Grobogan-Inspirasiline.com. GKJ (Gereja Kristen Jawa) Purwodadi kembali melakukan terobosan dibidang seni dan budaya di Kabupaten Grobogan setelah sebelumnya meraih sukses menggelar festival seni lukis, kini kembali menggelar festival seni budaya lokal yakni festival dolanan tradisional dimana dalam dolanan tersebut dulu dilakukan oleh anak anak sekitar tahun 60-70 an dan biasanya dimainkan pada sore atau malam hari menjelang tidur terlebih pada saat terang bulan.
Sebagaimana diketahui, GKJ Purwodadi yang saat ini telah berusia 90 tahun mulanya berurat dan berakar pada budaya Jawa, sehingga keberadaannya tidak terlepas dari kejawaannya termaauk tradisinya, sehingga boleh disebut GKJ kenthal dengan budaya dan tradisi Jawanya. Disetiap bulan Oktober, tradisi GKJ Purwodadi selalu menggelar bulan keluarga, dimana pada intinya adalah membangun keluarga berdasarkan kasih Tuhan sehingga keluarga tersebut menjadi lebih kukuh, bahagia dan lestari.

Festival dolanan ini digelar dalam rangka bulan keluarga, berlangsung di gedung Kendi Cinta pastori Kartini Purwodadi Grobogan, sehingga festival tersebut digelar setiap hari selama bulan Oktober ini.
“Bulan ini kami melakukan Bulan Keluarga dan dalam satu bulan ini kami ikut melestarikan budaya Jawa salah satunya adalah Dolanan ini” ungkap Pendeta Tyas Budi Legowo MTh kepada media Inspirasiline.com usai acara pembukaan festival di pastori Kartini Purwodadi Grobogan, Rabu (1/10/2025).
Hadir dalam acara pembukaan festival tersebut, Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Grobogan DR. Wahono MPd. yang membuka festival itu secara resmi dengan menabuh kentongan
Dalam sambutannya, Wahono mengajak masyarakat Grobogan agar bisa ikut melestarikan budaya Jawa melalui dolanan tradisional ini.

Saat ini upaya pelestarian budaya Jawa telah diawali oleh GKJ Purwodadi khususnya dalam menyelenggarakan festival budaya. Pemkab Grobogan melalui Dinas yang dipimpinnya mengapresiasi GKJ Purwodadi dalam penyelenggaraan festival dolanan tradisional.
Wahono mengungkapkan Festival ini bukan sekadar untuk menghadirkan keceriaan dan hiburan, tetapi lebih dari itu: sebagai wujud nyata kepedulian kita terhadap kelestarian budaya bangsa.
“Mainan tradisional adalah warisan leluhur yang sarat dengan nilai pendidikan, kreativitas, kebersamaan, sekaligus mencerminkan kearifan lokal.” ucapnya.
Ia menyebut di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi gawai digital, patut menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap permainan tradisional. Karena melalui mainan tradisional, anak-anak diajarkan tentang kerjasama, sportivitas, ketekunan, dan daya cipta tanpa harus tergantung pada teknologi modern.
Festival ini juga diharapkan menjadi ruang interaksi lintas generasi. Orang tua bisa bernostalgia, anak-anak bisa belajar, dan masyarakat bisa bersatu menjaga identitas budaya bangsa. Dengan demikian, festival ini bukan hanya ajang hiburan, melainkan juga wahana edukasi, pelestarian, sekaligus promosi wisata budaya daerah kita.
Adapun jenis dolanan yang dilibatkan dalam festival ini antara lain dakon, cek cek mek, egrang, sluku sluku bathok, umbul, jamuran, jethungan, gobaksodor dan sebagainya.
Bagi generasi sekarang, jenis dolanan tersebut mungkih tidak kenal bahkan tidak tahu, padahal orang tua bahkan nenek kakek mereka semuanya pernah merasakan permaunan dolanan tersebut.
Dalam festival tersebut, dolanan tradisional itu dimainksn oleh anak anak TK, SD, SMP hingga SMA yang ada di lingkungan Yayasan Pendidikan Kristen Widya Wacana Purwodadi.
Festival ini berlangsung setiap hari pada jam 10, 13 dan 15 WIB hingga akhir bulan Oktober 2025. Hindarti (65) warga Purwodadi mengaku senang melihat dolanan tradisional karena dengan melihat dolanan tersebut sekaligus mengingat masa kecilnya yang sering bermain gerobak sodor, cek cek mek dsb bersama teman teman kecilnya. (jk)
