Kisah Bambang Sumantri

NEWS

Wonogiri-Inspirasiline.com. Bambang Sumantri akrab disapa Sumantri, adalah putra Begawan Suwandagni dari pertapan Ardisekar.

Sumantri satriya berparas tampan,cerdas,sakti,tangkas olah senjata,serta jagoan perang.

Walau demikian, Sumantri tetap rendah hati,santun,berjiwa luhur, sifat ladak lirih, menjahui  watak adigang, adigung, adiguna, serta bertanggujawab mengemban tugas sebagai kesatriya yang taat sumpah janji. Sifat dan tingkahlaku Sumantri tak beda jauh dari ayahnya. ( Begawan Suwandagni ).

Bambang Sumantri

” Sumantri, kau sudah dewasa, tiba saatnya pisah dengan Ayah. Mengabdilah kau  kepada Prabu Harjuna Sasrabahu, raja  negara Maespati. Sampaikan salamku, dan aturkan pula Senjata Cakra miliknya, yang kami pinjam beberapa waktu  lalu” jelas Suwandagni.

Syahdan, Sumantri berangkat ke Maespati menghadap Harjuna Sasrabahu. Ia menyampaikan maksud hati,  tak lain ingin mengabdi kepada Prabu Harjuna Sasrabahu.

Bambang Sukasrana, adik kinasih Bambang Sumantri.

” Sumantri, pengabdianmu akan saya terima jika kau dapat memenuhi dua persyaratan.

Pertama, Sumantri dapat memenangkan sayembara negara Magada, menyerahkan putri boyongn Dewi Citrawati, serta putri domas kepadaku.

Kedua, Sumantri mampu memboyong Taman Sriwedari ke Taman Keputren negara Maespati ” ujar Prabu Harjuna Sasrabahu.

Sumantri bersedia memenuhi persyaratan tersebut.

Atas kesaktian Sumantri serta bantuan Sukasrana ( Adik Sumantri ), semua persyaratan dapat dipenuhi.

Ternyata pengabdian Sumantri membutuhkan perjuangan, kesabaran, serta keuletan.

Ia harus berperanng dengan para raja sakti peserta  sayembara negara Magada.

Dengan kesaktian senjata Cakra, semua musuh dapat ditaklukkan. Tak hanya itu, Sumantri terpaksa harus berpisah dengan adik tercinta Sukasrana, yang mendahului ke alam baka.

Sumantri manusia biasa, tak luput dari kilaf. Ia ingin mengetahi dan menjajaki  kesaktian Prabu Harjuna Sasrabahu, sebagai calon ratu gustinya, dengan cara tidak akan menyerahkan Dewi Citrawati  kepada Sang Prabu, sebelum dapat mengalahkan Bambang Sumantri.

baca juga:  Menuju PPKM Level 2, Kabupaten Sragen Tunggu Wonogiri & Sukoharjo

Mengetahui hal tersebut, Prabu Harjuna Sasrabahu marah, terjadi perang tanding.

Ketika melihat Sumantri mengacungkan senjata Cakra, Prabu Harjuna Sasrabahu  tiwikrama, berubah wujud raksasa sebesar gunung Anakan. Senjata Cokro miliknya diuntal masuk perut. Sumantri diinjak tak berdaya, bagai benang basah.

Akhirnya Sumantri menyerah, serta minta maaf atas tindakannya. Saat itu pula Dewi Citrawati serta putri domas diserahkan kepada Prabu Harjuna Sasrabahu.

Karena semua persyaratan telah dipenuhi oleh Bambang Sumantri, maka saat itu pula pengabdian Bambang Sumantri diterima, sekaligus diangkat sebagai patih di negara Maespati, jejuluk Patih Suwanda, mendampingi Prabu Harjuna Sasrabahu.

Prabu Harjuna Sasrabahu bersama Patih Suwanda, dibilang pasangan yang serasi, tegas bijaksana, disegani para raja manca negara.

Negara Maespati menjadi negara kondhang, subur makmur gemah ripah loh jinawi, tercipta manunggaling kawula gusti. Masyarakat hidup berdampingan, guyup rukun, saling tolong menolong, jauh dari rasa iri, dengki, serta saling fitnah.

Sikap kenegarawanan Prabu Harjuna Sasrabahu – Patih Suwondo dapat menginspirasi para punggawa praja, utamanya para prajurit, serta masyarakat Maespati.

Perilaku baik kedua tokoh tersebut, dimuat dalam SERAT TRIPAMA oleh KGPAA Mangku Negara IV, dalam  tembang macapat Dhandhanggula.

Serat Tripama  menceritakan 3 tokoh pewayangan, yaitu Bambang Sumantri ( Suwanda ) dari Maespati.

Kedua, Raden Kumbakarna dari Kasatriyan Pangleburgangsa, Ngalengkadiraja.

Ketiga, Suryaputra ( Adipati Karna ) dari Ngawangga, Ngastina.

Syair Serat Tripomo dalam tembang Macapat Dhandhanggula sbb.

 

Yogyanira kang para prajurit

Lamun bisa samya anuladha

Kadya nguni caritane

Andelira Sang Prabu

Sasrabahu ing Maespati

Aran patih Suwanda

Lelabuhanipun

Kangginelung tri prakara

Guna kaya purune kang den antepi

Nuhani trah utama

Wonten malih tulada prayagi

Satriya gung nagari Ngalengka

baca juga:  Ratusan Biker Trabas Ramaikan Blora Extrem #3

Sang Kumbakarna namane

Tur iku warna diyu

Suprandene nggayuh utami

Duk awit prang Ngalengka

Dennya darbe atur

Mring raka amrih raharja

Dasamuka tan kengguh ing  atur yekti

Demung mungsuh wanara

Yogya malih kinarya palupi

Suryaputra Narpati Ngawangga

Lan Pandawa tur kadange

Lyan yayah tunggil ibu

Suwita mring Sri Kurupati

Aneng nagri Ngastina

Kinarya gul – agul

Manggala golonganing prang

Bratayuda ingadeken senapati

Ngalaga ing kurawa.

Pesan

Serat Tripomo memuat ajaran moral, sebagai teladan para generasi penerus.( SK 019 )

Bagikan ke:

1 thought on “Kisah Bambang Sumantri

  1. Unquestgionably believe that that you stated. Your faqvorite
    justification appeared to be on the web the simplest thing to consider
    of. I say to you, I certainly geet annoyed while fopks think about
    worriies that they just don’t recognize about. You managed to
    hit the nail upon the top and defined out the whole
    thing with no need side-effects , other fklks could take
    a signal. Will probaqbly be agasin to get more. Thanks

    My boog post; Vavada.Widezone.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *