BREBES (inspirasiline.com) Semangat berbagi dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 diwujudkan melalui kegiatan bakti sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes. Mulai dari sunatan massal bagi 16 anak, pemeriksaan kesehatan gratis yang mayoritas diikuti warga lanjut usia (lansia), hingga donor darah, kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian bersama dalam menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi rangkaian peringatan Hari Santri Nasional, tetapi juga momentum memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Masyarakat diberikan kesempatan untuk mendapatkan layanan kesehatan sekaligus berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan sesuai kemampuan masing-masing.

Tokoh masyarakat Desa Kemukten, Dedi Risyanto, menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial tersebut berangkat dari nilai-nilai yang diajarkan para ulama, guru ngaji, dan orang tua, yakni pentingnya berbakti serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Ulama dan guru ngaji kami mengajarkan untuk selalu berbakti dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan sekaligus mempererat silaturahmi dengan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dedi, peringatan Hari Santri tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia mengingatkan bahwa Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semangat perjuangan tersebut, lanjutnya, perlu diteruskan melalui kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Salah satunya dengan menghadirkan pelayanan kesehatan dan membantu anak-anak yang mengikuti sunatan massal.
“Harapannya, anak-anak yang mengikuti sunatan massal kelak menjadi anak saleh, kebanggaan keluarga, serta mampu mengangkat harkat dan martabat orang tua. Bagi masyarakat yang mengikuti pemeriksaan kesehatan, semoga selalu diberikan kesehatan sehingga bisa terus mendampingi anak dan cucu,” tuturnya.
Dedi juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, masyarakat, serta pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan bakti sosial serupa dapat terus dilaksanakan secara bergantian oleh berbagai pihak sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPR RI, Wahyudin Noor Aly, mengatakan bahwa peringatan Hari Santri Nasional seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Semangat perjuangan para pendahulu bangsa perlu diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, perjuangan para santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan harus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang bermanfaat.
“Para pendiri bangsa berjuang bukan sekadar agar perjuangannya diperingati, tetapi agar generasi penerus mampu mengisi kemerdekaan. Kalau hanya memperingati tanpa ada makna dan tindakan nyata, tentu belum cukup,” katanya.
Wahyudin menilai bakti sosial yang digelar di Desa Kemukten menjadi contoh konkret bagaimana nilai-nilai perjuangan dan kepedulian sosial dapat diwujudkan. Melalui sunatan massal, pemeriksaan kesehatan gratis, dan donor darah, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dapat berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.
“Hari ini ada yang memberikan layanan sunatan massal secara gratis, ada pemeriksaan kesehatan, dan ada donor darah. Kalau kita belum bisa memberi dalam bentuk materi, kita masih bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Inilah substansi dari peringatan Hari Santri,” ungkapnya.
Ia mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan kepedulian dan semangat saling membantu dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kontribusi sekecil apa pun akan berarti apabila dilakukan bersama-sama demi kepentingan masyarakat luas.
Melalui kegiatan tersebut, peringatan Hari Santri Nasional di Desa Kemukten diharapkan tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah perjuangan santri dan ulama, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial serta menghadirkan pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama anak-anak dan warga lanjut usia. (Wantoro)
