Komnas PA: Majelis Hakim PA Sragen Terlalu Mudah Terbitkan Dispensasi Pernikahan

NEWS

Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com

KOMISI Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menilai majelis hakim Pengadilan Agama (PA) Sragen terlalu mudah memberikan dispensasi kawin yang berdampak kurang terkontrolnya kasus pernikahan dini di Bumi Sukowati.

Ketua Komnas PA Sragen Heroe Setyanto mengatakan, ada banyak faktor yang memengaruhi remaja memutuskan nikah di usia muda.

Dia tidak memungkiri, faktor hamil di luar nikah cukup dominan sebagai alasan pasangan muda-mudi menikah di usia dini.

“Jika sudah hamil duluan, suka tidak suka, Pengadilan Agama akan mengabulkan dispensasi kawin itu. Sebab, kalau tidak dikabulkan malah unsur pidananya masuk. Itu sebuah pilihan yang dilematis bagi majelis hakim,” ujar Heroe saat berbincang dengan insprasiline.com di Sragen, Selasa (2/2/2021).

Heroe mengakui, kasus pernikahan dini yang terjadi antara pasangan wanita berusia 12 tahun dan pasangan pria berusia 17 tahun di wilayah Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, tahun lalu tidak dilatarbelakangi oleh faktor kehamilan di luar nikah. Dalam hal ini, dia menganggap Majelis Hakim PA Sragen terlalu mudah menerbitkan dispensasi kawin.

“Saya lihat Pengadilan Agama memang terlalu mudah untuk menerbitkan dispensasi kawin. Kalau dispensasi kawin mudah diterbitkan, dampaknya luar biasa. Tidak jarang rumah tangga mereka berujung pada perceraian, karena memang belum matang dari segi finansial dan mental,” ujar Heroe, menyesalkan.

Kecenderungan yang terjadi, kata Heroe, remaja yang memutuskan nikah dini tidak melanjutkan pendidikan mereka. Ini bisa terjadi setelah pasangan wanita telanjur hamil.

Ujian Rumah Tangga
Karena kerepotan mengurus keluarga dan anak, mereka akhirnya melupakan bangku sekolah.

“Pandemi Covid-19 ini juga menjadi ujian bagi rumah tangga. Bila tak mampu keluar dari impitan ekonomi, perceraian bisa jadi jalan tengah. Kalau usia dan mental belum matang, perceraian bisa lebih mudah terjadi,” tandasnya.

Sementara Pejabat Humas PA Sragen M Harits mengatakan, jumlah pengajuan dispensasi kawin cenderung meningkat sejak diberlakukan UU No 16/2019 tentang Perubahan Atas UU No 1/1974 tentang Perkawinan.

Seperti diketahui, UU itu mengamanatkan batas usia pria dan wanita yang akan menikah adalah minimal 19 tahun. Sebelumnya, batas usia menikah bagi pria adalah 19 tahun dan wanita 16 tahun.

“Dulu minimal berusia 16 tahun, sekarang usianya dinaikkan jadi 19 tahun. Jadi, wajar kalau terjadi peningkatan permohonan dispensasi kawin,” kata M Harits.

Meski begitu, Harits belum bisa menunjukkan data peningkatan permohonan dispensasi kawin, karena masih dalam tahap rekap oleh PA Sragen.

Harits menegaskan, tidak semua dispensasi kawin itu dikabulkan oleh majelis hakim.

“Ada yang diterima, ada yang ditolak, dan ada yang dicabut karena bersedia menunda nikah. Yang diterima, pertimbangannya beda-beda. Beda orang, beda pertimbangan. Semua akan dimediasi dulu. Kami beri pemahaman kepada mereka kalau menikah dini itu tidak dianjurkan oleh negara. Yang ditolak itu karena memang kedua pasangan dianggap belum mampu,” bebernya.***

Bagikan ke:

1 thought on “Komnas PA: Majelis Hakim PA Sragen Terlalu Mudah Terbitkan Dispensasi Pernikahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *