juga Usman begitu takzim menyimak video berdurasi 17 menit itu hingga tuntas. Meski sambil setengah tengkurap, dengan tangan dan mulutnya tak bisa lepas dari sebatang rokok kretek legendaris kesukaannya yang selalu menyala dan mengepulkan asap putih beraroma khas.

Ketakziman Usman yang nganeh-nganehi di pos kamling itu sampai membuatnya abai kiri-kanan. Termasuk ora nglegewo kehadiran Lek No. Terlebih karena teman setianya itu memilih tidak mengusik keseriusan Usman, sampai mendadak Kang Kucrit datang sambil membawa nampan berisi seteko kopi hitam panas dan tiga gelas, dan langsung menyapa, “Lek Us, kok serius men. Iki ngopi-ngopi sek.”

“Eh, iyo. Maturnuwun, Dulur…” Usman menanggapi, tapi pandangannya belum beralir dari layar ponsel pintarnya.

“Ayo, Lek Us…ndang dirahapi. Iki wis tak jok-joki gelase,” timpal Lek No.

“Siap.” Usman mematikan ponselnya, dan beranjak duduk. “Ternyata Syekh Ali Jaber enak juga yo tausiyahe. Titis lan gampang dipahami. Padahal wong Lor lho… asli Arab, Madinah,” lanjutnya nyerocos, berbagi “ilmu” yang barusan dicecap dari Youtube.

“Titis piye, Lek Us?” Tanya Kang Kucrit. “Sori, rokoke yo…” sambungnya sambil melolos sebatang rokok dari bungkus hard pack milik Usman.

Monggo.” Usman mempersilakan Kang Kucrit ikut menikmati rokok kreteknya. “Iki lho, Syekh Ali Jaber titis nerangke bab dadi wong tuwo kuwi kudu biso marisi telong perkoro marang anak-anake.”

Tak hanya Kang Kucrit, tanpa diminta, Lek No pun ikut serius menyimak kelanjutan penjelasan Usman. Dan, tumben-tumbenan pula Usman bersemangat menyampaikan apa yang dtunggu dua teman setia di kampungnya itu. Teman yang selalu seiring-sejalan setia menjadi penghuni pos kamling.

baca juga:  Komu[nikah]si

Usman meneruskan apa yang baru didengar-ditonton dari tausiyah Syekh Ali Jaber. Benar, bahwa Rasulullah berpesan dalam salah satu hadisnya, orang tua harus bisa mewariskan tiga perkara bagi anak-anaknya: agama, akal atau ilmu pengetahuan, dan harta.

Kalau agama itu bersifat pribadi, dan harta itu terkait dengan jatah rezeki masing-masing orang, maka ilmu pengetahuan atau intelektualitas itu yang harus bisa diwariskan. Artinya, jangan pernah meninggalkan anak-anak dalam keadaan lemah intelektualitas. Atau tidak kuat secara akal atau kecerdasan.

“Yo pancen bener to. Syekh Ali Jaber kuwi pancen titis.” Lek No mengakui.

“Aku setuju karo Lek No.” Kang Kucrit menyusul. Sepakat. “Yen sampeyan dhewe piye, Lek Us?”

“Lha tapi sing tak pikir kuwi, dhewe, khususe aku opo iso ninggali warisan koyo sing dikarepke Rasulullah kuwi? Agama, bondho, lan akal opo intelektualitas kuwi?”

Usman tak hanya menjawab pertanyaan Kang Kucrit. Dia nyerocos. Curhat. Menengok kualitas dirinya. Berintrospeksi.

“Lha memange nopo, Lek Us?”

“Ngene lho, Lek No, Kang Kucrit… lha meh marisi intelektualitas piye, lha wong dhewe iki wis dho tuwo-tuwo ngene. Paling-paling yo intelek-tuo-litas kui… intelek-tua-litas. Akal utowo kecerdasan sing wis tuwo, wis lawas, wis ketinggalan zaman…”

“Hahaha…” Lek No terbahak. Kang Kucrit ngakak. Usman pun ikutan tergelak.

Mereka bertiga seperti menertawakan diri sendiri. Tentu sambil mengepulkan asap-asap rokok dan menyeruput kopi.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *