Penulis: Supriyani
SUKOHARJO | inspirasiline.com
SATUAN Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Sukoharjo mendorong agar setiap rumah sakit (RS) rujukan pasien Corona melakukan kebijakan strategi mitigasi untuk mengendalikan Covid-19.
Berdasarkan data Satgas, kumulatif jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 Sukoharjo hingga Minggu (13/12/2020), tercatat telah menembus 2.153 orang. Satgas mencatat ada tambahan 65 kasus konfirmasi baru pada Sabtu (12/12/2020).
Strategi mitigasi dilakukan agar upaya pencegahan Covid-19 makin efektif. Mitigasi Covid-19 dilakukan manajemen RS Sukoharjo dengan menyaring pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dan suspek dengan pasien reguler.
Pasien terkonfirmasi positif dan suspek mendapat penanganan langsung Satgas Covid-19. Sedangkan pasien reguler bakal dilayani poliklinik rumah sakit.
“Dengan menjalankan strategi mitigasi Covid-19 akan memudahkan dan mempercepat rumah sakit menangani pasien positif dan suspek yang perlu penanganan khusus dari Satgas. Hal ini sudah dijalankan RSUD Ir Soekarno dalam penanganan kasus Covid-19,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Sukoharjo yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo dr Yunia Wahdiyati, Minggu (13/12/2020).
Kasus Positif Aktif
Berdasarkan data pada laman corona.sukoharjokab.go.id, Minggu (13/12/2020), dari total kasus konfirmasi positif Covid-19 Sukoharjo yang masih aktif, ada 144 orang yang menjalani rawat inap di RS.
Sisanya, sebanyak 194 kasus positif aktif menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing. Hanya satu orang yang menjalani isolasi di Rumah Sehat Kelurahan Mandan, Sukoharjo.
Pada sisi lain, jumlah kasus kematian pada pasien konfirmasi positif Covid-19 Sukoharjo juga masih tinggi. Total jumlah pasien positif Corona yang meninggal dunia hingga Minggu ada 109 orang.
Namun demikian, jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 yang sembuh 1.705 orang. Angka kesembuhan atau recovery rate dan angka kematian atau mortality rate juga menjadi acuan mitigasi Covid-19 RS rujukan Kabupaten Sukoharjo.
Saat ini, Sukoharjo masih daerah dengan tingkat risiko tinggi atau zona merah Covid-19. Status kejadian luar biasa (KLB) dan masa tanggap darurat Covid-19 masih berlaku. Potensi transmisi virus cukup tinggi, karena tingginya mobilitas masyarakat sehari-hari.
“Penambahan pasien positif bakal terus terjadi jika masyarakat mengabaikan protokol kesehatan saat beraktivitas luar rumah. Mereka tak memakai masker saat mengobrol dengan orang lain dan tak sengaja terpapar Covid-19,” ujarnya.
Program Jogo Tonggo
Yunia Wahdiyati menyampaikan, masyarakat memegang peran vital dalam upaya memutus mata rantai penularan Covid-19. Mereka bisa mengoptimalkan program Jogo Tonggo yang digulirkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, beberapa bulan lalu.
Masyarakat bisa saling mengingatkan agar selalu beradaptasi kebiasaan baru, seperti memakai masker dan rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
Sementara Kepala Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Sukoharjo Ismoyo Sidik mengatakan, upaya pencegahan Covid-19 masih terus dilakukan dengan penyemprotan disinfektan secara rutin.
Penyemprotan disinfektan itu menyasar rumah penduduk, fasilitas publik, kantor pemerintah, hingga masjid dan gereja. Sukarelawan PMI Sukoharjo menggandeng anggota karangtaruna dan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setiap desa/kelurahan.***
