Sragen-Inspirasiline.com. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) banyak mendapat protes dari pedagang bensin eceran. Banyak pedagang mulai mengeluh dan keberatan akan keputusan Pemerintah tersebut. Selain modal tambah besar dan keuntungan mengecil, kebijakan pembatasan pembelian yang juga diberlakukan, kian membuat nasib pedagang makin terjepit.
Seperti diketahui, pemerintah menaikkan harga tiga jenis BBM. Kenaikan dengan besaran cukup tinggi pada Pertalite dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000 dan Pertamax dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.000.
Salah satu penjual bensin eceran di Dukuh Karang RT 01, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen Asmuin atau sering dipanggil Muin (38) mengatakan, Keputusan Pemerintah sangat memberatkan rakyat kecil.
“Iya berdampak sekali, saya hanya pengecer bensin kecil modal lebih besar, keuntungan malah semakin kecil. Banyak pembeli pada mengeluhkan bensin mahal. Selain itu masyarakat sangat terdampak sekali bagi petani dan orang tua yang menyekolahkan anaknya. Ini sama artinya mbunuh wong cilik,” Ungkap Muin Rabu (7/9/2022).

Muin membeberkan sebelum harga naik, menjual Pertalite dengan harga Rp 9.000 perliter. Dengan harga itu, keuntungan yang didapat Rp 1.350.
Sejak Pertalite naik menjadi Rp 10.000, kini keuntungan yang didapat justru turun hanya Rp 1.000 perliter. Padahal modal untuk membeli di SPBU makin besar.
“Mau jual Rp 12.000 di kampung terlalu mahal. Nggak tega juga. Seperti anak- anak sekolah juga orang tua harus mengeluarkan biaya besar untuk bensin, sekarang pertalite/ liter harus menambah Rp 2.000 untuk anaknya pergi ke sekolah,” Ungkapnya.
Senada, pedagang BBM eceran di Alun-alun Sragen, Sri Sukini (54) mengaku kenaikan harga BBM makin membuat pedagang eceran terjepit. Tak hanya modal makin besar, omzet dan pembeli juga makin menurun.
Sejak BBM naik kemarin belanja sampai hari ini bensin saya belum ada yang laku sama sekali, Keputusan Pemerintah sangat mematikan rakyat kecil. Harganya naik tinggi banget,” Ungkapnya mengeluh
Sebelum kenaikan, masih bisa menjual Rp 10.000 perliter Pertalite. Namun setelah Pertalite dinaikkan jadi Rp 10.000, harga jualnya dinaikkan jadi Rp 12.000, pembeli makin sepi.
Bahkan tak sedikit calon pembeli yang mundur batal membeli setelah tahu harga makin mahal.
Menurutnya, kenaikan harga BBM itu dirasa terlalu tinggi dan tidak menunjukkan empati pemerintah kepada rakyat kecil.
“Sekarang kalau ada yang beli bensin pada tanya harga dulu terus tahu harga Rp 12.000 mereka nggak jadi beli. Pemerintah memang kebangetan,” Ungkapnya.
Sri Sukini berharap Pemerintah segera menurunkan harga BBM kembali pasalnya rakyat kecil baru saja mulai bangkit ekonomi karena pandemi.
“Harapan kalau bisa naik jangan terlalu banyak gitu lho. Yang sewajarnya, tolonglah orang-orang seperti kami ini. Kita cuma pingin dapat sedikit buat hidup Pak,” Ungkapnya memelas. ( Sugimin/17)
