Tegal-Inspirasiline.com. Bimijawa setelah sempat terpuruk akibat hantaman banjir bandang yang meluluhlantakkan ikon wisata Pancuran 13, kini destinasi wisata Guci di Kabupaten Tegal menunjukkan denyut nadi kehidupan yang kembali bergelora. Alam yang sempat mengamuk kini perlahan bersahabat kembali, menyambut para pelancong yang rindu akan kesejukan udara pegunungan serta kehangatan air belerang yang melegenda.
Berendam di air panas Guci bukan sekadar relaksasi, melainkan sebuah ritual penyembuhan alami yang dipercaya mampu mengusir penat sekaligus memulihkan berbagai keluhan kesehatan.

Kebangkitan semangat warga Guci terpancar nyata melalui perhelatan akbar “Ruwat Bumi”, sebuah tradisi sakral yang diselenggarakan setiap tahun bertepatan dengan 1 Muharam atau Tahun Baru Islam.

Selama sepekan penuh menjelang puncak acara, desa ini berubah menjadi panggung seni budaya yang memukau. Berbagai kesenian lokal ditampilkan dengan penuh dedikasi, menjadikannya magnet tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan detak jantung budaya lokal di tengah pelukan lereng Gunung Slamet yang asri.

Suasana sakral dan khidmat menyelimuti seluruh penjuru desa saat arak-arakan gunungan hasil bumi melintasi jalanan, diiringi irama tabuhan musik tradisional yang menggetarkan jiwa.
Sebelum menuju titik seremonial utama, prosesi penyerahan “Wedus Kendit” (kambing dengan ciri khas warna putih melingkar di perutnya) dilakukan oleh tokoh masyarakat setempat kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Tegal, Amir Mahmud.
Tarian yang mengirngi penyerahan wedus kendit membawa suasana magis aroma kembang merlati dan kepulan asap kemenyan menjadikan krsakralan dalam prosesi tersebut.

Setelah dibacakan doa kambing kendit dibawa ke berkas pancuran 13 dimandikan oleh pejabat setempat dengan makna membersihkan segaka gangguan yang akan merusak tanah guci.
Wakil Bupati Tegal Mohamad Kholid berharap tahun depan acara ini di kemas supaya lebih menarik penuh kreasi dan inovasi supaya menjadi acara yang di nanti bagi pegunjung wisata Guci. Khid juga mengatakan pemkab Tegal dalam waktu dekat akan kembali memperbaiki pancuran 13 yang rusak diterjang banjir.

Acara ruwat bumi ditandai pula dengan pemotongan tumpeng oleh wakil bupati diserahkan kepada tokoh masyarakat setempat dan pembacaan singkat sejarah Desa Guci oleh Kepala Desa Guci Soleh. (Biet)
