Pamenthanging Gendhewa, Pamanthenging Cipta

NEWS

Wonogiri-Inspirasiline.com. Ribuan anak panah meluncur susul menyusul dari kendheng gendhewa  menuju arah lesan oleh para pemanah. Jangan salah tebak, ini bukan peristiwa perang Baratayudha di tegal Kuru Setro. Bukan,…sekali lagi bukan perang Baratayudha dalam cerita Karno tanding-Arjuno.

Kegiatan ini merupakan gladen jemparingan bersama (latihan panahan bersama) yang diikuti 42 pemanah pa/pi se – Kabupaten Wonogiri, bertempat di ” Sasana Jemparingan Al Jawi ” , Desa Baturetno, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri.( 20/7/2025 ).

Ketua bersama pengurus Jemparingan Baturetno

Pengurus jemparingan, Dedy Yunanta menjelaskan, kegiatan gladi bersama ulah jemparingan ini digelar secara bergilir, dan berpindah lokasi, dilaksanakan setiap ”  selapan dina ” sekali.

Menurut Dedy, kegiatan jemparingan bertujuan untuk menciptakan kebugaran fisik, mengasah keterampilan, dan menciptakan ketenangan jiwa, sesuai slogan ” Pamenthanging Gendhewa, Pamanthengin Cipta “.

Ketika inspirasiline.com datang di tempat latihan, para peserta telah siap di lapangan panahan Sasana Al Jawi. Mereka mengenakan pakaian kejawen lengkap, gaya Surakarta, Jogjakarta, Ponoragan, ada pula yang berkostum olah raga. Masing – masing siap dengan gendhewa, lengkap dengan anak panah yang bentuk, warna cat, dan modelnya beragam.

Peserta jemparingan

Menurut informasi, gendhewa lengkap dengan anak panah dibeli di Solo seharga  dua juta, sampai lima juta, bahkan ada yang lebih mahal lagi (tergantung model dan bahannya).

Model Tradisional

Jemparingan yang kali ini diperagakan adalah model jemparingan tradisional, dengan aturan permainan masing – masing peserta memanah 80 kali secara bergilir. Jarak pemanah dengan lesan (sasaran panah) 30 m.

Peserta disyaratkan memanah  atau membidik dalam posisi duduk bersila, membidik lesan berbentuk seperti tubuh manusia, yang digantung dan diikat dengan kawat. Ukuran lesan sebesar lengan, dibagi tiga bagian, polo ( kepala ), jonggo (gulu/ leher) dan awak (badan) .

Juara titis jemparing bersama Dedy Yunanta.

Anak panah yang berhasil menancap polo mendapat nilai 3,  Jonggo (2) awak (1). Sedangkan anak panah yang mengenai wadidang ( dubur/ anus ) didenda menurut kesepakatan.

Selesai memanah, secara bersama – sama para pemanah mengambil jemparing masing – masing di papan lesan.

Pada kegiatan jemparingan ini, kepada pemanah yang busur panahnya menancap di lesan disediakan hadiah berupa telur ayam, roti, makanan ringan, minuman mineral, kopi, dsb.

Kepada  3 peraih nilai tertinggi diberikan hadiah berupa bingkisan tertutup dalam kardus.

Generasi Penerus

Dedy Yunanta menerangkan, kegiatan jemparingan atau panahan di Baturetno telah ada sejak dahulu. Setelah para pendahulu tidak ada, kemudian dilanjutkan oleh generasi Penerus dengan nama ” Jemparingan Al Jawi “

Kegiatan jemparingan di Kec.Baturetno ada beberapa kelompok tingkatan ; anak – anak ( pemula ), remaja, dan kelompok sepuh dipimpin Dedy Yunanta, Amrul Arafat. Sedangkan untuk tingkat anak dan remaja dipimpin Pak Jamari, dan Mas Dono.

Menurut Jamhari, panahan anak dan remaja bertujuan untuk ; menanamkan hal spiritual, kemanusiaan, dan mengembangkan daya cipta (mencipta)

Kini Baturetno khususnya, dan Kab.Wonohiri umumnya memiliki pemanah tingkat anak – anak, remaja, dan umum, jumlahnya lumayan banyak.

Pemanah dari kota sate ini sering mengikuti kejuaraan panahan/ jemparingan, baik tingkat lokal, kabupaten, provinsi, bahkan nasional, yang hasilnya cukup menggembirakan. (SK / 19)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *