Hipmi-PMII Sragen Nilai Penataan Pedagang Kios Sentra Kuliner Veteran Subyektif

NEWS

Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com

PENATAAN kios Sentra Kuliner Veteran Brigjen Katamso di lahan bekas Gedung Panca Marga Sragen menuai sorotan.

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kabupaten Sragen mengendus ada indikasi monopoli kios oleh pedagang kelas kakap dan mengabaikan pengusaha rintisan.

Hal itu disampaikan Ketua Hipmi Sragen Giana Saputra, Kamis (28/1/2021).

Giana Saputra mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) harus mengkaji ulang dan mengubah sistem yang akan diterapkan dalam penataan pedagang di Sentra Kuliner Veteran.

Dia menilai, saat ini ada kesan asal tunjuk bagi pengusaha kelas kakap yang sudah mapan untuk menempati kios-kios di Sentra Kuliner Veteran.

Menurutnya, Pemkab harus lebih mengakomodasi pengusaha rintisan atau startup. Meski hanya bersatus Hak Guna Bangunan (HGB), prioritas untuk pedagang rintisan dinilai sebagai bagian untuk membangun perekonomian Kabupaten Sragen.

“Teman-teman UKM terserap di situ, agar bisa meningkatkan omzet penjualan. Terlebih di situasi pandemi ini, kondisi teman-teman UKM mengerikan. Kalau seperti itu (prioritas pedagang ternama –red) ya monopoli namanya. Harusnya akomodasi teman-teman kita di bidang UKM. Selain itu, jika dilelang, dengan pembayaran yang bisa diangsur agar tidak memberatkan,” ujarnya bernada kecewa.

Giana Saputra mengaku miris dengan konsep penataan sentra kuliner tersebut.

Ketua International Council for Small Business (ICSB) Sragen itu mengemukakan, seharusnya lokasi tersebut lebih memprioritaskan menyerap pedagang kakilima (PKL) yang belum memiliki tempat layak untuk berjualan.

Namun realitanya justru kebanyakan pengusaha kelas atas yang sudah diakomodasi.

Lha itu mau jadi cabang ke 3 atau cabang 5 sama aja bohong. ujung ujungnya bisnis murni nantinya,” ungkap Giana Saputra.

Jika rencana tersebut dipertahankan, dengan mengakomodasi pemain lama, hal itu justru tidak akan banyak menopang pemberdayaan perekonomian Sragen.

baca juga:  Kasus Covid-19 Sragen Masih Tunjukkan Peningkatan

Subyektif
Terpisah, Pengurus Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sragen, Yusuf menilai, penataan pedagang di kios sentra kuliner sangat subyektif dan dimonopoli.

Sebab, dari daftar pedagang yang bakal mengisi sentra kuliner tidak mewakili pedagang muda.

Yusuf mengungkapkan, selain merangkul para pedagang makanan unggulan, seharusnya pemkab juga mengakomodasi pedagang muda, sehingga dalam sentra kuliner itu nantinya lebih variatif dan mengakomodasi semua kalangan.

Bahkan bila kalangan muda diberi kepercayaan, para pengusaha muda juga berani ikut lelang yang dampaknya untuk pemasukan langsung ke Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Yusuf merasa heran dengan konsep awal pedagang diberi kios cuma-cuma. Pun dengan mekanisme pembayaran restribusi yang akan ditarik enam bulan kemudian, juga patut dipertanyakan.

”Karena semua berjualan penuh risiko. Bila terbuka, tentunya pedagang harus langsung berani sewa. Tapi ini aneh, mereka sudah terkenal kok takut tidak laku dengan dibebaskan enam bulan gratis,” gerutunya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tedy Rosanto yang hendak dikonfirmasi inspirasiline.com tidak berada di tempat. Pesan WA juga belum dibaca dan dihubungi langsung ponselnya tidak aktif.***

Bagikan ke:

2 thoughts on “Hipmi-PMII Sragen Nilai Penataan Pedagang Kios Sentra Kuliner Veteran Subyektif

  1. I have recently started a site, the info you provide on this web site has helped me tremendously. Thanks for all of your time & work. “The word ‘genius’ isn’t applicable in football. A genius is a guy like Norman Einstein.” by Joe Theismann.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *