Rembang-Inspirasiline.com. Lomba atau vestifal Thong-Thong lek yang awalnya akan di gelar di Taman Kartini, dipastikan dipindah ke Alun-Alun Rembang. Namun tetap tersentral di satu lokasi. Artinya tidak ada babak penyisihan dengan keliling.
Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Mutaqin membenarkan hal itu. Ia mengatakan, pemindahan tempat tersebut didasari 2 alasan.
Pertama, area Taman Kartini dinilai kurang luas, jika jumlah penonton membludak, dikhawatirkan berdesak-desakan, sehingga menjadi kurang nyaman.
Alasan kedua, apabila thong-thong lek terpusat di Alun-Alun Rembang, maka dampak pengembangan ekonomi, terutama bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) akan lebih bermanfaat.
“Faktor kenyamanan dan ekonomi menjadi pertimbangan utama. Kami bicara dengan pak Kasat Intel Polres Rembang, sudah ok, “ terang Mutaqin, Jumat (7/4/2023).
Selain memindahkan tempat kegiatan, waktu pentas thong-thong lek juga sedikit berubah.
Semula digelar tanggal 17 April 2023, dimajukan sehari menjadi tanggal 16 April 2023.
Setelah berkoordinasi dengan pengurus Takmir Masjid Agung Rembang, diketahui bahwa tanggal 17 April bersamaan malam 27 Ramadhan atau malam menjemput Lailatul Qadar. Padahal posisi Masjid Agung dan Alun-Alun berdekatan.
Untuk mengantisipasi hal itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyarankan diajukan 1 hari, tepatnya tanggal 16 April.
“Biar lebih harmonis, jangan sampai di Masjid ada kegiatan menyambut malam lailatul Qadar, kita malah ramai-ramai thong-thong lek. Hasil komunikasi kami dengan pak Athoillah (Takmir Masjid Agung-Red), juga sudah ok, “ tandasnya.
Mutaqin menimpali pada hari Kamis (6/4), Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata mengadakan temu teknik thong-thong lek dengan para peserta.
Ada beberapa hal dibahas, mulai tentang kesepakatan jenis peralatan maupun materi penilaian.
“Untuk peralatan arahnya tradisional, kenthongan dari bambu yang utama. Jika ada tambahan alat pukul ya semacam perkusi, sedangkan penilaian ada 3 unsur yakni aransemen, vokal dan koreografi. Koreografi kita masukkan, biar lebih menarik, sinergi dengan gerak dan irama, “ pungkas Mutaqin.
Menyangkut jumlah peserta, Mutaqin menyampaikan setelah pendaftaran ditutup, peserta aada 19 group. Mereka datang dari berbagai penjuru kecamatan dan desa.
Lomba Thong thong lek ini, secara berkala telah di laksanakan pada akhir bulan puasa setiap tahun sejak tahun 70-an.
Thong thong lek musik jalanan tradisional penggugah makan sahur. Yang bahannya di dominasi oleh bambu. Namun seiring dengan perkembangan, banyak di padukan dengan instrumen musik modern seperti orgen, gitar dan yang lain. (yon daryono)
