SRAGEN (inspirasiline.com) – Perpaduan Seni Bela Diri Dan Budaya Mewarnai Puncak Festival Pendekar Nusantara 2026 Di Halaman Kantor Pemda Terpadu Kabupaten Sragen, Minggu Malam (25/10/2026).
Festival perdana yang digelar sejak 23 Oktober ini menjadi upaya menjaga kelestarian Pencak Silat sekaligus mempererat persaudaraan antarperguruan.
Bupati Sragen Sigit Pamungkas mengatakan, festival ini menjadi ikhtiar melestarikan tradisi pencak silat. Menurutnya, Sragen memiliki potensi besar dalam pelestarian bela diri tradisional, dengan 17 Perguruan Silat yang aktif dan hampir 100.000 warga yang setidaknya pernah mengikuti latihan silat.

“Ada banyak Perguruan Silat yang eksis dan melahirkan para pendekar. Melalui kegiatan ini, kita ingin menjaga tradisi sekaligus menjalin persaudaraan antarperguruan untuk bersama-sama membangun Sragen,” ujar Sigit Pamungkas.
Ia berharap, festival ini tidak berhenti sebagai agenda hiburan semata, namun berkembang menjadi ruang pertemuan dan kolaborasi antarperguruan silat. Semangat yang terbangun diharapkan terus terjaga setelah festival usai, sehingga pencak silat semakin berkembang sebagai warisan budaya yang mengecewakan, wadah pelatihan generasi muda, dan bagian dari penguatan persatuan masyarakat Sragen.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sragen, Agus Winarno, menjelaskan Festival Pendekar Nusantara dirancang untuk menampilkan Pencak Silat tidak hanya sebagai Seni Bela Diri, tetapi juga memiliki nilai budaya yang berpotensi dikembangkan menjadi daya tarik wisata, penggerak ekonomi, dan sarana pemberdayaan masyarakat.
“Sebagai kegiatan perdana, kami akan menyatukan respon masyarakat dan para pendekar sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan ke depan. Tujuan awal festival ini adalah mendorong pegiat persilatan agar bersinergi, baik antar perguruan maupun dengan pemerintah daerah, untuk bersama-sama membangun Sragen, khususnya melalui pemberdayaan potensi masyarakat pendekar,” ujarnya.
Agus menambahkan, Festival ini juga bertujuan memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui gerakan serentak dengan jurus khas masing-masing perguruan. Saat ini, hasil validasi dari MURI masih ditunggu dan diperkirakan keluar dalam satu hingga dua minggu.
Beragam penampilan mengisi malam Puncak, mulai dari pertunjukan Silat Seni, Drama Teatrikal Silat Kolosal Pendekar, musik etnik, hingga Awarding Festival Silat Seni. Penghargaan diserahkan kepada 17 Perguruan Silat sebagai penghargaan atas partisipasi dan kontribusi mereka dalam menyukseskan festival serta melestarikan pencak silat di Sragen.
Panggung Malam Puncak turut diramaikan bintang tamu spesial Master Limbad. Aksi memakan paku dalam jumlah banyak menjadi sajian yang mengundang decak kagum penonton dan menambah daya tarik acara. (Sugimin/17-Release Diskominfo Sragen)
