Sragen-Inspirasiline.com. Tepuk Tangan menggema di Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sragen saat awal pemutaran perdana film Janji Terakhir, Sabtu (27/6/2026). Bukan sekadar film drama komedi, karya tersebut menjadi potret sisi lain kehidupan di balik tembok pemasyarakatan yang sarat pesan tentang harapan, penyesalan, kesempatan kedua, dan arti sebuah keluarga.
Diproduksi oleh Lapas Kelas IIA Sragen bersama Kembang Kantil Production, film ini disutradarai oleh aktor sekaligus influencer asal Sragen, Erick Estrada. Menariknya, proses produksi dilakukan hanya dalam satu hari tanpa naskah maupun skenario tertulis.
Kepala Lapas Kelas IIA Sragen, Giyono, mengatakan film tersebut lahir dari semangat untuk mendekatkan lembaga pemasyarakatan kepada masyarakat sekaligus menunjukkan proses pembinaan yang berlangsung di dalamnya.
“Film ini dibuat mulai pukul delapan pagi hingga setengah lima pagi tanpa skrip dan tanpa skenario. Mudah-mudahan dapat memberikan manfaat, khususnya bagi warga binaan kami,” ujarnya.

Menurut Giyono, Lapas Kelas IIA Sragen terus berupaya mengubah paradigma pelayanan melalui jargon SAT SET yang berarti Sinergi, Empati, dan Totalitas.
“Mindset yang dulu pegawai dilayani harus diubah menjadi pegawai yang melayani. Karena itu warga binaan kami bekali berbagai ilmu. Saya yakin dengan ilmu hidup akan menjadi lebih mudah, berkah, dan indah,” katanya.
Ia berharap proses pembinaan mampu mengantarkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.
“Cita-cita kami adalah mengembalikan mereka kepada masyarakat, khususnya keluarganya. Mudah-mudahan tidak mengulangi perbuatannya, terjadi perubahan perilaku, dan masyarakat dapat menerima mereka kembali,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Tengah, Hasan Basri, mengapresiasi inovasi yang dilakukan Lapas Kelas IIA Sragen melalui media film.
“Momentum ini bukan sekadar peluncuran film pendek, tetapi juga wujud nyata inovasi dalam penyelenggaraan pemasyarakatan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, selama ini masyarakat lebih mengenal lembaga pemasyarakatan sebagai tempat menjalani pidana. Padahal, di baliknya terdapat proses pembinaan karakter, pengembangan keterampilan, kreativitas, hingga persiapan warga binaan agar siap kembali ke masyarakat.
“Melalui media film, pesan-pesan tersebut dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat, lebih menyentuh, dan lebih mudah dipahami masyarakat,” jelasnya.
Hasan Basri menambahkan, film Janji Terakhir merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari jajaran pegawai lapas, pegiat seni, konten kreator Solo Raya, hingga melibatkan warga binaan sebagai bagian dari pemeran.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembinaan tidak dapat diwujudkan oleh institusi pemasyarakatan saja, tetapi memerlukan dukungan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, komunitas kreatif, media, dan masyarakat.
“Film Janji Terakhir menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah. Kami berharap masyarakat juga memberikan ruang bagi warga binaan untuk kembali berkarya, berkontribusi, dan diterima sebagai bagian dari masyarakat,” tuturnya.
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, turut memberikan apresiasi terhadap lahirnya film tersebut. Menurutnya, karya yang diproduksi dalam waktu singkat tanpa skenario itu menjadi bukti kreativitas sekaligus kepedulian terhadap dunia pemasyarakatan.
“Kita menyaksikan film yang sangat luar biasa karena dibuat hanya dalam waktu satu hari tanpa skrip dan langsung selesai,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi Erick Estrada yang terlibat sebagai sutradara sekaligus putra asli Kabupaten Sragen.
“Mas Erick sebagai warga asli Sambirejo telah mempersembahkan karya ini sebagai bentuk pengabdian kepada tanah kelahirannya. Semoga film ini sukses, dapat dinikmati masyarakat Indonesia, dan memberikan hikmah bagi siapa pun yang menyaksikannya,” pungkasnya. (Sugimin/17- Release Diskominfo Sragen)
