M u s p r o

NGASO

MENJABAT sebagai pimpinan selain dihormati juga prestasi dan reputasi. Namun juga  harus legowo menerima saran dan kritik agar kepemimpinannya lurus. Dikenang setelah purna tugas. Tidak sebaliknya. Dikecam dan tidak tersanjung setelah lengser dari jabatan.

-“ Jadi pemimpin itu abot ya,”

+” Makane lebih bebas jadi wong biasa,”

-“ Dulu. Yang namanya pemimpin itu ditunjuk masyarakat. Digadang-gadang. Malah yang ditunjuk kadang menolak,”

+” Itu namanya rendah hati. Ndak ambisi,”

-“ Sekarang ini jadi pemimpin kok malah cari massa. Berusaha bagaimana caranya dipilih untuk mimpin,”

+” Itu namanya ambisius,”

-“ Seperti capres itu. Berapa berat mengumpulkan massa agar terpilih. Berapa duit digelontorkan mempengaruhi agar mandapat suara banyak,”

+” Jaman kan sudah berganti,”

-“ Padahal. Jadi pemimpin sekarang. Apalagi presiden. Sangat berat tentangannya,”

+” Namanya mimpin negara ya harus tanggung jawab. Itu amanah rakyat,”

-“ Seperti presiden-presiden lalu. Ada yang plus-minusnya. Rakyat yang menilai setelah presiden berganti,”

+” Proses mengisi sejarag negara dan bangsa itu tergantung siapa yang jadi presiden,”

-“ Sampai presiden ke 6, dinamika negara RI beraneka masalah. Tidak ada gejolak politik yang bikin bangsa terpecah dan terbelah,”

+” Ya pasti ada tapi ndak membahayakann banget,”

-“ Lumrah nek pas kampanye ada kekuatan pendukung yang pro dan kontra,”

+” Tapi setelah itu kan selesai,”

-“ Tapi dengan presiden ke 7, Jokowi. Ini kayaknya kok dihebohkan,”

+” Itu kan yang bikin heboh. Wong sudah lengser,”

-“ Ndak gitu. Dari sekian mantan presiden itu hidupnya ayem, tentrem, merdeka, masih kajen, setelah diistirahatkan,”

+” Maksudmu, bagaimana dengan Jokowi,”

-“ Itulah. Kok ndak sebanding. Saat dia meninggalkan istana, dalam perjalanan pulang dielu-elukan rakay. Disambut gembira dan duka cita karena merasa kehilangan pemimpin yang dihormati dan disanjung.”

+” Sekarang pun masih banyak yang menghormati dan  menyanjung. Dari pemilihnya yang lebih dari separo rakyat Indonesia yang memilihnya,”

-“ Mungkain dari yang kurang dari separo yang ndak memilih itu yang tidak puas dengan kepemimpinannya, ya,”

+” Namanya politik kan bisa berubah. Bisa jadi kawan, dan sebaliknya,”

-“ Kemungkinan nek ndak ada yang ngutak-atik ijazah, Jokowi masih moncer namanya,”

+” Sekarang apa enggak,”

-“ Itu. Di media. Ijazah Jokowi kok masih heboh. Lebih banyak dibicarakan daripada program Prabowo yang berjalan,”

+” Sebenarnya ngapapain sih. Wong Jokowi sudah ndak jadi presiden kok ijazahnya diungkat-ungkit. Mau diapakan,”

-“ Ya tanya sama Roy Suryo sama grupnya,”

+” Kok kurang kerjaan saja,”

-“ Sak jane sepele kok,”

+” Sepele yang piye. Nyatanya terus rame dihebohkan. Malah masuk kepolian baranag. Masuk pengadilan. Jadi pertarungan antar pengacara. Jadi rakyat pro-kontra,”

-“ Sepelenya. Mbok ijazahnya ditunjukkan. Baik di  media. Apa ke yang nuduh. Kan selesai,”

+” Sekarang dibahas sederhana saja. Kurang apa Jokowi mengisi sejarah. Bikin jalan tol ribuan km. Bikin bendungan. Bikin  proyek untuk rakyat. Ada yang menggratiskan untuk kepentingan rakyat. Ada subsidi untuk kebutuhan masyarakat. Bikin kereta cepat dan IKN yang nentinya jadi kebanggaan negara,”

-“ Jadi kepala negara memang harus punya program dan catatan sejarah untuk generasi masa depan,”

+” Kenapa yang sederhana, soal ijazah kok diperdebatkan. Tanpa ijazahpun Jokowi mampu menyelesaikan tugas negara. Ndak muspro,”

-“ Ya jadi muspro karena ijazahnya itu dipersoalkan. Bener apa ndak,”

+ “ Ndak sesederhana itu,”

-“ Ndak sesederhana itu sing piye. Nyatanya penggugat masih mendesak agar ijazahnya ditunjukkan yang katanya palsu. Simpel to,”

+” Nyatane kan ndak gitu. Jokowi masih kekeh mau dibuka di pengadilan. Di depan hakim,”

-“ Bedanya apa. Ditunjukkan hakim sama ditunjuukan ke publik,”

+” Ya tanya sama pengacaranya. Apa sama jokowi sendiri,”

-“ Kan ndadak lewat pengacaranya barang. Jokowi ndadak keluar uang berapa saja nyewa pengacara,”

+” Nek ndak ngerti sama urusannya ndak usah komen,”

-“  Wong tinggal ngundang wartawan sambil makan-makan di restoran sambil ketawa-ketawa gembira, ijazahnya ditunjukkan. Suruh motret, selesai. Kok bikin rumit,”

+” Maido gampang,”

-“ Lagi pula, pemerintah, apalagi Presiden Prabowo kok ketoke diem. Ndak ada respon. Seperti dijarke,”

+” Ya tanya dewe sama sekretaris negara. Apa kirim surat, apa telpon sendiri ke Prabowo,”

-“ Mbuh,”

                                                                                                                                                                                          – Hari Bustaman.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *