Di Wilayah Kerja Puskesmas Plupuh 2, 179 Anak Alami Stunting

NEWS

Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com

PERNIKAHAN usia dini menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus stunting atau gangguan pertumbuhan anak yang diakibatkan kekurangan gizi pada periode awal.

Kasus stunting di Bumi Sukowati berdasar data yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen cukup tinggi. Tercatat 8,42% di Februari, dan meningkat pada Agustus 2020 menjadi 8,84% dari populasi bayi di bawah lima tahun (balita) sebanyak 65.000 anak atau sekitar 564.600 anak pada 2020. Dari jumlah tersebut, 179 anak di wilayah kerja Puskesmas Plupuh 2, Kabupaten Sragen mengalami stunting.

Kepala Puskesmas Plupuh 2 dr Paryanti menyebut, angka stunting diketahui dari program penimbangan serentak yang dilakukan sekali dalam setahun, yakni pada Februari dan Agustus. Untuk Februari 2021 masih dalam proses validasi data.

“Penyumbang status stunting disebabkan pernikahan dini. Selain itu ada pula ibu hamil (bumil) yang awalnya merantau, tahu-tahu pulang kampung saat hendak melahirkan, sehingga tidak terpantau perkembangan bayi saat hamil,” ungkap dr Paryanti ketika dihubungi inspirasiline.com, Selasa (23/3/2021).

Kasus stunting ini, kata dr Paryanti, juga menjadi prioritas dalam penggunaan Dana Desa (DD) yang diatur dalam Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Permendes PDTT) No. 13/2020 yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Bupati (Perbup) No.74/2020.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Sragen Nur Aini mengatakan, di tingkat desa ada aplikasi Electronic Human Development Worker (e-HDW), yang salah satunya mendata tentang kasus stunting dan data lainnya. Setiap desa sudah menunjuk petugas operator e-HDW dan dalam.memasukkan data berkoordinasi dan mencocokkan data dengan Bidan Desa.

“Pengisian e-HDW di Sragen tertinggi. Data dalam sistem tersebut dapat dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan di tingkat desa, seperti penggunaan DD untuk program stunting. Semua itu tergantung pada wewenang desa masing-masing,” ujar Nur Aini.

Kepala Puskesmas Plupuh 2 dr Paryanti menjelaskan, solusi untuk mengurangi kasus stunting, meliputi Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penyuluhan gizi pada kelas ibu hamil (pertemuan ibu hamil tiap bulan diisi penyuluhan dari Puskesmas), pengadaan kelas calon pengantin untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat, serta pemberian zat besi pada remaja putri.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *