SDN Gayam 1 Sukoharjo Siap Laksanakan PTM

EDUKASI

Penulis: Supriyani
SUKOHARJO | inspirasiline.com

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana memulai pembelajaran tatap muka (PTM) pada semester kedua tahun pelajaran 2020-2021.

SD Negeri Gayam 1 Sukoharjo menyambut baik dan siap melaksanakan PTM, sembari konsultasi dengan Ketua Satgas Penanganan Covid-19 kabupaten, dalam hal ini Bupati Sukoharjo.

“Dengan akan dimulainya PTM di semester dua, kami sudah siap, termasuk sarana prasarana untuk menunjang protokol kesehatan,” kata Kepala SDN Gayam 1 Sukoharjo Dwi Wiyono saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (17/12/2020).

KEPALA SDN Gayam 1 Sukoharjo Dwi Wiyono.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh stakeholder, seperti bahwa di setiap kelas hanya diikuti oleh 14 siswa, jarak tempat duduk antarsiswa antara 1-1,5 meter, alokasi waktu tiap tatap muka maksimal 120 menit tanpa jeda istirahat.

“Prosedurnya, anak datang langsung masuk kelas dan selesai langsung pulang. Karena siswa kami tiap kelas lebih dari 14 anak, maka kami buat sif,” ujarnya.

Dwi Wiyono menambahkan, dalam pelaksanaan PTM, pihaknya tetap mengedepankan protokol kesehatan untuk menghindari kerumunan. Artinya, siswa masuk sesuai sif masing-masing.

“Bisa jadi, tiap sif siswa mengikuti tiga kali PTM dalam seminggu. Untuk sif 1 masuk jam 08.00-10.00 Senin, Rabu, Jumat dan sip 2 masuk jam 11.00-13.00 Selasa, Kamis, Sabtu. Kami juga sudah membuat imbauan, kantin sekolah dan pedagang yang biasa jualan di lingkungan sekolah saat pandemi ini kami larang,” terangnya.

Mengingat SDN Gayam 1 Sukoharjo per rombongan belajar (rombel)-nya lebih dari 30 siswa, maka pihak sekolah memberlakukan 3 sif. Jika semula, waktu maksimal 120 menit per PTM, karena 3 sif, maka per PTM hanya 90 menit.

Jika PTM mulai diberlakukan, Dwi Wiyono menegaskan, SSN Gaya 1 Sukoharjo sudah siap. Di sekolah ini sudah tersedia tempat cuci tangan dengan air mengalir di depan setiap ruang kelas, hand sanitizer, semua memakai masker, dan di gerbang masuk ada guru piket yang mengecek suhu tubuh, baik terhadap siswa, guru, dan siapa saja yang akan masuk areal sekolah. Jika ada yang bersuhu tubuh lebih dari 37,3 derajat Celcius dilarang masuk areal sekolah.

Jika ada orang tua wali yang masih keberatan anaknya mengikuti PTM, pihak sekolah tetap melayani melalui belajar dari rumah (BDL). Guru sudah menyiapkan materi untuk siswa yang tidak bisa mengikuti PTM.

“Kepada orangtua wali dan semua stakeholder, mari PTM di masa pandemi Covid-19 ini kita jaga kesehatan, diawali dari lingkungan sendiri, keluarga, hingga sekolah. Kita selalu terapkan protokol kesehatan yang ketat, supaya tidak terpapar Covid-19. Karena kita belum tahu, kapan pandemi akan berakhir,” terang Dwi Wiyono.

Sri Hartini, salah satu wali murid menyatakan setuju akan diberlakukannya PTM asal menaati protokol kesehatan.

“Belajar daring yang sudah dijalani selama ini memang bikin pusing. Anak-anak ya kurang begitu paham. Anak bisa lebih mudah menerima pelajaran secara tatap muka, dari gurunya langsung,” ungkapnya.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *