Penulis: Abiet Sabariang | Editor: Dwi NR
TEGAL | inspirasiline.com
Sekolah Alam Laut dan Sekolah Terminal, yang dikelola Yayasan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sakila Kerti ini gratis. Hanya setiap Jumat, para orangtua murid disuruh membawa sampah plastik.

SAMPAH di mana-mana selalu menjadi masalah. Terlebih di tengah perkampungan yang masyarakatnya heterogen, yang kadang kurang perhatian terhadap kebersihan. Bahkan akhirnya sampah bisa menjadi pemicu keributan antartetangga, karena buang sampah tidak pada tempatnya.
Tapi di Kota Tegal, sampah telah dikelola dengan baik, melalui dinas terkait maupun kelompok masyarakat.

Di kota Bahari ini pula, telah berdiri sekolah yang bayarnya cuma dengan sampah plastik. Namanya Sekolah Alam Laut dan Sekolah Terminal, yang dikelola Yayasan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sakila Kerti.
Tak heran jika sekarang para orangtua rajin mengumpulkan sampah plastik dan logam.

Kedua jenis sampah yang mereka ini dikumpulkan tidak untuk dijual, tapi diserahkan kepada pengelola pendidikan yang telah melakukan penandatanganan kerjasama dengan Dinas Permukiman dan Tata Ruang (Diskimtaru) Kota Tegal yang berwenang dalam pengelolaan sampah.
Sampah yang dikumpulkan oleh para orangtua, setiap Jumat dibawa ke sekolah, lalu diserahkan ke petugas pencatat untuk ditimbang.

Sekolah Alam Laut dan Sekolah Terminal dikelola oleh Yayasan Taman Bacaan Masyarakat Sakila Kerti, di bawah kepemimpinan Dr Yusqon, seorang penggiat literasi dan pendidikan nonformal di Kota Tegal.
Sebagai lembaga pendidikan nonformal, Sekolah Alam Laut dan Sekolah Terminal tidaklah seperti sekolah pada umumnya, yang menempati gedung atau ruangan kelas yang bagus.

Sekolah Terminal yang ada di Terminal Bus Tegal, misalnya, hanya menempati kios terminal yang dijadikan tempat kegiatan belajar. Sekolah ini bertujuan untuk mewadahi pedagang asongan yang putus sekolah.
Hebatnya, Sekolah Terminal juga menyediakan ribuan buku bacaan untuk membuang kejenuhan bagi para calon penumpang.

Begitu pula dengan Sekolah Alam Laut di kawasan Objek Wisata Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal.
Selain berwisata, pengunjung PAI juga bisa membaca dan melihat berbagai macam judul buku.
Alam Terbuka
Namanya saja Sekolah Alam Laut, tempat belajar ini hanya berupa lahan atau halaman terbuka yang dipayungi pepohonan rindang. Meski demikian, kondisi ini justru bikin anak-anak betah mengikuti setiap materi pelajaran yang disampaikan oleh tiga guru pengasuh pengajar: Bu Yuni, Bu Ipin, dan Inge.

Materi yang diajarkan tidak berbeda dari pendidikan anak usia dini (PAUD) lainnya. Misalnya baris-berbaris, hafalan membaca doa, menyanyi, dan keterampilan yang bahannya menggunakan barang di sekeliling sekokah, seperti pelepah pisang sebagai pengganti kuas cat, sedotan minuman, dan dedaunan kering untuk bahan tempelan gambar.
Sekolah Alam Laut berbasis PAUD yang digagas oleh Dr Yusqon di PAI, saat ini memiliki jumlah murid mencapai 81 anak, yang kebanyakan dari keluarga nelayan dan pedagang di kawasan Objek Wisata PAI.

PAUD Sakila Kerti diasuh oleh guru yang sudah berpengalaman dan memiliki kerelaaan hati untuk memajukan pendidikan di Kota Tegal.
Tari (23), salah satu orangtua murid PAUD menyebut, ide Sekolah Alam Laut ini sangat keren.
Sebab, menurutnya, PAUD umumnya menggelar kegiatan belajar-mengajar (KBM) di ruangan dan gedung yang bagus. Tapi sekolah yang satu ini hanya di alam terbuka, sehingga orangtua pun senang dan tidak jenuh saat mengantar anaknya.

“Yang saya suka lagi, sekolah ini gratis. Hanya setiap hari Jumat para orangtua murid disuruh membawa sampah plastik,” ungkap istri seorang nelayan ini.
Dr Yusqon menjelaskan, sampah-sampah plastik yang telah terkumpul dari para orangtua itu selanjutnya dibawa oleh petugas Diskimtaru Kota Tegal ke pengelola Bank Sampah, lalu dijual ke pengepul.
“Dana hasil penjualannya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sarana prasarana (sarpras), seperti kursi dan alat peraga lainnya,” kata penggiat literasi yang sudah beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah pusat ini.

Yusqon menambahkan, ide Sekolah Alam Laut tidak lain untuk membantu masyarakat, terutama bagi keluarga nelayan dan warga pedagang asongan di sekitar Objek Wisata PAI.
“Alhamdulillah apa yang saya lakukan ternyata mendapat respons dari semua kalangan,” tuturnya saat ditemui di Kedai Kopi Gung PKBM Sakila Kerti di kawasan Objek Wisata PAI Kota Tegal, Jumat (24/9/2021).
Di samping mendirikan Sekolah Alam Laut, Yusqon juga berhasil mengelola sekolah Kejar Paket A, B, dan C di Terminal Bus Tegal.
Berkat ketekunan dan dukungan rekan-rekannya di Yayasan TBM Sakila Kerti yang dikelolanya, dalam beberapa tahun terakhir Yusqon telah berhasil mendirikan TBM di beberapa tempat dan meluluskan sejumlah siswa Kejar Paket A, B, dan C.***
