Sragen-Inspirasiline.com. Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) melalui Industry Matching Program Ketahanan Pangan mendukung implementasi pilar Asta Cita Pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Kegiatan yang digelar di Lapangan Dukuh Mayah, Desa Bendo, Kecamatan Sukodono, Sabtu (27/6/2026) ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga pendamping, dan petani untuk memperkuat ekosistem pertanian nasional.
Program tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Pemerintah Kabupaten Sragen, Universitas Sebelas Maret (UNS), Bank Indonesia, Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (PUSKESTAN), serta pelaku usaha sebagai mitra pemasaran hasil pertanian. Melalui kolaborasi tersebut diharapkan produktivitas pertanian meningkat sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani.
Kabupaten Sragen sendiri merupakan salah satu penyangga pangan utama di Provinsi Jawa Tengah dengan menempati peringkat ketiga sebagai daerah penghasil pangan. Potensi sektor pertanian Sragen didukung luas tanam padi mencapai 108.609 hektar dengan produksi sekitar 700.374 ton, luas tanam jagung 27.964 hektar dengan produksi 200.884 ton, serta luas tanam kedelai 546 hektar dengan produksi 1.036 ton.
Wakil Bupati Sragen, H. Suroto, mengatakan ketahanan pangan merupakan isu strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Menurutnya, ketersediaan pangan yang cukup, terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan merupakan syarat penting bagi terwujudnya kedaulatan bangsa.

Sejalan dengan program Asta Cita Presiden dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Sragen terus memperkuat sektor pertanian melalui program unggulan Sragen Berdikari Pangan.
“Peran petani sangat penting dalam menjaga kelestarian pangan. Pembangunan pertanian menjadi sektor strategis karena merupakan sumber penghidupan sebagian besar masyarakat Sragen,” ujarnya.
Wabup H. Suroto menjelaskan Pemerintah Kabupaten Sragen terus menjalankan berbagai program untuk mendukung ketahanan pangan, di antaranya peningkatan ketersediaan pangan berbasis potensi lokal, pembangunan sarana dan prasarana pertanian, peningkatan produktivitas padi, jagung, dan kedelai, revitalisasi jaringan irigasi serta alat mesin pertanian, penerapan pertanian ramah lingkungan, diversifikasi usaha tani, penguatan kelembagaan kelompok tani, hingga perluasan akses pasar melalui pelatihan dan pembangunan jaringan pemasaran produk.
Ia berharap dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, mulai perguruan tinggi, Bank Indonesia, hingga sektor swasta dapat mendorong peningkatan produksi dan produktivitas pangan di Kabupaten Sragen.
“Kami berharap melalui kolaborasi ini produksi padi di Sragen terus meningkat. Saat ini rata-rata hasil panen berkisar enam hingga tujuh ton per hektar dan ke depan diharapkan mampu mencapai sepuluh ton per hektar,” ujarnya.
Meski menjadi salah satu lumbung pangan nasional, Suroto mengakui sektor pertanian Sragen masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari alih fungsi lahan pertanian, menurunnya kualitas tanah, kepemilikan lahan yang semakin sempit, pendangkalan sumber air dan jaringan irigasi, terbatasnya jumlah penyuluh pertanian, hingga masih rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Menurutnya, perhatian pemerintah pusat terhadap daerah penyangga pangan juga perlu ditingkatkan agar kesejahteraan petani berjalan seiring dengan peran besar mereka dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Sementara itu, Ketua Bidang VI Pengurus Pusat ISEI, dr. Ariliani, mengatakan program Industry Matching dirancang untuk memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan petani. Menurutnya, peningkatan produksi harus diikuti dengan kepastian pasar agar hasil panen memberikan nilai tambah bagi petani.
“Melalui Industry Matching, kami ingin mempertemukan petani dengan calon pembeli sehingga hasil produksi memiliki pasar yang jelas. Kerja sama ini juga akan dikembangkan untuk berbagai komoditas pertanian maupun produk UMKM,” ujarnya.
Ia berharap Desa Bendo dapat menjadi contoh pengembangan Industry Matching Program yang nantinya dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Dengan kolaborasi yang kuat, produktivitas pertanian meningkat, kemiskinan dapat ditekan, dan cita-cita Indonesia Emas dapat terwujud.
Pendiri Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (PUSKESTAN), Andreas Philip Avianto Wicaksono, menjelaskan bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh benih dan pupuk, tetapi juga kesehatan tanah. Ia mengungkapkan hasil pendampingan yang dilakukan PUSKESTAN menunjukkan sekitar tiga dari empat lahan pertanian mengalami penurunan kualitas sehingga mempengaruhi produktivitas.
Melalui pendampingan berbasis perbaikan kesehatan tanah menggunakan kompos organik, PUSKESTAN telah membina lebih dari 3.200 kelompok petani di berbagai daerah. Program tersebut terbukti mampu meningkatkan produktivitas hasil panen hingga sekitar 20 persen, sekaligus menghasilkan beras dengan kualitas gizi yang lebih baik.
Andreas berharap kolaborasi antara ISEI, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha terus diperkuat sehingga tercipta ekosistem pertanian yang sehat, produktif, dan berkelanjutan. Menurutnya, sinergi tersebut akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia. (Sugimin/17- Release Diskominfo Sragen)
