Petani Di Sragen Mengeluhkan Regulasi Pupuk Dan Ketersediaan Irigasi

NEWS

Sragen-Inspirasiline.com. Petani di Kabupaten Sragen  mengeluhkan Regulasi Pupuk dan Ketersediaan Irigasi yang susah. Mereka menilai Subsidi Pupuk dari Pemerintah kurang Optimal. Buktinya, kuota di lapangan selalu kurang.

Ketua Kelompok Tani Makmur Desa Pelemgadung, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen Suparno mengatakan, Situasi Pertanian saat ini tidak baik-baik saja. Terutama masalah Pupuk yang bisa dibilang Mahal dan Langka.

”Pupuk bersubsidi ada, tapi kuota kurang. Kalau yang bukan subsidi mahal,” Ungkap Suparno.

Selain mahal kata Suparno Pupuk juga Sulit didapat. Bahkan untuk satu Sak Pupuk bisa di atas Rp 600-900 ribu. Kondisi ini tentu menjadi masalah krusial bagi Petani.

”Kami meminta Pemerintah bisa tambah Kuota Pupuk Subsidi. Kalau satu Patok, 3 Hektare jatah petani jelas kurang,” Ungkapnya mengeluh

Selain Pupuk, Suparno juga mengeluhkan Jasa Pengairan. Irigasi saat ini sudah berhenti. Padahal setiap Tahun Petani urunan membayar air Irigasi. Namun kini air tidak mengalir. Solusi yang diambil yakni memakai sumur pantek, hanya saja membutuhkan biaya besar.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sragen Pujono Elly Bayu Effendi menerima persoalan yang dialami Petani. Mulai dari mahalnya harga pupuk non subsidi hingga kesulitan petani menjual hasil panen.

”Keluhan petani ini akan kami bawa dan sampaikan ke Pemerintah untuk ditindaklanjuti. Sehingga Pemerintah bisa menyikapi Permasalahan Petani ini. Seperti Pupuk dan harga,” Ungkapnya.

Bayu  sapaan akrabnya Pujono Elly Bayu Effendi  meminta Dinas terkait bisa mengurai Permasalahan yang dialami Petani. Kemudian memastikan Proses Pertanian di Sragen berjalan lancar dan aman.

Bayu juga menegaskan, akan menyampaikan ke Wakil Rakyat di Pusat terkait Kondisi Pertanian. Sehingga bisa digelar program yang bisa membantu Petani.

”Perlu diingat Kabupaten Sragen bisa Panen 3 kali setahun atas Pemikiran  Presiden Suharto. Dulu Petani diberi Ruang untuk menyampaikan Aspirasinya hingga dibuat Waduk Gajah Mungkur,” Ungkapnya.

Di bagian lain, menjelang Panen Petani kembali menggelar Tradisi Metil. Tradisi ini sudah lama ditinggalkan Petani. Saat ini Petani di Sragen, mulai menggalakkan kembali.

”Baru kembali kami laksanakan ini, agar Petani muda tahu bahwa dulu ada Tradisi ini. Harapannya Petani bisa Panen dengan hasil yang melimpah,” Ungkap Suparno. (Sugimin/17)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *