Dilestarikan, Situs Bonggan Masih Dipercaya sebagai Tempat Pesugihan

INSPIRASIANA

Penulis: Yokanan
BLORA | inspirasiline.com

SITUS Bonggan yang berada di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan, masuk Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kalinanas Petak 19C dengan luas 0,91 hektare, merupakan warisan budaya masa lampau yang perlu dipertahankan untuk kearifan budaya lokal.

Situs Bonggan juga dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat untuk mendapatkan keberuntungan atau pesugihan.

Dari cerita turun-temurun, masyarakat Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Bonggan dikenal sebagai pasarnya lelembut (makhluk gaib).

Beragam cerita mistis pernah terkuak di media. Bahkan mulai dari Bus Pahala Kencana yang pernah nyasar ke dalam hutan dan truk pengangkut material juga pernah masuk di alam lelembut (25/7/2012).

Masyarakat yang tahu mengenai dunia lain, menyebutnya sebagai “kota gaib” atau “kota lelembut”.

Seiring perkembangan zaman, Wakil Administratur KPH Mantingan Dwi Anggoro Kasih usai rapat keamanan dengan Danru dan Asper, Jumat (12/3/2021) membenarkan bahwa Situs Bonggan yang ada di BKPH Kalinanas itu tetap dilestarikan, untuk melindungi warisan budaya masa lampau. Situs itu pun sudah diberi plang atau papan namanya.

“Dalam Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL), situs-situs yang ada dalam kawasan hutan untuk dikhususkan dan dikelola sebagai sumber budaya lokal dan tetap dikelola, tidak ditebang pohon-pohon sekitarnya, dan tetap mempertahankan dan menjaga kearifan lokal,” jelas Dwi Anggoro.

Dari cerita leluhur Alas Bonggan, menurut Mbah Kesi –sesepuh warga Desa Kalinanas– menuturkan, Alas Bonggan merupakan “kota gaib”, juga pasar lelembut dan sering digunakan orang untuk mencari pesugihan.

Terasa Mistis
Situs Bonggan saat ini masih terasa mistis bagi orang yang belum pernah menginjakkan kaki di Hutan Kalinanas.

“Beberapa tokoh masyarakat di sekitar Situs Bonggan yang ada di Petak 19C menceritakan bahwa masih sering orang-orang mendatangi Situs Bonggan ingin mencari keberuntungan dan pesugihan,” ungkap Mbah Kesi.

baca juga:  Baliho Unik “Bu Tejo” Ternyata Viral

Lasiman, salah satu warga Dukuh Gagan, Desa Kalinanas menambahkan, akhir-akhir ini sudah tidak banyak orang yang memasuki Situs Bonggan. Konon ada cerita, jika orang selain warga setempat masuk Situs Bonggan, maka warga sekitar akan kesulitan dalam mencari rezeki atau nafkah.

“Karena itu, masyarakat Dukuh Gagan masih mempercayainya, sehingga bila ada orang bukan penduduk setempat masuk Situs Bonggan, mereka melarangnya,” ujar Lasiman.

Cerita itu pun bergulir hingga kini dan tetap dipercaya masyarakat Dukuh Gagan. Entah siapa orang pertama yang menyebarkan cerita itu, sampai sekarang tidak ada yang tahu.

Kepala Desa Kalinanas Jani mengatakan, situs-situs yang ada di desa maupun di kawasan hutan harus tetap dipertahankan dan dijaga.

“Karena ini adalah warisan budaya masa lalu yang kita pertahankan keasliannya, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya mengganti UU No 5 Tahun 1992 yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan, tuntutan, dan kebutuhan hukum dalam masyarakat,” tuturnya.

Ketua LMDH Sumber Rejeki Salikin, yang juga mantan kepala Desa Kedungbacin menambahkan, petak pangkuan yang masuk BKPH Kalinanas yang berada di Petak 19C merupakan lokasi Situs Bonggan, yang sampai sekarang masih dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat untuk mencari kelancaran rezeki dan juga masuk cagar budaya.

“Kami akan tetap menjaga kearifan lokal, yang perlu untuk tetap dilestarikan keberadaannya,” tandas Salikin.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *