Praktik Terbaik Pembelajaran Literasi Pendidikan Dasar Era New Normal

CATATAN

Catatan: Ahmat Yulianto

Pendidikan literasi ini dinilai dapat membuat siswa tetap kreatif dan aktif di era new normal. Karena siswa mampu membaca situasi dengan baik, mengeksplorasi pengetahuan, serta mentransformasikan menjadi pengetahuan.

PENDIDIKAN merupakan suatu proses di mana suatu keilmuan dikembangkan dengan berbagai strategi dan cara dalam pengajaran.

Namun ketika wabah Covid-19 ini menyerang seluruh dunia, bahkan sampai Negara Indonesia, virus Corona mampu mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia, baik dari aspek ekonomi, kesehatan, bahkan dunia pendidikan pun turut terkena imbasnya. Akibatnya, guru, orangtua, dan siswa dituntut untuk mampu melek teknologi digital.

Model pembelajaran daring kini menjadi salah satu cara terbaik untuk mengatasi permasalahan pendidikan saat ini. Banyak platform-platform yang menjadi pilihan untuk tetap melaksanakan pembelajan, mulai dari WhatsApp (WA), Zoom, Google Meet, Messenger Room, dan lain sebagainya.

Tapi ketika pembelajaran hanya melalui metode daring, saya rasa banyak siswa yang kurang bisa memenuhi standar kelulusan dan belum mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Ini disebabkan karena terkadang anak belum paham dengan pelajaran, tapi pelajaran harus tetap dilanjutkan.

Kemudian banyak dari siswa itu sendiri yang disibukkan dengan cara pemakaian platform-platform yang belum mereka kuasai sebelumnya, dan inilah yang menjadi kendala siswa dalam menghadapi pendidikan menggunakan metode daring.

Untuk itu perlu dibuat terobosan-terobosan metode pembelajaran baru yang mampu meningkatkan kemampuan siswa di segala bidang dalam pendidikan. Mungkin salah satunya adalah pendidikan literasi.

Pendidikan literasi ini harus dibiasakan sejak di pendidikan dasar. Kemampuan literasi dasar ini menjadi sangat penting, tidak hanya bagi peserta didik, tapi juga bagi orangtua dan seluruh warga masyarakat.

Pendidikan literasi ini dinilai dapat membuat siswa tetap kreatif dan aktif di era new normal. Karena siswa mampu membaca situasi dengan baik, mengeksplorasi pengetahuan, serta mentransformasikan menjadi pengetahuan.

Praktik pembelajaran literasi di tingkat sekolah dasar ini sangat dibutuhkan untuk manifestasi agenda kegiatan belajar dengan keberagamannya, sesuai kreativitas dan kondisi serta kemampuan satuan pendidikan dalam menerjemahkan praktik tersebut.

Praktik pembelajaran literasi itu bisa dilakukan di mana saja, tidak harus di sekolah, namun juga bisa dilakukan di rumah dengan bimbingan guru tentunya.

Seorang guru harus mampu memberikan motivasi kepada siswanya setiap hari, agar siswa mau untuk selalu membaca buku walau hanya 15 menit setiap harinya. Dengan mambaca buku tersebut, siswa akan memperoleh pengetahuan tambahan yang tidak didapat saat pembelajaran daring.

Dengan program 15 Menit Membaca pun, perlu dirangkai dengan kebiasaan baik lainnya, yakni dengan diawali salat Duha terlebih dulu, kemudian dilanjutkan dengan membaca Alquran, dan setelah itu program literasi di bawah bimbingan guru.

Peserta didik kemudian diminta membuat kesimpulan sederhana pada secarik kertas terkait isi dari buku yang dibaca tadi, sehingga siswa mampu memperoleh pengetahuan yang lebih.

Dengan cara itu, budaya literasi peserta didik dapat terbangun dan wawasan mereka pun tentunya bertambah. Selain itu juga akan mampu membentuk karakter pribadi siswa menjadi lebih baik.***

*) Ahmat Yuliyanto, adalah Mahasiswa PGMI Inisnu Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia.
Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *