​Menggugah Jiwa di Malam Satu Suro: Ritual Nyiwer, Simbol Cahaya dan Syukur Masyarakat Guci

NEWS

Tegal-Inspirasiline.com. Malam Satu Suro di Desa Wisata Guci bukan sekadar pergantian kalender Hijriah. Bagi masyarakat setempat, ini adalah momen sakral “Ruwat Bumi” yang memadukan napak tilas sejarah, doa bersama, dan pesan filosofis tentang kehidupan. Puncak dari rangkaian ritual ini adalah tradisi Nyiwer, sebuah pawai obor penuh hikmat yang menyatukan seluruh elemen masyarakat dan wisatawan dalam satu barisan doa.

​Simfoni Doa di Makam Leluhur
​Rangkaian acara dimulai sejak bada Ashar dengan pembacaan Khotmil Quran di makam sesepuh Desa Guci, Mbah Kyai Klitik Raden Aryo Wirodamar. Suasana khusyuk semakin terasa saat prosesi Wiji Tirto Suci dilaksanakan. Air dari berbagai sumber mata air di Guci, dipadukan dengan air suci dari Keraton Kanoman, Makam Sunan Gunung Jati, hingga puncak Gunung Slamet, disatukan dalam satu wadah. Air ini menjadi simbol keberkahan yang akan didoakan melalui istighosah, tahlil, dan zikir bersama.

​Nyiwer: Cahaya dalam Gelap, Urip Iku Urup
​Saat malam semakin pekat, tetua adat Mbah Sobirin memimpin masyarakat dari empat pedukuhan—Pring, Sudi Mampir, Tengah, dan Kaliengang—untuk menyalakan obor pertama. Inilah dimulainya tradisi Nyiwer.

​Berjalan kaki mengelilingi desa dengan membawa obor, masyarakat tidak sekadar berpawai. Obor dimaknai sebagai pepadang (penerang) bagi jalan hidup manusia agar lebih terarah, sesuai dengan falsafah Jawa, Urip Iku Urup (hidup itu harus memberi manfaat/menjadi cahaya bagi sesama).

​”Tradisi Nyiwer bukan sekadar pawai obor. Ini adalah upaya tolak bala dan pengingat bahwa manusia harus selalu berada di jalan yang terang dengan zikir dan sholawat,” ujar Mbah Sobirin.

​Sakralitas dan Filosofi Larung Air
​Selama prosesi, para peserta diwajibkan menjaga kesakralan dengan tidak bercanda dan menjaga perilaku. Salah satu momen paling dinanti adalah Adzan 7, di mana tujuh orang mengumandangkan adzan secara bersamaan di pertigaan maupun perempatan jalan ke segala penjuru. Ini adalah panggilan keras bagi manusia agar selalu ingat akan takwa kepada Sang Pencipta.

​Prosesi diakhiri dengan ritual larung air suci yang dicampur dengan bunga tujuh rupa ke beberapa titik mata air, seperti Pancuran 13 dan Pancuran 5. Menurut Beni, salah satu tokoh masyarakat Guci, pelarungan ini adalah bentuk syukur dan permohonan maaf kepada alam.

​”Kita memberikan penghargaan kepada air yang telah menghidupi kita. Seringkali manusia hanya mengambil manfaat air tapi abai menjaga kebersihannya. Melalui doa ini, kita diingatkan kembali untuk menghargai anugerah Tuhan,” jelasnya.

​Menjaga Warisan, Memupuk Kebersamaan
​Tradisi Nyiwer kini terbuka bagi siapa saja, termasuk wisatawan yang ingin merasakan langsung magisnya ritual turun-temurun ini. Bagi masyarakat Guci, melestarikan tradisi ini adalah kewajiban sebagai anak cucu yang memegang teguh dawuh (titah) para leluhur.

​Di tengah gempuran modernitas, Desa Guci membuktikan bahwa kearifan lokal tetap mampu berdiri kokoh. Nyiwer bukan hanya tentang obor yang menyala, melainkan tentang api semangat yang tetap terjaga dalam diri masyarakat untuk terus menjaga alam dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik. ​Kontak Media. (Abiet Sabariang )

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *