SRAGEN (inspirasiline.com) Berawal dari terhentinya rencana keberangkatan kerja akibat pandemi Covid-19 pada 2020, Mohamad Yanuar Rifa’i, 33, justru menemukan peluang usaha di bidang peternakan. Dari awal hanya memelihara 5–10 Ekor Kambing, kini ia bersama istrinya mengembangkan peternakan kambing perah sekaligus mengolah susunya menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Yanuar mengelola usaha Almahyra Farm di Dukuh Bende RT 08/RW 03, Desa Purworejo, Kecamatan Gemolong. Ketertarikannya pada kambing perah muncul saat pandemi, ketika susu kambing banyak dicari masyarakat sebagai salah satu alternatif minuman untuk menjaga kesehatan.
“Saya sebenarnya seorang engineer dan saat itu akan berangkat kerja ke Maluku. Karena pandemi, keberangkatan terkendala dan harus berada di rumah lebih dari satu tahun. Lingkungan kemudian memotivasi saya untuk beternak karena tinggal di desa,” ujar Yanuar kepada Tim Liputan Diskominfo Sragen, Senin (14/9/2026).
Yanuar kemudian mulai mengembangkan kambing perah. Selama sekitar empat tahun, susu hasil peternakannya dipasok ke pabrik untuk diolah menjadi susu bubuk. Namun, seiring menurunnya permintaan, ia mulai mengembangkan produk sendiri.
Dari situlah lahir produk Alma Dairy, berupa susu kambing pasteurisasi dengan berbagai pilihan rasa serta yogurt.
“Kami belajar bagaimana menjaga dan memproses susu dengan baik dan benar. Akhirnya kami memilih mengolah susu produksi kandang sendiri menjadi produk susu pasteurisasi,” jelasnya.
Saat ini Alma Dairy memproduksi susu pasteurisasi rasa original, stroberi, mangga, matcha, taro, dan cokelat. Selain itu, tersedia yogurt original serta varian stroberi, mangga, leci, dan blueberry.
Proses pengolahan dilakukan menggunakan mesin pasteurisasi khusus dengan sistem double jacket dan pendingin otomatis. Penanganan susu mulai dari pemerahan hingga pengemasan juga dilakukan dengan memperhatikan kebersihan dan higienitas.
Yanuar menyebut, kualitas susu sangat ditentukan sejak dari kandang. Almahyra Farm memilih mengembangkan kambing jenis Sapera (Saanen Peranakan) dan memproduksi sendiri pakan ternak dengan merek Sragen Feed.
“Kami kelola dari hulu sampai hilir. Mulai dari bangsa kambing, pakan, pemerahan sampai pengolahan susu. Dengan begitu rasa dan kualitas bisa lebih terjamin,” katanya.
Upaya tersebut sekaligus dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran konsumen terhadap aroma khas susu kambing. Produk kemudian dikemas dengan tampilan menarik agar susu kambing tidak hanya identik dengan konsumsi orang tua, tetapi juga dapat diterima anak-anak hingga lansia.
Untuk anak-anak, varian cokelat dan stroberi menjadi yang paling diminati. Sementara konsumen usia lebih dewasa cenderung memilih rasa mangga maupun original.
“Intinya kami ingin mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup sehat dengan mengonsumsi susu setiap hari,” ujarnya.
Kini Almahyra Farm memiliki sekitar 60 ekor kambing, dengan 20 induk laktasi yang menghasilkan sekitar 30–35 liter susu per hari. Usaha tersebut masih berskala UMKM dan melibatkan lima orang, terdiri atas tiga orang di kandang serta dua orang di bagian produksi.
Produk Alma Dairy telah dipasarkan ke sejumlah wilayah, mulai dari Kabupaten Sragen, Soloraya, Pantura hingga Semarang. Omzet yang diperoleh saat ini berkisar Rp6 juta-Rp8 juta per bulan.
Selain susu dan yogurt, Yanuar juga mulai mengembangkan produk turunan berupa sabun natural berbahan susu kambing dan keju susu kambing.
Untuk memperluas pasar, ia bersama tim juga aktif berjualan secara langsung setiap Sabtu malam di kegiatan Car Free Night Gemolong, mulai pukul 17.00 hingga 22.00. Penjualan juga diperkuat melalui jaringan reseller.
Ke depan, Yanuar memiliki target mengembangkan kedai susu kambing dengan konsep menarik dan siap saji di Gemolong maupun wilayah Soloraya. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan dukungan modal yang cukup besar.
Di sisi lain, Yanuar tidak hanya mengembangkan usahanya sendiri. Ia tergabung dalam kelompok peternak di Desa Purworejo dan KTT Jaya. Pengembangan kambing perah di wilayah tersebut juga mendapat dukungan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), khususnya Program Studi Peternakan, sebagai lokasi riset dan pengembangan teknologi kambing perah sejak 2019.
Di Desa Purworejo sendiri terdapat sekitar 500 ekor kambing perah yang dikembangkan oleh empat kelompok, yakni KTT Jaya, KTT MBS, KTT Berkah Susu, dan KTT Desa Purworejo.
Yanuar berharap potensi tersebut dapat terus dikembangkan hingga Gemolong menjadi sentra susu kambing sekaligus kawasan eduwisata peternakan.
“Harapan kami Gemolong menjadi sentra susu kambing dan eduwisata. Pakan melimpah, lahan cukup luas, dan masyarakatnya masih banyak yang menjadi petani sehingga peternakan bisa menjadi usaha sambilan,” tuturnya.
Ia mengajak para peternak dan masyarakat untuk bersama-sama membangun ekosistem kambing perah di Gemolong.
“Mari bersama-sama kita wujudkan Gemolong sebagai sentra peternakan kambing perah dan penghasil susu kambing berkualitas. Semoga usaha kecil yang kita rintis hari ini dapat menjadi manfaat, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan membawa nama Gemolong semakin dikenal luas,” pungkasnya.
Pemesanan Alma Dairy:
WhatsApp: 0822-4230-1469 (Fajar Asmawati)
TikTok: Alma Dairy
Instagram: Alma Dairy
Facebook: Almahyra Farm
Sugimin/17. Release Diskominfo Sragen
