Penulis: Budhy HP | Editor: Dwi NR
TEMANGGUNG | inspirasiline.com
Kepala SMP Negeri 1 Kandangan Endah Suryandari Martani mengatakan, Sekolah Adiwiyata memiliki esensi menciptakan budaya cinta lingkungan dan siswa terampil, berkarakter, berbudaya, serta menjadi Sekolah Pemimpin dengan 9 Gerbang Pengetahuan.

SETELAH meraih predikat Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Tengah, SMP Negeri 1 Kandangan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung kini bersiap maju ke tingkat nasional. Sebagai ikon utamanya adalah inovasi Taman 8 Standar, pemanfaatan limbah air dengan akuaponik, dan pengolahan hasil pertanian untuk makanan dan minuman.

Program Sekolah Adiwiyata merupakan program pendidikan lingkungan hidup yang sangat menunjang pada pencapaian standar lulusan di sekolah. Dengan berkembangnya karakter yang dibiasakan pada Sekolah Adiwiyata, ada tiga prinsip utama yang dikembangkan, yaitu edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Di SMP Negeri 1 Kandangan, prinsip edukatif dilaksanakan dengan pendidikan lingkungan bagi siswa. Di antaranya berbagai macam pembiasaan seperti bagaimana cara pemeliharaan, pelestarian, pengelolaan lingkungan hidup dan pengolahan hasil budidaya kebun, dengan tujuan mengubah pola pikir dan perilaku warga sekolah agar menjadi insan peduli lingkungan.

Sedangkan prinsip partisipatif mengandung makna bahwa pelaksanaan program Adiwiyata harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pihak pemerintah sampai pada masyarakat melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang melibatkan orangtua siswa dan masyarakat sekitar.

Kepala SMP Negeri 1 Kandangan Endah Suryandari Martani SPd MPd mengatakan, Sekolah Adiwiyata memiliki esensi menciptakan budaya cinta lingkungan dan siswa terampil, berkarakter, berbudaya, serta menjadi Sekolah Pemimpin dengan 9 Gerbang Pengetahuan.

“Untuk itu ikon yang ditonjolkan adalah bagaimana siswa memiliki life skill yang bermanfaat untuk pengembangan diri, di antaranya adalah pengetahuan dan praktik pengelolaan lingkungan hidup, seperti membuat akuaponik, minuman lidah buaya, dan pastel dari pepaya,” tandasnya.

Dalam hal pengelolaan limbah lingkungan, para siswa belajar membuat akuaponik untuk tanaman sayuran populer hidroponik, seperti sawi caesin, pakchoy, sawi hijau, brokoli, dan lainnya.

Selain itu, hasil panen tanaman dari lingkungan sekolah juga diolah menjadi komoditas makanan bernilai lebih. Pepaya dibuat untuk isi empek-empek pepaya atau pastel pepaya, lidah buaya untuk minuman segar menyehatkan dengan pemanis gula jawa, dedaunan dimanfaatkan untuk membuat kain ecoprint dan sampah diolah menjadi kompos.
Budaya cinta lingkungan ini diharapkan dapat diaplikasikan para siswa, baik di sekolah, di rumah, dan kelak di lingkungan masyarakat ketika mereka menjadi dewasa dan hidup bermasyarakat.***

Can I just say what a relief to find someone who actually knows what theyre talking about on the internet. You definitely know how to bring an issue to light and make it important. More people need to read this and understand this side of the story. I cant believe youre not more popular because you definitely have the gift.