Grobogan-Inspirasiline.com. Salah satu PAD ( pendapatan asli daerah) Pemerintah Desa adalah bersumber dari hasil lelang tanah bengkok ( bondo desa). Hasil lelang tanah tersebut pasang surut tergantung kondisi yang mempengaruhinya. Bila hasil panen melimpah yang digarap petani pada tanah bondo desa itu, bisa dipastikan tahun depan tanah tersebut tetap terjual dalam arti tetap disewa, namun bila panen gagal otomatis pendapatan petani menurun yang pada akhirnya daya beli masyarakat petanipun ikut turun. Akibatnya tanah desa tersebut kemungkinan juga tidak terbeli petani penyewa.
Kondisi tersebut dirasakan oleh Pemdes Penganten Kecamatan Klambu Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. Undangan lelang tanah bengkok yang seharusnya dijadwalkan pada Jumat (10/2/23) di balai desa setempat tidak membuahkan hasil, bahkan beberapa saat ditunggu , calon penyewa tanah tak kunjung datang.

Hari itu hadir Camat Klambu Rustamaji, Kapolsek AKP Maarif , wakil Danramil, Kades Penganten Junaidi dan beberapa media, serta Bhabinkamtibmas Desa Penganten.

Kades Junaidi setelah berkoordinasi dengan BPD setempat, harga jual diturunkan hingga 30 persen. “Saya masih menunggu jawaban dari petani penyewa, dan untuk waktu lelang akan saya jadwal ulang lagi” kata Junaidi.
Sementara itu, Camat Rustamaji memerintahkan stafnya untuk terap dibuatkan berita acaranya.
“Ada lelang apa tidak, karena sudah terjadwal, tetap kami buatkan berita acaranya ” kata nya.
Sebagaimana disampaikan, kegiatan pelelangan tanah bondo desa di Kecamatan Klambu sudah dimulai sejak minggu lalu dan hasilnya secara umum menurun. Seperti Desa Wandankemiri, Terkesi, Klambu, Jenengan dan Kandangrejo. Keempat desa ini perolehannya menurun bila dibandingkan dengan tahun lalu.
Kata Camat, hal ini lebih disebabkan karena cuaca dan hama tananan, sehingga panen petani menurun dan mengakibatkan turunnya minat masyarakat untuk menyewa tanah bondo desa tersebut.
Seperti diketahui Desa Wandankemiri pada tahun ini memperoleh hampir Rp 300 juta an, itupun menurun jika dibandingkan tahun lalu. Demikian juga Desa Terkesi dengan perolehan sekitar Rp.300 jutaan. Kemudian Desa Jenengan tahun ini memperoleh sekitar Ro. 430 juta dan kondisi ini turun bila dibanding dengan tahun lalu, kecuali Desa Klambu mengalani kenaikan yakni dari sekitar Rp.90 jutaan tahun lalu naik menjadi Rp.125 juta an “Naiknya sedkit kok” ujar Suyanti Kades Klambu.
Perolehan hasil lelang tanah bondo desa itu naik atau tidak tak jadi soal, yang penting tetap diupayakan tanah itu tergarap oleh petani penyewa. (jkwi)
