Dari Dapur Rumah, KOI Roti Nita Tembus Pasar Hingga Luar Negeri

NEWS

SRAGEN (inpirasiline.com) Aroma roti dan manisnya dessert menjadi bagian dari keseharian Nita Aprilliyanawati. Dari dapur rumah di sebuah gang di Kelurahan Sine, Sragen, perempuan 34 tahun itu membangun usaha kuliner KOI Salad – Dessert – Bakery yang kini melayani beragam pesanan, bahkan produknya pernah dikirim hingga Belanda dan dibawa pelanggan ke Thailand.

Bagi Nita, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dari ruang sederhana itu, ia menemukan cara untuk tetap produktif sebagai ibu rumah tangga sekaligus menghasilkan pendapatan.

Perjalanan usaha Nita bermula saat ia menjalankan toko sembako secara online. Namun, aktivitas mengangkat barang membuatnya harus berhenti sementara. Saat itu, ia belum mengetahui tengah hamil dan kemudian mengalami keguguran pada 2019.

Selama menjalani bedrest sekitar dua bulan, Nita mulai memikirkan usaha yang bisa dikerjakan dari rumah dan tidak terlalu menguras tenaga.

“Saat bedrest dua bulan, saya berpikir usaha apa yang tidak terlalu berat tetapi tetap bisa dilakukan di rumah. Kebetulan saya melihat teman jualan salad buah dan ternyata ramai. Saya kemudian minta diajari secara online,” ujar Nita, Selasa (22/9/2026).

Dari situlah Nita mulai membuat salad buah. Semua proses dikerjakan sendiri, mulai dari produksi, pengemasan hingga mengantarkan pesanan kepada pelanggan. Perlahan, salad buah buatannya mulai dikenal. Permintaan pelanggan pun berkembang hingga muncul produk pudding untuk berbagai acara, termasuk pudding ulang tahun.

“Kami selalu memberi hiasan buah segar dan menarik untuk acara. Kami menggunakan buah-buah pilihan dan tidak pelit topping supaya pelanggan puas,” katanya.

Pelanggan dapat memesan pudding sesuai tema, mulai bentuk, warna hingga dekorasi. Harganya berkisar Rp80 ribu hingga Rp350 ribu, tergantung ukuran dan permintaan.

Salah satu produk yang banyak diminati adalah pudding susu. Dengan harga sekitar Rp150 ribu, pelanggan mendapatkan pudding lengkap dengan satu botol fla, pisau, sendok dan lilin. Untuk membuat satu pudding, Nita membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam.

Produk Semakin Beragam

Seiring berkembangnya usaha, produk KOI kini tidak hanya salad buah dan pudding. Nita juga memproduksi beragam dessert dan bakery, seperti buko pandan, cheesecake, klapetaart, roti manis, brownies, bolen pisang, bagelan, bolu pisang, banana milk crispy hingga bolu gulung.

Produk tersebut melayani berbagai kebutuhan, mulai hajatan, arisan hingga bingkisan untuk menjenguk orang sakit. Pelanggannya pun semakin beragam, dari anak-anak, remaja dan ibu rumah tangga hingga pegawai instansi.

Dalam sehari, omzet KOI rata-rata mencapai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, meski jumlah tersebut bergantung pada banyaknya pesanan.

“Kalau sedang ramai sekali, Alhamdulillah bisa lebih dari itu,” tuturnya.

Perkembangan usaha juga membuat kapasitas produksi KOI meningkat. Nita bahkan pernah memasok roti untuk dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan produksi mencapai sekitar 2.000 hingga 5.000 roti dalam sepekan.

Dari yang semula mengerjakan seluruh proses seorang diri, kini Nita dibantu dua karyawan.

“Kalau dilihat dari awal buka dulu, sangat jauh perbedaannya. Peralatan produksi juga mulai diperbaiki. Kami mulai mantap mendisplay toko kecil kami meskipun di gang sempit di dalam kampung,” ungkapnya.

Produk Sampai Belanda dan Thailand

Meski masih diproduksi dari rumah di Sine, jangkauan produk KOI telah melampaui Sragen. Kue kering dan brownies KOI pernah dikirim ke Belanda melalui seorang pelanggan yang bekerja di sana. Pelanggan tersebut sebelumnya sering membeli produk KOI saat berada di Sragen dan kemudian meminta produk dikirim karena ingin menikmatinya bersama atasannya.

Produk KOI juga beberapa kali dibawa pelanggan ke Thailand sebagai buah tangan. Seorang pelanggan yang kuliah di Thailand bahkan rutin membeli bolen pisang ketika pulang ke Indonesia. Menurut pelanggan tersebut, bolen pisang KOI disukai dosen dan teman-temannya di Thailand.

Untuk pengiriman langsung, Nita saat ini masih fokus melayani wilayah Sragen, Solo dan Karanganyar. Pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp, Instagram dan TikTok. Produk KOI juga tersedia melalui Gojek, Grab dan ShopeeFood.

Tetap Tatag dan Titis

Menjalankan usaha selama bertahun-tahun membuat Nita memahami bahwa mempertahankan bisnis tidak selalu mudah. Pada 2026, ia mulai merasakan penurunan pesanan seiring bertambahnya pelaku usaha kuliner dan semakin ketatnya persaingan.

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti. Nita memilih terus berjualan, memperbarui produk dan aktif memanfaatkan media sosial untuk menarik pelanggan datang ke homestore miliknya. Menurut Nita, pelaku usaha harus memiliki sikap tatag dan titis.

Tatag dalam menghadapi pasar, kompetitor dan pelanggan dengan berbagai karakter. Sementara titis berarti mampu membaca perkembangan pasar, termasuk menentukan waktu menghadirkan produk baru dan meningkatkan kualitas.

“Tantangan terbesar harus tetap stay dan terlihat baik-baik saja dalam menjalani usaha ini, apalagi di hadapan karyawan. Owner harus selalu optimis di segala kondisi,” ujarnya.

Kini, Nita menjalankan KOI bersama suami dan dua karyawan. Baginya, perkembangan usaha tersebut menjadi bukti bahwa keinginan sederhana untuk tetap menghasilkan uang dari dapur rumah dapat berkembang menjadi usaha yang memberi manfaat bagi keluarga.

“Tekad saya menjadi ibu rumah tangga yang bisa menghasilkan uang dari rumah. Alhamdulillah sekarang saya punya dua karyawan. Awalnya semua saya kerjakan sendiri,” katanya.

Nita berharap UMKM di Sragen terus berkembang dengan persaingan yang sehat. Menurutnya, sesama pelaku usaha tidak harus saling menjatuhkan, tetapi dapat tetap berteman dan tumbuh bersama. (Sugimin/17- Release.Diskiminfo Sragen)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *