Penulis: Laras W Gandaningrum | Editor: Dwi NR
KENDAL | inspirasiline.com
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Peribahasa ini menjadi motivasi bagi pianis belia Jefri Setiawan dalam menggapai cita-cita.

SEJAK duduk di bangku SD, Jefri fokus berlatih piano dengan mata tertutup selama tiga sampai lima jam, setiap hari.
Ketekunan Jefri mengasah keterampilannya memainkan piano tak sia-sisa. Pelajar yang baru lulus dari SMP Negeri 2 Kendal, baru-baru ini sukses membawakan 150 lagu dengan mata tertutup selama 3 jam 45 menit tanpa henti.
Atas keberhasilannya itu, Jefri meraih beberapa penghargaan tingkat dunia. Sebut saja Europan Records Book, American Book of Records, Record Holders Republic UK, dan Royal Success International Book of Records dalam Kategori “Memorizing 150 Songs While Playing Piano in Blind Folded for 4 Hours Nonstop.”

Atraksi siswa kelahiran 2006 dalam bermain piano dengan mata tertutup tersebut digelar di Universitas Yarsi Jakarta. Undangan yang menyaksikan penampilannya, dari kalangan akademisi, pejabat, politikus, dan musisi pun terharu bercampur bangga. Betapa tidak, anak bangsa berusia 15 tahun ini selama hampir 4 jam menunjukkan talentanya yang begitu memukau.
Atas prestasi yang berhasil diukirnya, Jefri mendapat beasiswa dari Gubernur DKI Jakarta Anies Bawesdan untuk melanjutkan pendidikannya di SMA Panglima Besar (PB) Soedirman, yang memiliki program SKS (2 tahun).

Rektor Universitas Gunadarma Prof ES Margianti juga menyediakan beasiswa S1 Kedokteran dan biaya hidup selama kuliah.
Peran Ortu-Guru
Ketika ditemui inspirasiline.com di Gedung PGRI Kendal, Senin (5/7/2021) lalu, Jefri mengaku keberhasilannya menjadi pemecah rekor dunia sebagai pianis, berkat dukungan dan bimbingan kedua orangtua dan para gurunya.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada papa dan mama, yang total mengarahkan dan mendukung minat saya di bidang musik. Demikian pula kepada guru pembimbing dan guru, serta Kepala SMP Negeri 2 Kendal Supardi yang memberikan kesempatan, sehingga saya bisa mengembangkan keterampilan, baik di bidang musik maupun Bahasa Inggris. Selama dua pekan setiap tiga bulan sekali saya diizinkan mengikuti kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris Kediri sampai mampu berkomunikasi dengan baik,” ungkap putra pasangan Joko Manis-Indah Setyoningsih ini, terharu.

Kepala SMP Negeri 2 Kendal Supardi yang turut mendampingi Jefri berbincang dengan inspirasiline.com mengatakan, kedua orangtua Jefri mudah diajak komunikasi untuk bersama-sama men-support supaya talentanya terus berkembang.
“Kami arahkan dia agar dapat mengikuti kursus secara intensif di Kampung Inggris di Kediri, Jawa imur, sehingga ketika ada kesempatan bermain di luar negeri, Jefri dapat berbicara dengan Bahasa Inggris. Prediksi saya tidak meleset. Ketika ada undangan tampil di Malaysia, Singapura, Jerman, dan India, dia mampu berkomunikasi dengan bahasa dunia secara lancar,” terang Supardi, yang sangat bangga dengan prestasi anak didiknya ini.
Jefri mulai mengenal musik sejak usia 6 tahun. Kedua orangtuanya membelikan Jefri kibor, meski mereka sekeluarga tidak bisa memainkan.
Dengan pendampingan guru, Jefri kecil pun giat berlatih setiap hari, tiga sampai lima jam.

Suatu hari, ketika asik bermain kibor, dia tertidur, namun jemarinya tetap bergerak membawakan lagu dengan betul.
Dari pengalaman unik tersebut, sulung dari tiga bersaudara ini pun didukung orangtua dan para gurunya untuk mengasah bakat bermain piano dengan mata tertutup.
Bercita-cita Dokter-Musisi
Saat ini Jefri mulai menapaki menuju cita-citanya, sebagai dokter sekaligus musisi profesional. Remaja yang menyenangi Mata Pelajaran Biologi ini memanfaatkan beasiswa yang diberikan Gubernur DKI Jakarta Anies Bawesdan, dengan melanjutkan pendidikannya di SMA PB Soedirman Jakarta.
Setelah lolos seleksi Program SKS 2 Tahun, dia mulai fokus mempersiapkan mental dan komitmennya untuk belajar lebih giat.
“Saya sadar tidak mudah berada di Kelas SKS yang hanya diikuti oleh 10 siswa. Dengan program 2 tahun, tentu materi dan pembelajaran lebih padat, sehingga saya harus belajar lebih giat agar tidak ketinggalan,” ujar siswa yang mulai serius mempelajari materi yang akan diterima.
Jefri menyadari, untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter harus disertai perjuangan yang gigih dan pasti penuh tantangan.
Dengan didapatnya beasiswa dari Rektor Universitas Gunadarma untuk kuliah di Fakultas Kedokteran, Jefri mengaku sangat bersyukur, karena Allah telah memberikan jalan dan kemudahan untuk dirinya yang bercita-cita menjadi seorang dokter dan musisi profesional ini.***
