Tegal-Inspirasiline.com. Pagi cerah di tanggal 26 November 2025 menjadi momen yang tak terlupakan bagi jajaran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan khususnya bagi para guru di Desa Mejasem Barat, Tegal. Hari Ulang Tahun PGRI sekaligus peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun ini terasa begitu istimewa, dipenuhi dengan kehangatan dan rasa syukur yang mendalam. Di sejumlah Sekolah Dasar (SD) di desa ini, suasana haru biru menyelimuti, ditandai dengan silaturahmi yang erat antara guru dan murid.
Di SD Mejasem Barat 1, keceriaan terpancar jelas dari wajah para guru saat menerima ucapan selamat, rangkaian bunga, dan hadiah-hadiah kecil dari murid-murid tercinta. Tak hanya itu, wali murid pun turut hadir, memenuhi sekolah untuk memberikan ucapan selamat dan ungkapan terima kasih atas dedikasi para guru. Kedatangan mereka bukan hanya sekadar basa-basi, melainkan sebuah bentuk apresiasi tulus. Ada yang membawa bingkisan berisi barang, ada pula yang membawa jajanan yang dikemas rapi, semuanya sebagai simbol rasa terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan guru dalam mendidik, membentuk karakter, dan menanamkan nilai-nilai luhur bagi generasi penerus bangsa.

Momen haru itu semakin terasa ketika linangan air mata tak mampu lagi dibendung oleh Suratman, sang Kepala Sekolah. Ia terharu melihat semangat dan ketulusan para wali murid yang datang bukan untuk mengeluh, melainkan untuk memberikan dukungan dan ucapan selamat kepada para guru. Bagi Suratman, hari guru nasional bukan hanya sekadar perayaan, melainkan momen refleksi atas perjuangan dan pengabdian yang selama ini telah mereka lakukan.
Suratman, sosok yang sangat dekat dengan murid dan wali murid, telah menjadi motor penggerak transformasi di SD Mejasem Barat 1. Empat tahun lalu, ketika ia pertama kali ditugaskan untuk memimpin sekolah ini, kondisi SD tersebut sangat memprihatinkan. Jumlah murid yang sedikit dan bangunan yang mulai rusak mengancam eksistensi sekolah, bahkan sempat berencana untuk digabung dengan SD terdekat. Namun, dengan semangat membara dan keyakinan yang kuat, Suratman menerima amanah untuk membenahi sekolah yang terletak di Jalan Semanggi v, Mejasem Barat.
“Awalnya saya bingung melihat kondisi sekolah yang muridnya sedikit, bangunannya juga banyak yang rusak, apalagi pagar sekolah,” kenang Suratman, yang juga seorang guru penari.
Tanpa ragu, Suratman langsung berkoordinasi dengan para guru untuk merencanakan perbaikan. Dengan dana terbatas, ia bahkan rela mengeluarkan uang pribadinya untuk membangun pagar sekolah. “Bagaimana mungkin orang tertarik kalau kondisinya saja berantakan? Makanya saya benahi sedikit demi sedikit, wajah sekolah yang awalnya terlihat kusam saya percantik biar warga melirik dan akhirnya tertarik,” jelas Suratman.

Usaha keras Suratman dan para guru membuahkan hasil yang luar biasa. Masyarakat Mejasem Barat, yang sebagian besar berpendidikan dan cenderung menyekolahkan anak-anaknya ke kota, kini mulai melirik kembali SD di desanya. Kualitas guru yang meningkat, fisik sekolah yang dipercantik, serta berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang menarik menjadi daya tarik utama. Kini, SD Mejasem Barat 1 menjadi kebanggaan warga.
Prestasi demi prestasi diraih sejak Suratman memimpin. Unit drum band sekolah bahkan berhasil meraih juara tingkat nasional dalam kejuaraan Peraturan Baris Berbaris (PBB) dan Polisi Cilik. Puluhan piala terpajang di etalase sekolah, menjadi bukti nyata semangat para guru dalam membina dan mengembangkan potensi siswa di bidang olahraga, seni, maupun akademik.
SD Mejasem Barat 1 kini bertransformasi menjadi sekolah yang maju dan berprestasi. Bangunan sekolah yang bagus, jumlah murid yang terus bertambah, dan bahkan pembangunan panggung atau stage untuk kegiatan seni dan pentas menjadi bukti nyata kemajuan yang telah dicapai. Meskipun demikian, semangat Suratman dan para guru belum pudar. Mereka terus berupaya untuk meningkatkan kualitas sekolah, termasuk pengajuan proposal ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupateen Tegal. (Biet)
