Partikel[ir]

NGASO
Oleh Dwi NR

PERMBERLAKUAN Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) –dari skala mikro, darurat, hingga yang sekarang menggunakan pelevelan— benar-benar menjadi momok bagi masyarakat. Terutama kalangan partikelir. Wiraswasta. Atau yang lebih tepat dilabeli sebagai rakyat jelata.

Penerapan PPKM Darurat, 3-20 Juli 2021 sudah dianggap nggegirisi. Lebih menakutkan ketimbang penularan virus Corona itu sendiri. Masyarakat sekarang nyaris sudah tidak “menggubris” Covid-19, tapi justru lebih mewaspadai dan ketakutan terhadap operasi atau razia-razia terkait dari penerapan aneka tajuk PPKM itu.

Dengan kemasan lain, Presiden Joko Widodo memutuskan PPKM Darurat diperpanjang hingga 2 Agustus, dengan menyematkan pemeringkatan: Level 1, 2, 3, hingga Level 4. Level terakhir ini masuk kategori zona merah alias darurat.

“Podo wae, ndaaa pandaaa… Sama saja! Level 4 maknane yo tetap darurat. Zona merah. Pedes. Lha padahal aku paling ora doyan pedes,” cerocos Usman, di depan dua sohib lamanya di pos kamling kampung: Kang Kucrit dan Lek No.

“Lhoh, opo hubungane PPKM karo pedes?” tanya Kang Kucrit, penasaran.

Di pos kamling, malam itu, Lek No pura-pura cuek. Menyeruput kopi hitam panas favorit ketiganya. Tentu saja, sambil mengepulkan asap rokoknya.

Dengan suara sengau, sisa flu berat yang dikira gejala paparan Corona, Usman memberikan penjelasan, “Lha kuwi, PPKM saiki nganggo level-levelan. Koyok tuku kulineran saiki, meh njaluk pedes level piro… Kan yok ngono to?”

“Oalah, hahaha… Jebul kuwi to? Bener, bener, Lek Us.” Kang Kucrit langsung nyambung dengan yang dimaksud Usman.

“Lha opo PPKM level-levelan kuwi yo pedes koyok lombok, Lek Us?” Sekarang giliran Lek No yang penasaran.

“Yo jelas, mrono-mrene dalan disekat, ditutup. Durung maneh, bola-bali dioperasi, ditakoni bab surat hasil swab antigen, surat keterangan sudah divaksin, surat tugas perjalanan seko perusahaan, lan liya-liyane…. ribet. Mumet. Kabeh ngono kuwi kan marakke pedes,” beber Usman, yang kali ini hanya meletakkan rokok kretek legendaris andalannya di pos kamling, karena konon mulutnya belum bisa “menikmati” asap rokok. Hanya sebagai pelengkap sosialisasi saat ronda malam ini.

“Oh yo, aku setuju, Lek Us. Senajan aku iki ora sopir trailer koyok sampeyan, sing ora kudu ngadepi razia-razia ning ndalan, aku yo ngrasakke pedese PPKM kuwi,” ujar Lek No.

“Pedesmu mergo opo, Lek No?” Kucrit menyerobot.

“Uripku saiki dadi koyok manuk dikurungi. Ora iso nang ndi-ndi. Warungan bojoku ora entuk buka. Kerjo kok ning omah? Ning omah yo seneng, tapi yen ora duwe duwit opo yo iso seneng? Opo iso urip?”

“Bener kuwi omongane Lek No. Sampeyan dhewe kan yo ngrasakke to, Kang Kucrit? Partikelir koyok dhewe kabeh iki keno dampake. Dadi korban pedese PPKM Level 4 iki,” ungkap Usman.

Kang Kucrit manggut-manggut. “Miturut aku sing ora ngrasakke pedes yo poro pegawai negeri kuwi yo. Ora kon kerjo, tapi bayaran utuh. Duwite malah ora kelong kanggo ongkos-ongkos mangkat ngantor. Sing kudu kepedesen yo pancen partikelir-partikelir koyok dhewe iki,” cetusnya kritis.

Usman dan Lek No mengacungkan jempol mereka.

“Tumben sampeyan pinter, tur kendel,” komentar Usman dan Lek No kompak, tertuju pada Kang Kucrit.

Usman, Kang Kucrit, dan Lek No hanyalah rakyat jelata sebenarnya. Tiga sohib kampung ini hanyalah kaum partikel[ir] atau “partikel” yang hanya bisa “mengalir” dalam pusaran arus kebijakan global penguasa.***

Bagikan ke:

41 thoughts on “Partikel[ir]

  1. I discovered your blog site on google and test a number of of your early posts. Continue to maintain up the excellent operate. I just extra up your RSS feed to my MSN News Reader. Seeking forward to reading more from you afterward!…

  2. Neat blog! Is your theme custom made or did you download it from somewhere? A theme like yours with a few simple adjustements would really make my blog shine. Please let me know where you got your design. Appreciate it

  3. of course like your web-site however you need to test the spelling on several of your posts. A number of them are rife with spelling problems and I find it very bothersome to inform the truth nevertheless I will surely come back again.|

  4. I simply could not go away your site before suggesting that I actually enjoyed the usual information a person supply for your guests? Is going to be back continuously to check out new posts.

  5. Hello there! I know this is somewhat off topic but I was wondering if you knew where I could get a captcha plugin for my comment form? I’m using the same blog platform as yours and I’m having trouble finding one? Thanks a lot!

  6. Polygon Bridge has become an indispensable part of my crypto toolkit. It’s especially useful for those of us who are active in the DeFi space. With its user-friendly interface and reliable performance, I couldn’t ask for more!

  7. Hiya, I’m really glad I’ve found this information. Nowadays bloggers publish just about gossips and internet and this is really frustrating. A good blog with interesting content, that is what I need. Thank you for keeping this web site, I’ll be visiting it. Do you do newsletters? Cant find it.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *