TEMANGGUNG (inspirasiline.com) Persatuan Penulis Indonesia SATUPENA Kabupaten Temanggung sukses menggelar Gebyar Ulang Tahun Ke-2 yang ditandai dengan peluncuran buku kumpulan cerita rakyat berjudul “Ki Panjang Emas”.
Acara yang berlangsung meriah di Aula SMPN 6 Temanggung pada Minggu, 18 Oktober 2026 ini dihadiri langsung oleh Bupati Temanggung, Agus Setyawan yang akrab disapa Agus Gondrong, bersama Bunda Literasi Kabupaten Temanggung, Panca Dewi Agus Setyawan.

Kehadiran mereka sekaligus meresmikan peluncuran buku antologi karya 17 penulis anggota SATUPENA tersebut, yang disusul dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas kiprah dua tahun SATUPENA di bumi Temanggung.
Bupati Agus Gondrong menyampaikan apresiasi yang luar biasa terhadap dedikasi para penulis lokal dalam merawat sejarah dan tradisi lisan melalui karya tulis.

Sejalan dengan hal itu, Ketua Satu Pena Kabupaten Temanggung, Wiwik Hartati, mengungkapkan bahwa kehadiran jajaran pemerintah daerah dan Bunda Literasi menjadi suntikan semangat tersendiri bagi ekosistem kepenulisan di Temanggung untuk terus melahirkan karya kreatif.
Wiwik menekankan pentingnya literasi dalam membentuk pola berpikir kritis, mendongkrak capaian akademik, menumbuhkan budaya pembelajar, serta memperluas wawasan global di dunia pendidikan.
Di sisi lain, ia juga menyebutkan bahwa belajar sastra memiliki andil besar dalam mengasah kecerdasan emosional, menjadi media ekspresi kreatif, melestarikan warisan kebudayaan, sekaligus mempertajam keterampilan berbahasa masyarakat.

Kemeriahan acara semakin memuncak saat Bupati dan Bunda Literasi disambut oleh pementasan teatrikal puisi bertajuk “Tangisan Perdana Ki Panjang Emas” yang dibawakan oleh Setyo Wulansari bersama Dengung Teater Temanggung dari Sanggar Teras Ngadirejo.
Gerakan teatrikal yang sangat piawai, penuh penjiwaan, dan dinamis berhasil memukau mata para penonton. Setiap jengki gerak tubuh dan ekspresi teatrikal yang ditampilkan mampu mengalirkan emosi cerita secara magis ke dalam sanubari hadirin.

Nuansa budaya kian kental melalui pertunjukan teatrikal tradisi Kirab Nganten Lurah Traji. Pertunjukan ini menggambarkan ritual sakral yang rutin digelar setiap tanggal 1 Sura di Sendang Sidukun, sebuah mata air keramat yang dipercaya masyarakat setempat sebagai simbol mata air kehidupan yang tidak pernah mati.
Ketua SATUPENA Provinsi Jawa Tengah, , yang turut hadir memberikan sambutan, menaruh harapan besar bagi kepengurusan di tingkat daerah. Ia menegaskan agar Satu Pena Temanggung tidak hanya berhenti pada euforia gebyar ulang tahun saja, melainkan harus terus membuktikannya lewat karya-karya literasi nyata yang menggema dan memberi dampak positif di tengah masyarakat.
SATUPENA merupakan nama populer atau akronim dari Persatuan Penulis Indonesia. Gagasan untuk membentuk wadah ini pertama kali muncul pada tanggal 8 Oktober 2016 di sela-sela acara Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) di Magelang, Jawa Tengah.
Gerakan ini diinisiasi oleh sejumlah penulis terkemuka seperti Imelda Akmal, Hikmat Darmawan, dan Mardiyah Chamim.
Pembentukan ini difasilitasi oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) melalui Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah.
Tujuannya adalah memberikan pengakuan, perlindungan hak, serta wadah asosiasi khusus bagi para penulis lintas genre di Indonesia yang selama ini bergerak sendiri-sendiri. Nama “SATUPENA” sendiri dicetuskan oleh salah satu pendirinya, yaitu budayawan Candra Malik, yang melambangkan semangat persatuan para penulis.
Kehadiran wadah ini memang memiliki akar sejarah yang kuat. SATUPENA sendiri lahir secara nasional sebagai gerakan kolektif para penulis lintas genre di Indonesia dengan visi besar untuk membangun ekosistem literasi yang sehat, memperjuangkan hak-hak profesional penulis, serta menjadikan tulisan sebagai pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperkukuh kebudayaan nasional.
Rangkaian perayaan ini kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog literasi yang interaktif serta bedah buku “Ki Panjang Emas”. Sesi pembedahan isi buku ini dipandu oleh sastrawan dan penulis senior terkemuka asal Temanggung, Roso Titie Sarkoro, yang menguliti nilai-nilai historis serta kearifan lokal yang terkandung di dalam antologi cerita rakyat tersebut.
Gebyar Ulang Tahun Ke-2 ini menjadi momentum refleksi penting bagi kebangkitan literasi daerah. Melalui peluncuran buku Ki Panjang Emas, SATUPENA Temanggung diharapkan dapat terus tumbuh, berkembang secara konsisten, dan memegang peran kunci dalam memikat minat generasi milenial serta generasi muda lainnya.
Dengan demikian, estafet kreativitas ini akan terus berjalan dan mampu melahirkan kreator-kreator baru yang siap menelurkan karya emas mereka di panggung literasi nasional maupun internasional. (BHP)
