Penulis: Budhy HP | Editor: Dwi NR
TEMANGGUNG | inspirasiline.com
Dengan model bercerita menggunakan APE ini, seorang guru PIAUD dapat memberikan edukasi kepada anak mengenai topik yang disajikan.

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung memiliki Lab School PIAUD STAINU Temanggung (Elpist) sebagai sarana peningkatan kompetensi mahasiswa dalam melaksanakan pendidikan di tingkat anak usia dini.
Selain mengikuti berbagai mata kuliah dalam Prodi PIAUD, para mahasiswa STAINU Temanggung mendapatkan pembelajaran di Elpist. Di laboratorium ini, para mahasiswa melakukan inovasi untuk menciptakan alat peraga edukatif (APE) berkarakter unik dan menarik sebagai permainan anak.
Dalam pembelajaran di Elpist, para mahasiswa dihadapkan langsung dengan peserta didik PIAUD, sehingga dapat berinteraksi langsung dengan peserta didik anak usia dini.

Hampir seluruh pembelajaran menggunakan metode permainan edukasi. Oleh karena itu, mahasiswa tertantang untuk menciptakan inovasi pembuatan alat-alat peraga pembelajaran yang menarik bagi anak-anak. Di antaranya adalah membuat boneka tangan dengan berbagai karakter.
Boneka tangan tersebut berupa kantong seperti sarung tangan diberi gambar-gambar karakter seperti kucing, harimau, panda, burung, dan lainnya.
Dengan model bercerita menggunakan APE ini, seorang guru PIAUD dapat memberikan edukasi kepada anak mengenai topik yang disajikan.

Demikian pula, dengan menggunakan alat peraga lain karya mahasiswa STAINU, seperti wayang tangan, aneka visualisasi buah dan sayur, alat-alat pertanian, sampai pada pembelajaran dengan Bahasa Inggris, pembelajaran di Elpist dapat mencapai sasaran secara maksimal.
Kepala PIAUD Elpist Hesti Armayanti mengatakan, ada lima aspek yang dikembangkan dalam Elpist, yaitu aspek agama, kognitif, fisik, motorik, nilai agama, moral, serta bahasa yang dikemas dalam pembelajaran sentra. Selain itu, ada praktik pembiasaan ibadah seperti salat dhuha, berdoa sebelum makan, pengenalan tahlil, salawat, dan lainnya yang dikemas menggunakan Kurikulum 2013.
“Ada tiga layanan dalam laboratorium Elpist Taman Kanak-kanak, yaitu Bimbingan Konseling, Kelompok Bermain, dan Taman Penitipan Anak, didukung program unggulan pengenalan aswaja sejak dini seputar ahlussunnah waljamaah,” papar Hesti Armayanti.
Desain ruangan Elpist juga dibuat sedemikan rupa dengan lukisan-lukisan di dinding yang menggambarkan kekayaan hayati biota laut. Jika berada dalam ruangan lorong di antara ruang kelas, anak-anak seakan berada dalam sebuah akuarium raksasa yang penuh biota laut.
Dengan pengenalan alam seperti ini setiap hari, maka anak-anak semakin hapal dan mudah mengenal aneka jenis ikan serta makhluk hidup yang hidup di laut.
Pengenalan alam lain di luar laut, seperti kegiatan petani di sawah, aneka tanaman buah dan sayuran, kegiatan perdagangan, pengenalan mata uang, dan lainnya menggunakan alat peraga maupun hunting ke lokasi yang sebenarnya melalui kegiatan outbound.
Ketua Prodi PIAUD STAINU Yuni Setya Hartati mengatakan, dari teori-teori di kelas, kemudian mahasiswa mengikuti kelas micro teaching untuk mempraktikkan mengajar di kelas.
“Setelah praktik di kelas micro teaching, maka praktik mengajar anak PAUD yang sesungguhnya adalah di laboratorium Elpist, menggunakan alat peraga edukatif atau APE,” tandas Yuni Setya Hartati.***
