Penulis : Yokanan
Blora-Inspirasiline .com. Berwisata merupakan impian banyak orang pada umumnya. Tentunya ini merupakan salah satu cara untuk menghilangkan penat dengan rutinitas sehari-hari.
Salah satu destinasi wisata Waduk Greneng yang ada di Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora menawarkan banyak panorama alam.
Mulai dengan pesona perairan, pemandangan alam yang masih asri, jajanan, minuman, kuliner hingga wisata jukung.
Jukung atau juga dikenal sebagai cadik adalah perahu kecil bercadik kayu dari Indonesia ini juga menjadi daya tarik tersendiri di tempat ini.
Dengan merogoh kocek sebesar 50 ribu rupiah, kamu akan diajak mengelilingi luasan Waduk Greneng ini. Agus, selaku pengayuh jukung mengaku sudah hampir 5 tahun menjalani pekerjaan ini.
“Mulai kelas 3 SD, ” ucapnya Sabtu (12/2/2022). Dirinya mengatakan dengan harga 50 ribu rupiah bisa untuk 4 orang penumpang. “Tergantung kapasitas perahu dan penumpangnya,” ucap dia.
Dikatakannya, durasinya tidak pasti, lebih 15 menit sampai 30 menit. “Paling ramai ini di warungnya, kalau perahunya agak sepi,” kata dia.
Bocah berusia 15 tahun ini mengatakan untuk area cemoro pitu (salah satu tempat yang biasa dipakai swafoto dan camp) juga sepi, karena jembatannya sudah tidak fungsi sejak tahun 2020 karena pandemi. “Dari pengelola belum memperbaiki,” ucapnya singkat. “Harapannya, wisata ini juga bisa ramai,” sambungnya.
Pengunjung asal Desa Gedebeg, Kecamatan Ngawen, Tera Dinar Aulia, mengaku tidak ada rencana untuk mengunjungi wisata ini. Dirinya tengah belajar nyetir mobil bersama teman-temannya. “Sebenere mendadak kan sembari ngelancarin nyetir mobil,” ucapnya.
Perempuan berusia 17 tahun ini mengaku sudah beberapa kali sering ke tempat ini bersama teman-temannya. Menurutnya, tempat ini menawarkan beberapa pilihan destinasi.
“Ada beberapa, berhubung tidak normal (pandemi). Ada perahu yang muter, ada cemoro pitu cuma gak tahu, kayaknya jembatan belum dibenahi, juga panorama alam. Seger banget, airnya seger, anginnya sepoi-sepoi gitu,” paparnya.
“Fasilitasnya sendiri udah banyak yang di upgrade, sudah dibangun paving sebelumnya becek,” imbuhnya. Dirinya berpesan untuk para wisatawan untuk menjaga kebersihan. Jangan ada sampah sembarangan. “Kita kan dateng ke wisata alam tujuannya menikmati alam, jangan lupa memungut sampah lah, jangan sampai merusaknya,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Desa Tunjungan, Yasir tengah mempersiapkan potensi desa ini yang akan berdampak terhadap kepariwisataan di kabupaten Blora.
“Yang aktif menggerakkan itu adalah kelompok sadar wisata (Pokdarwis), karena kebijakan aturan pemerintah terkait kepariwisataan sehingga tidak serta merta menjadi pengelola wisata desa, pengelola salah satunya Bumdes sehingga semenjak Bumdes dididik terjadi pandemi,” jelasnya.
Untuk kegiatan wisata, pihaknya belum berani membuka. termasuk pengusaha wisata yang lain. Menurutnya, banyak wahana seperti wisata air di perairannya, pemancingan, outbond, hingga swafoto.
Terkait jembatan cemoro pitu, Yasir mengungkapkan perijinan dengan pihak perhutani sudah habis termasuk karena pandemi.
“Pada saat kita tutup, gak ada yang jaga yang merawat. Ada yang nyelonong. Dikhawatirkan ada resiko, akhirnya jembatan kita bongkar dulu.
Dikatakannya, berjalannya waktu, jika sudah tidak ada pandemi, Bumdes ini juga akan mengadakan event-event. “Bulan januari, 25 Januari selalu ada event tahunan, tapi ini belum. Karena pandemi di perpanjang akhirnya gak jadi. Kita tunda dulu, nunggu peraturan pemerintah di buka dulu, ” pungkasnya.
