Wonogiri-Inspirasiline.com. Raden Barata, adalah salah seorang adik tiri Raden Ramawijaya, satu ayah lain ibu dalam cerita Ramayana.
Sebenarnya, Barata yang diharapkan ibunya untuk menggantikan kedudukan Prabu Dasarata sebagai Raja Ayodya.
Untuk mencapai harapannya, Dewi Kekayi, ibu Barata itu sampai hati menghasut Prabu Dasarata, agar membuang Ramawijaya dan istrinya (Dewi Sinta) ke Hutan Dandaka agar tidak menjadi penghalang niatnya. Prabu Dasarata terpaksa menuruti kehendak Dewi Kekayi, walaupun dengan hati sedih, dan pilu ; karena raja Ayodya itu telah terlanjur berjanji akan mengabulkan segala permintaan Dewi Kekayi.
Kepergian Rama dan Sinta untuk menjalani hidup sebagai seorang buangan disertai oleh Laksamana, adik tirinya yang lain lagi.


Barata yang tidak menyetujui niat ibunya, tidak bersedia naik tahta, bahkan kemudian pergi meninggalkan kerajaan dan menyusul ke hutan mencari Ramawijaya. Setelah bertemu dengan kakak tirinya itu, Barata minta agar Rama kembali ke Ayodya dan mau menjadi raja. Namun Rama menolak, bahkan menganjurkan Barata agar mau menjadi raja sebagai wakil Ramawijaya, karena tahta Kerajaan Ayodya tidak boleh terlalu lama dibiarkan kosong.
Ramawijaya bahkan memberi berbagai petuah serta ajaran HASTABRATA, yang berisi delapan pedoman bagaimana menjadi raja yang baik, yang dapat memerintah dengan bijaksana.
Anjuran Ramawijaya itu akhirnya diterima baik oleh Barata. Sebagai bukti bahwa ia hanya menjadi raja pengganti sementara. Barata minta agar Ramawijaya memberikan sepatu terompahnya. Sesudah menerima wejangan Hastabrata, Barata kembali pulang ke Ayodya.
Di istana Ayodya, Barata menempatkan sepatu terompah Ramawijaya di atas singgasana, sedangkan ia sendiri duduk di kursi lain. Setelah Ramawijaya kembali dari pengasingan 13 tahun kemudian, sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka setujui, Barata menyerahkan kekuasaan atas Ayodya kepada kakak sekandung itu.
Jadi, selama Ramawijaya menjalani masa pengasingan, Barata hanya bertindak sebagai ‘ pejabat ‘ atau care taker. Meskipun demikian, Barata menjalankan tugas itu dengan baik.
HASTABRATA
Adalah delapan sifat kepemimpinan yang ideal diam bil dari unsur – unsur alam seperti bumi, matahari, api, samudra, langit, angin’ bulan, dan bintang.
Setiap unsur alam mewakili karakteristik sifat ideal dari seorang pemimpin.
Berikut uraian tentang setiap sifat kepemimpinan HASTABRATA.
Bumi, Pemimpin haruslah seperti bumi, yaitu memberikan sandaran dan kebutuhan dasar bagi rakyatnya, serta kokoh dalam melindungi.
Matahari. Pemimpin haruslah seperti matahari, yaitu memberi semangat dan daya hidup kepada rakyatnya serta mampu memberikan inspirasi.
Api. Pemimpin haruslah seperti api, yaitu tegas dan adil dalam menegakkan kebenaran, serta tidak ragu dalam mengambil keputusan.
Samudra. Pemimpin haruslah seperti samudra, yaitu luas cakrawalanya, dapat menerima berbagai perbedaan, dan tidak membedakan golongan.
Langit. Pemimpin hendaknya seperti langit, yaitu lapang mampu menampung berbagai masalah, dan tidak membedakan suku, agama, ras dan golongan.
Angin. Pemimpin haruslah seperti angin, yaitu cermat, teliti, dan mampu mengetahui keadaan sebenarnya di lapangan.
Bulan. Pemimpin harus seperti bulan, yaitu tenang, berseri – seri,dan dapat memberikan kedamaian kepada rakyatnya.
Bintang. Pemimpin haruslah seperti bintang, yaitu memberi petunjuk, arahan, dan bimbingan kepada rakyatnya.
Dengan memahami dan mengaplikasikan HASTABRATA, diharapkan pemimpin dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik dan membawa kemajuan bagi bangsa dan negara. (SK/19. Sumber, Ensiklopedi Wayang Indonesia )
