Teki Teguh Setiawan Ciptakan Alat Musik Gamelan Batu Alam

ENTERTAINMENT

Penulis: Sugimin | Editor: Dwi NR
SRAGEN | inspirasiline.com

Pernahkah membayangkan jika batu alam ternyata bisa menjadi alat musik? Di tangan Teki Teguh Setiawan, batu alam benar-benar bisa menjadi alat musik gamelan bernada unik dan indah.  

SEPINTAS memang agak aneh dan tidak lazim. Namun di tangan Teki Teguh Setiawan (26), warga Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, batu alam yang biasa digunakan untuk material bangunan itu mampu diubah menjadi alat musik gamelan batu berbunyi nada enak didengar.

Teki Teguh Setiawan menceritakan, ide menciptakan ensambel stone (musik dari batu) terinspirasi saat dirinya berkunjung di Goa Tabuhan, di Wareng Kidul 2, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Teki Teguh Setiawan mengaku tertarik dari batu-batu di goa tersebut, karena bisa mengeluarkan bunyi dan nada.

“Dulu kali pertama terinspirasi waktu di Pacitan. Di sana, di Goa Tabuhan terdapat bunyi-bunyi musik dan menghasilkan nada yang menarik saya,” ungkap Teki saat berbincang dengan inspirasiline.com, belum lama ini.

Seni Karawitan
Beberapa seniman di Bumi Sukowati mengungkapkan, Teki memang memunyai basic di bidang seni karawitan. Dari dasar inilah, kemudian Teki coba menggabungkan batu dari alam menjadi musik yang enak didengar.

Sebelum menentukan batu yang bernada, lulusan S2 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini terlebih dulu melakukan penelitian sampai mencari bahan sendiri selama tiga bulan di toko bangunan yang berada di luar kota.

“Istilahnya ini batu-batu alam pilihan yang saya sortir sendiri. Harus jeli dan mencocokkan satu per satu batunya agar bisa memunyai tangga nada pentatonis. Setelah mendapat batunya, kami buatkan tempat, di-steam, lalu dikasih resonator,” tuturnya.

Dari situlah, Teki membuat konsep dengan mengimplementasikan alat gamelan seperti demung, peron, peking, dan gong ke batu.

baca juga:  Selama Pandemi, Setara Jateng Merasa Didiskriminasi Pemerintah

“Konsepnya itu ada sejak 2017, hingga di tahun 2018 pertengahan baru terealisasikan,” bebernya.

Alat musik gamelan batu ini terdiri atas demung watu (mungwa), saron watu (ronwa), peking watu (kingwa), dan gong watu (gongwa).

Mulai Ditampilkan
Gamelan batu yang kini berada di Sanggar Adi Raos, Dukuh Bojong, RT 10, Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen ini sudah mulai ditampilkan di event-event tertentu.

“Acara terakhir Solo International Performing Art (SIPA), September kemarin, lewat daring. Sebelumnya acara dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sragen,” ujar Teki, mengurai perjalanan digunakannya alat musik batu ciptaannya.

Untuk jumlah pemain gamelan, Teki melibatkan delapan penabuh dan satu penyanyi.

Penabuh dan penyanyi berasal dari keluarga dekat Teki. Sementara sinden atau penyanyinya adalah sang ibu, dan ayah Teki menjadi penabuhnya.

Teki mengaku, bakat yang dia miliki merupakan turunan dari kedua orangtuanya.

“Akhirnya alat musik ini juga dimainkan anak paman, yang jadi penabuh gamelan. Untuk memainkan alat musik batu ini sudah ada tim sendiri,” terang Teki, mengakhiri bincang-bincang dengan inspirasiline.com.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *