Komu[nikah]si

NGASO

Oleh Dwi NR

“SETAN kepet! Dasar setan kepet! Sumber maksiat.” Sederet kalimat ini belakangan sering diumbar Usman. Tidak hanya di rumah, di saat kerja pun kerap diucap.

Rekan-rekan kerjanya, sesama driver tronton maupun trailer, hanya bisa terbengong-bengong. Mereka tak memahami apa yang maksud racauan Usman, driver senior yang dituakan di perusahaan angkutan alat berat milik Mansur, juragan mereka.

Jati diri “setan kepet” yang sering disebut-sebut dan dikambinghitamkan Usman akhirnya terbongkar, dalam sebuah perjalanan di atas Pajero Putih sang juragan.

“Setan kepet kui sopo to, Lek Us?” tanya Mansur, dengan sapaan akrabnya.

“HP kui to… HP android, sing kerep gawe maksiat!” sahut Usman cepat, sambil terus memegang kemudi Pajero Putih bosnya.

“Oalah. Setan kepet kuwi jebul HP android to. Lha kok iso gawe maksiat ki piye?”

Bos Mansur yang duduk di sisinya, terlihat serius menyimak penjelasan panjang dari Usman.

Usman bercerita. Satu hari, dia bertengkar hebat dengan istrinya. Makne Rho, sapaan keseharian sang istri, marah-marah gara-gara smartphone-nya, dipinjam sang anak tanpa izin. Celakanya, si anak cowok itu sampai seharian tidak pulang.

Usman yang kena semprot. Makne Rho minta smartphone-nya segera balik, atau minta ganti baru.

“Tuku HP android? Lha aku duit seko ndi… Dasar setan kepet!”

Mendengar kalimat terakhir Usman itu, Mansur terkekeh. Dia baru ngeh, jika setan kepet adalah “julukan” Usman pada smartphone yang berbentuk kepet alias pipih.

Sebagai juragan, Mansur pun berusaha meredakan emosi Usman. Dia juga menasihati. Bahwa komunikasi juga menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan suami-istri dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga mereka.

Tanpa komunikasi yang baik, ketenteraman dalam keluarga bakal sulit dicapai.

baca juga:  Murdesi: Arsip Kunci Penyelamatan Aset

Menurutnya, salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mewujudkan rasa tenteram dan kasih sayang di antara lelaki dan perempuan yang dinikahinya.

Sang bos menukil firman Allah SWT dalam Alquran, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia ciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS ar-Ruum [30]: 21).

Selain faktor komunikasi, keluarga harmonis dapat terwujud jika seorang istri mampu menjaga perasaan suaminya.

“Semono uga sakwalike, suami uga kudu iso njaga perasaan istri utawa bojo,” tutur Mansur.

Mansur yang suka sejarah, pun melanjutkan dengan menyampaikan satu riwayat, pernah sekali Ummul Mukminin Aisyah RA merasa amat khawatir lantaran hingga menjelang subuh dia tidak mendapati suaminya, Nabi Muhammad SAW tidur di sebelahnya.

Dengan gelisah, Aisyah pun mencoba berjalan keluar. Ketika pintu dibuka, Aisyah merasa terkejut. Sebab, dia menemukan Rasulullah SAW sedang tidur di depan pintu. Aisyah pun lantas bertanya, “Wahai Nabi Allah, mengapa engkau tidur di sini?”

“Aku pulang larut malam. Karena khawatir mengganggu tidurmu, aku tak tega mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu,” jawab Rasulullah.

Begitulah cara nabi memperlakukan istrinya.

“Sebagai Muslim, sudah barang tentu kita harus meneladani sifat-sifat beliau dalam membangun rumah tangga,” kata Mansur, kali ini dalam Bahasa Indonesia yang tertata.

“Lha kuwi kan Nabi, Bos…” tukas Usman, protes.

“Lha dewe iki umate, yo kudu iso niru tumindake Nabi Muhammad,” balas sang bos.

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR at-Tirmidzi).***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *