Empat Sumber Hukum Islam Berdasar Kesepakatan Ulama

CATATAN

Catatan: Imron Rosyadi

Alquran merupakan sumber utama dan pertama dalam pengambilan hukum. Karena Alquran adalah perkataan Allah yang merupakan petunjuk kepada umat manusia dan diwajibkan untuk berpegangan kepadanya.

HUKUM di dalam Islam berarti menjadi pedoman bagi diri setiap orang, terutama umat Islam untuk berperilaku di kehidupan sehari-hari.

Hal-hal yang dibahas di dalam hukum Islam tidak hanya habluminallah atau hubungan antara manusia dengan Allah saja. Tapi juga membahas tentang manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan benda di sekitarnya, serta manusia dengan lingkungan hidupnya.

Para ulama menyepakati bahwa terdapat empat sumber Hukum Islam. Paparannya sebagai berikut;

1. Alquran
Alquran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab, dengan perantara Malaikat Jibril yang berisi kitab Allah dan berfungsi sebagai pedoman hidup bagi umat manusia.

Alquran merupakan sumber utama dan pertama dalam pengambilan hukum. Karena Alquran adalah perkataan Allah yang merupakan petunjuk kepada umat manusia dan diwajibkan untuk berpegangan kepada Alquran. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 2:

ذلِكَ اْلكِتَبَ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ

“Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertalwa.” (QS Al-Baqarah: 2)

Alquran sebagai kalam Allah dapat dibuktikan dengan ketidaksanggupan atau kelemahan yang dimiliki oleh manusia untuk membuatnya sebagai tandingan, walaupun manusia itu adalah orang pintar. Dalam Surat Al-Isra ayat 88, Allah berfirman:

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

“Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (QS Al-Isra: 88)

2. Hadis/Sunnah
Sumber kedua dalam menentukan hukum adalah sunnah Rasulullah SAW. Karena Rasulullah yang berhak menjelaskan dan menafsirkan Alquran, maka As-Sunnah menduduki tempat kedua setelah Alquran. Allah berfirman dalam Alquran Surat An-Nahl ayat 44 dan Al-Hasyr ayat 7, sebagai berikut:

وَاَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الذِكْرَ لِتُبَيِنَ لِلنَّاسِ مَانُزِلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan kami turunkan kepadamu Alquran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, supaya mereka memikirkan.” (QS An-Nahl: 44)

 وَمَاءَاتَكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَانَهكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْاوَاتَّقُوْااللهَ, اِنَّ اللهَ شَدِيْدُاْلعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras sikapnya.” (QS Al-Hasyr: 7)

Kedua ayat tersebut di atas jelas bahwa hadis atau sunnah menduduki tempat kedua setelah Alquran dalam menentukan hukum.

3. Ijma’
Ijma adalah sumber hukum sesudah Alquran dan hadis. Ijma’ adalah kesepakatan para ulama atas suatu hukum setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Karena pada masa hidup Nabi Muhammad SAW, seluruh persoalan hukum kembali kepada beliau. Setelah wafatnya Nabi, maka hukum dikembalikan kepada para sahabatnya dan para mujtahid.

Ijma’ sendiri terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Ijma’ Bayani, adalah apabila semua mujtahid mengeluarkan pendapatnya, baik berbentuk perkataan maupun tulisan yang menunjukkan kesepakatannya.
  2. Ijma’ Sukuti, adalah apabila sebagian mujtahid mengeluarkan pendapatnya dan sebagian yang lain diam, sedang diamnya menunjukkan setuju, bukan karena takut atau malu.

Dalam Ijma’ Sukuti, ulama masih berselisih paham untuk diikuti, karena setuju dengan sikap diam tidak dapat dipastikan. Adapun Ijma’ Bayani telah disepakati suatu hukum, wajib bagi umat Islam untuk mengikuti dan menaatinya. Karena para ulama mujtahid itu termasuk orang-orang yang lebih mengerti dalam maksud yang dikandung oleh Alquran dan Alhadis, dan mereka itulah yang disebut ulil amri minkum. Allah berfirman dalam Alquran Surat An-Nisa’ ayat 59:

 ياأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْاأَطِيْعُوْااللهَ وَأَطِيْعُوْاالرَّسُوْلَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu.” (QS An-Nisa’: 59)

4. Qiyas
Sumber hukum Islam selanjutnya yakni qiyas (analogi). Qiyas menurut bahasanya berarti mengukur, secara etimologi kata itu berasal dari kata qasa (قا س).

Yang disebut Qiyas adalah menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukum, karena adanya sebab yang antara keduanya.

Rukun Qiyas ada 4 macam: al-ashlu, al-far’u, al-hukmu, dan as-sabab. Contoh penggunaan Qiyas, misalnya gandum, seperti disebutkan dalam suatu hadis sebagai yang pokok (al-ashlu)-nya, lalu al-far’u-nya adalah beras (tidak tercantum dalam Alquran dan Alhadis), al-hukmu, atau hukum gandum itu wajib zakatnya, as-sabab atau alasan hukumnya karena makanan pokok.

Dengan demikian, hasil gandum itu wajib dikeluarkan zakatnya, sesuai dengan hadis Nabi, dan begitu pun dengan beras, wajib dikeluarkan zakat. Meskipun dalam hadis tidak dicantumkan nama beras, tapi, karena beras dan gandum itu kedua-duanya sebagai makanan pokok.

Di sinilah aspek Qiyas menjadi sumber hukum dalam syariat Islam. Dalam Alquran Allah berfirman:

 فَاعْتَبِرُوْا يأُوْلِى اْلأَيْصَارِ

“Ambillah ibarat (pelajaran dari kejadian itu), hai orang-orang yang memunyai pandangan.” (QS Al-Hasyr: 2)

Melalui keempat hukum Islam yang telah disepakati oleh ulama tersebut, maka akan sangat berperan penting di dalam kehidupan masyarakat. Di mana hal tersebut untuk menjalankan beberapa fungsi, yakni fungsi ibadah, fungsi amar ma’ruf nahi munkar, fungsi zawajir, dan fungsi tanzhim wa ishlah al-ummah.***

*) Imron Rosyadi (NIM: 1120034), adalah Mahasiswa Syari’ah/Hukum Keluarga II-B INISNU Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia.
Bagikan ke:

2 thoughts on “Empat Sumber Hukum Islam Berdasar Kesepakatan Ulama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *