BLORA (inspirasiline.com) Langit senja di atas Goa Terawang Ecopark bergetar dalam nada kendang dan alunan saron. Sabtu (10/10/2026), sejarah kembali diukir. Pemkab Blora menyulap kawasan wisata alam itu menjadi panggung budaya paling mempesona melalui *Pagelaran 1000 Tayub, dalam gelaran Blora Culture Festival ke-3 Tahun 2026.
Bukan sekadar tarian, ini adalah denyut nadi peradaban. Ribuan mata terpaku, ratusan langkah kaki bergerak dalam satu irama kehormatan.

Hadir dalam kemegahan itu Bupati Blora Dr. H. Arif Rohman, S.IP., M.Si bersama Wakil Bupati, jajaran Forkopimda, Eva Monalisa Anggota DPR RI yang juga Ketua Umum Himpunan Penggerak Wisata Indonesia (HPWI), Niken Mayangsari Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Ketua DPRD Blora, perwakilan Universitas Sebelas Maret (UNS), Sekda dan para Asisten Sekda dan Kepala OPD, perwakilan SKK Migas, ExxonMobil Cepu Ltd. sebagai sponsor tunggal bersama Pertamina, para Camat se-Kabupaten Blora, serta yang membanggakan, hadir pula mahasiswa mancanegara yang tengah menempuh studi di STEM Akamigas Cepu.
Acara dibuka dengan sangat meriah melalui Tarian Barong khas Blora – simbol kekuatan, kewibawaan, dan penjaga marwah bumi.
Usai pembukaan, seluruh arena larut dalam Tarian Tayub Bersama. Kurang lebih 1000 penari dari sanggar-sanggar tari se-Blora, pelajar SMP, SMA, SMK, hingga masyarakat umum bergerak serempak. Selendang berkelebat, langkah kaki menghentak bumi, menghidupkan legenda yang tak pernah mati.

Salah satu penari, Silkha (20) dari Sanggar Tari Nareswari Blora, tak mampu menyembunyikan kebanggaannya.
“Saya sangat bangga bisa ikut pagelaran ke-3 ini. Ini bukan hanya menari, tapi ikut menjaga identitas Blora,” ujarnya kepada Inspirasiline.com.
Sambutan Bupati Blora: Menjaga Tayub, Menjaga Indonesia.
Dalam sambutannya yang tegas dan berjiwa kampus, Bupati Arif Rohman menyampaikan:
“Hadirin sekalian yang saya banggakan, Tayub bukan sekadar seni gerak. Tayub adalah filosofi. Di dalamnya ada nilai gotong royong, keselarasan, keanggunan, dan penghormatan kepada sesama. Inilah warisan leluhur yang telah melegenda di masyarakat Blora, yang harus kita jaga dengan kepala tegak dan dada membusung. Saya tegaskan hari ini, dari Goa Terawang ini: Pemerintah Kabupaten Blora berkomitmen penuh untuk melestarikan Seni Tayub. Jangan biarkan generasi kita tercerabut dari akarnya. Anak-anak sekolah, mahasiswa, sanggar-sanggar tari, harus menjadi garda terdepan pelestari budaya ini. Kita bangun Blora tidak hanya dengan infrastruktur dan migas, tapi dengan kebudayaan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai budayanya. Dan cinta budaya adalah wujud paling nyata dari patriotisme kita kepada Indonesia. Mari kita jaga Tayub. Mari kita jaga Blora. Untuk Jawa Tengah, untuk Indonesia Raya!”
Usai sambutan, Bupati Arif Rohman tidak hanya menyaksikan dari panggung kehormatan. Ia turun, larut, dan menari bersama seribu penari. Sebuah teladan pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyat dan kebudayaannya.
Blora Culture Festival ke-3 ini menjadi bukti, di tengah gempuran modernisasi, Blora tetap berdiri kokoh sebagai Kabupaten yang berbudaya, berpendidikan, dan patriotik. (jk)
