Grobogan-Inspirasiline.com. Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi terus mendorong peningkatan pendapatan perusahaan dari sektor penjualan kayu hasil produksi. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui optimalisasi kegiatan operasional di Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Sambirejo pada Rabu (25/6/2025) yang menjadi pusat aktivitas distribusi dan penjualan kayu di wilayah KPH Purwodadi.
TPK Sambirejo berperan sebagai simpul penting dalam rantai distribusi hasil hutan kayu. Di lokasi ini, kayu hasil tebangan dari lapangan menjalani serangkaian proses mulai dari pengujian mutu, pengaplingan (pengelompokan dan pengukuran berdasarkan kualitas dan volume), hingga pemasaran atau penjualan. Seluruh proses dilakukan secara tertib dan sesuai dengan standar tata usaha kayu yang ditetapkan Perum Perhutani.

Untuk tahun 2025, target produksi TPK Sambirejo mencapai 6.717,094 meter kubik kayu, yang terdiri dari 6.027,561 m³ kayu jati dan 689,533 m³ kayu rimba. Hingga bulan Juni 2024, TPK Sambirejo telah berhasil menjual sebanyak 4.403,769 m³ kayu, sebuah prestasi membanggakan yang menunjukkan tingginya produktivitas dan efektivitas kerja tim di lapangan, serta besarnya minat pasar terhadap kayu produksi Perhutani.
TPK Sambirejo juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Hingga saat ini, sebanyak 47 tenaga kerja lokal terlibat aktif dalam kegiatan operasional harian, mulai dari bongkar muat, pengaplingan, hingga penataan kayu. Penyerapan tenaga kerja ini menjadi bentuk nyata komitmen Perhutani dalam memberdayakan masyarakat desa hutan dan mendukung ekonomi lokal secara langsung.
Administratur KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, menyampaikan bahwa optimalisasi TPK bukan hanya penting untuk kelancaran proses bisnis, tetapi juga sebagai indikator tata kelola hutan yang baik dan bertanggung jawab.
“KPH Purwodadi memiliki dua Tempat Penimbunan Kayu, yaitu TPK Sambirejo dan TPK Wirosari, yang keduanya berperan penting dalam mendukung kelancaran distribusi dan pemasaran hasil produksi. TPK Sambirejo telah menunjukkan kinerja sangat baik dengan capaian penjualan yang membanggakan hingga pertengahan tahun ini. Kami pastikan seluruh proses di TPK dijalankan secara transparan, akuntabel, dan memberikan kontribusi maksimal terhadap pendapatan perusahaan serta kesejahteraan masyarakat sekitar,” jelas Untoro.
Sementara itu, salah satu tenaga kerja lokal yang telah bekerja di TPK Sambirejo sejak 2023, Sutrisno, mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari kegiatan di TPK.
“Kami dari masyarakat sekitar sangat terbantu. Selain bisa bekerja dekat dengan rumah, kami juga jadi tahu cara kerja industri kayu yang benar. Kami harap kegiatan ini terus berlanjut dan jumlah tenaga kerja bisa bertambah,” ujarnya.
Kegiatan di TPK seperti ini menjadi bukti bahwa pengelolaan hutan yang produktif dan lestari tidak hanya soal hasil kayu semata, tetapi juga menyangkut aspek sosial, ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan. Perhutani terus berkomitmen untuk menjalankan tata kelola kehutanan yang inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. (jk/Aris).
