Penulis: Sugimin | Editor: Dwi NR
SRAGEN | inspirasiline.com
NASIB petani di Kabupaten Sragen makin jauh dari kata sejahtera. Betapa tidak, panen raya musim ini, mereka menangis dan kembali dipaksa menelan pil pahit lantaran harga gabah yang anjlok drastis.
Kondisi itu diperparah dengan produktivitas yang menurun akibat batang padi yang sebagian roboh diterjang hujan angin.
Hal itu memperburuk rentetan kemalangan yang harus dialami, mulai dari serangan tikus di awal tanam, mahal dan sulitnya pupuk, hingga panenan yang di bawah perkiraan.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen Suyatno (54) menuturkan, musim panen ini memang menjadi ujian berat bagi petani.
Sebab, harga gabah kering panen atau harga di sawah, jauh merosot. Harga gabah saat ini hanya Rp 3.500-Rp 3.700 per kilogram.
Padahal pada panen sebelumnya, harga panen masih berkisar Rp 4.800-Rp 5000/kg.
Tak hanya harga kiloan, harga tebasan oleh tengkulak juga merosot tajam. Jika biasanya satu petak seperempat hektare bisa laku Rp 7,5 juta, saat ini paling mahal hanya laku Rp 5,5 juta.
Untuk mengatasi kesulitan petani, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Masyarakat Tani-Nelayan Indonesia (DPC Himtani) Sragen Suhadi berdiskusi mencari solusi dengan sejumlah pengurus yang dihadiri Ketua DPC Himtani Karanganyar Dwiyono dan Koordinator Homtani Wilayah Surakarta Suharso di salah satu rumah makan di Sragen, Jumat (9/7/2021).
Suhadi mencontohkan, dari tiga petak hanya mendapat hasil Rp 17,2 juta. Padahal biaya produksi dari pengolahan lahan, tanam, pupuk, hingga menjelang panen untuk 3 petak itu habis sekitar Rp 13 juta.
Belum lagi biaya tenaga untuk mengikat padi karena ambruk diterjang angin, satu petak habis Rp 1,2 juta.
“Kalau dikalkukasi nggak nutup lagi, panenan dengan biayanya. Kalau hasil tonasenya masih lumayan, tapi harganya yang remuk,” ungkap Suhadi.
Padahal, karena sebagian ambruk, kata Suhadi, petani harus keluar biaya tenaga untuk mengikat padi sekitar Rp 1,2 juta per petak. Sebab, jika tidak diikat, padi yang ambruk tidak akan bisa berisi dan kesulitan dipanen pakai mesin.
“Habis di biaya. Pokoknya makin rekoso. Sudah tanamnya diawut tikus, mau mupuk jatah berkurang dan nonsubsidi mahal, panenan ditambah harga njebluk dan padinya ambruk,” lanjutnya.
Keluhan yang sama juga dikemukakan Ketua DPC Himtani Karanganyar Dwiyono, yang menyatakan sering mendapat wadulan petani di daerahnya.
Untuk harga tebasan satu petak seperempat hektare maksimal hanya Rp 4 juta. Padahal normalnya bisa sampai Rp 6 juta dan harga gabah panen biasanya mendekati Rp 5.000/kg.
Dengan harga seperti itu, petani sudah tidak mendapat untung sama sekali. Sebab, margin antara panenan dengan biaya produksi dan tenaga, tidak lagi ada sisa.
“Taruhlah laku Rp 4 juta, untuk biaya saja sudah Rp 2 juta lebih. Karena dari traktor, semai, tanam, pupuk, dan merawat. Mungkin kalau sisa, paling hanya Rp 1 juta dan nunggu 3 bulan. Padahal apa-apa dikerjakan sendiri dan sawah sendiri. Sekarang pupuk jatahnya sedikit, beli nonsubsidi harganya mencapai Rp 300 ribuan per zak. Kalau sawahnya nyewa dan tenaga bayar orang lain, sudah pasti tambah tangisan,” beber Koordinator Himtaqni Wilayah Surakata Suharso, yang juga hadir dalam diskusi mencari solusi menyejahterakan petani.
Kondisi buruknya harga diperparah dengan ulah para tengkulak yang tega memotong harga tebasan.
Suharso menambahkan, hampir sebagian besar petani yang jual tebasan, kena potongan oleh tengkulak antara Rp 500.000-Rp 1 juta saat membayar.
“Alasannya macam-macam. Yang hasilnya kurang bagus, yang jualnya susah, yang harganya jeblok, dan lain-lain. Intinya, mereka biar bisa ngurangi harga. Petani akhirnya petani hanya bisa pasrah,” terang Suharso, yang mengadopsi keluhan petani di Sragen.
Mereka berharap, realita ini bisa menjadi perhatian pemerintah dan pengambil kebijakan. Sebab, jika kondisi pupuk mahal, harga panenan dibiarkan merosot tanpa ada proteksi, lama-kelamaan petani akan semakin menderita.
“Kami juga heran, katanya negara agraris, ingin menyejahterakan petani dan mengejar swasembada. Lha kok nasibnya petani selalu susah dibiarkan saja. Pupuk kurang juga nggak ada tambahan, harga panen anjlok juga nggak ada perlindungan, serangan tikus juga tidak ada bantuan. Petani harus ngadu dan berharap ke siapa lagi,” ujar Dwiyono dengan nada tanya.
“Situasi pendemi Covid-19 agak sulit mencari solusi, karena semua sektor terdampak. Ini nanti saya sampaikan ke DPP Himtani, supaya diteruskan ke Kementerian Pertanian. Mudah-mudahan ada solusi terbaik,” tutur Suharso.***
