Tapak Asta Temanggung, Grup “Penguasa” Panggung Angklung

ENTERTAINMENT

Penulis: Mutabingun
Editor: Dwi NR

Tapak Asta adalah grup musik tradisional (angklung) peraih Juara I dan Juara Umum Festival Angklung Ceria 2019 gelaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung. Prestasi inilah yang bikin mereka laris manis dan menjadi “penguasa” panggung hingga ke luar Temanggung.
EMPAT dari lima personel Grup Angklung Tapak Asta.

DIBENTUK oleh remaja Dusun Wonosari, Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Agustus 2016 silam, Tapak Asta boleh dibilang merupakan wujud kreativitas anak-anak muda untuk turut melestarikan kekayaan budaya bangsa.

“Lebih dari itu, Tapak Asta merupakan wadah remaja berbakat di bidang musik yang ingin menyalurkan hobi bermain musiknya lewat jalur kelompok kesenian,” ujar Ciky.

Grup Angklung Tapak Asta terbentuk berkat ide pemuda setempat yang tercuat saat musyawarah Dusun Wonosari, untuk mengikuti Lomba Karnaval HUT Kemerdekaan RI di Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, 2016 silam.

Terinspirasi dari beberapa video grup angklung Jogja yang sering ditonton di Youtube, ide itu langsung mendapat dukungan dan sambutan hangat dari masyarakat.

“Saya sangat mendukung dengan adanya kelompok kesenian tradisional angklung ini. Karena selain menghibur, mereka juga bisa melakukan hal-hal yang lebih positif. Dengan adanya grup ini, setidaknya dapat mengurangi tingkat kenakalan remaja lewat wadah organisasi yang dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif,” kata Muroji (47), Kepala Dusun Wonosari.

Jejak Tangan
Nama “Tapak Asta” sendiri diambil dari Bahasa Jawa: “tapak” bermakna jejak, dan “asta” yang berarti tangan. Tapak Asta bisa diartikan, “semua suara musik yang dihasilkan berasal dari ketukan tangan jejak tangan”. Karena di grup angklung ini, tidak ada suara musik yang berasal dari alat musik elektronik sama sekali.

CIKY mewakili Tapak Asta menerima trofi Juara I dan Juara Umum Festival Angklung Ceria 2019.

Saat terbentuk, anggota Tapak Asta yang dipandegani Ciky (angklung), Fataun (calung), Murokap alias Mandra (ketipung), Sutantri alias Trimbil (bass), dan Nurul Huda alias Boniex (drum) hanya membawakan lagu-lagu nasional dan daerah yang dipersiapkan untuk mengikuti lomba.

baca juga:  Polri Gelar Lomba Kreasi Setapak Perubahan Dan Festival Musik Bhayangkara

“Baru setelah itu, kami pun mulai memainkan lagu-lagu lain seperti pop, keroncong, campursari, dan lagu-lagu dangdut terbaru,” beber Ciky.

Untuk menambah nuansa kemeriahan, mereka menambah personel untuk posisi tari. Beberapa remaja putri yang berbakat menari pun direkrut, untuk diajak berkolaborasi. Upaya untuk memenangi di berbagai lomba, karnaval dan festival pun digencarkan. Dari tingkat desa hingga kabupaten.

Berbekal kekompakan dan kepiawaian para personelnya dalam bermain musik, kini Tapak Asta semakin mendapat respons dan antusias tinggi dari masyarakat. Terbukti, job atau undangan tampil di berbagai acara, seperti pernikahan, khitanan, tasyakuran, pengajian, hingga wisuda, kian deras mengalir. Tak jarang, mereka juga dapat tawaran untuk unjuk aksi di sejumlah event di dalam maupun di luar Kabupaten Temanggung.

Buah Kekompakan
Keberhasilan pertama yang diraih Grup Angklung Tapak Asta adalah saat mengikuti ajang Lomba Karnaval HUT Ke-71 Kemerdekaan RI, Desa Tlogopucang, 2016. Di aksi perdana ini, semangat dan kekompakan mereka langsung berbuah gelar Juara Pertama.

“Itu menjadi modal awal Tapak Asta untuk mulai berkreasi di dunia keseniaan, khususnya musik tradisional angklung,” ungkap Nurul Huda alias Boniex, si penabuh drum sekaligus Ketua Tapak Asta, yang rumahnya dijadikan tempat latihan sekaligus markas grup angklung ini.

AKSI Grup Angklung Tapak Asta saat mengiringi Vela (personel Duo Gemes BP5 Indosiar) di sebuah acara pernikahan.

Kemudian, Tapak Asta berhasil meraih Juara III Festival Kebudayaan Kecamatan Kandangan. Deretan prestasi itu terus dirangkai dengan beberapa kejuaraan-kejuaraan lainnya, hingga puncaknya Juara I dan Juara Umum Festival Angklung Ceria gelaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, di Pikatan Waterpark, Temanggung, 3 Agustus 2019 lalu.

Keunikan Grup Angklung Tapak Asta, mereka memainkan segala jenis genre musik, dengan style atau gaya sendiri, berbasis irama musik tradisional. “Di sini kami tidak sekadar menikmati atau memainkan musik ala Tapak Asta, melainkan juga bisa di-request lagu-lagu seperti pop, keroncong, campursari, lagu-lagu dangdut koplo atau terbaru, sampai lagu-lagu bernuansa religi macam rebana ataupun kasidah,” beber Ciky.

baca juga:  Kades Suwatu Mahmudi Tohpati Tolak Bikin Surat Tanggung Jawab Hajatan

Hebatnya, tidak jarang Grup Angklung Tapak Asta berkolaborasi dengan kelompok-kelompk pengusung jenis kesenian lain, baik tradisional maupun modern, seperti kuda lumping, topeng ireng, kubro siswo, dangdut, band, dan grup rebana.***

SEGENAP tim dan personel Grup Angklung Tapak Asta usai Juara I dan Juara Umum Festival Angklung Ceria 2019.
Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *