Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com
BUPATI Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menjadi salah satu narasumber webinar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia (RI) bertema “Jual-Beli Jabatan: Kenapa dan Bagaimana Solusinya?”, Kamis (16/9/2021).
Webinar dibuka Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Tjahjo Kumolo sebagai keynote speech bersama Ketua KPK Firli Bahuri. Bertindak sebagai moderator Plt Deputi Koordinasi dan Supervisi KPK Pahala Nainggolan.
Selain Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati, turut menjadi narasumber Bupati Indramayu Nina Agustina, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi, Bupati Luwu Utara Indrah Putri Indriani, dan Walikota Tanjungpinang Rahma.
Plt Deputi Koordinasi dan Supervisi KPK Pahala Nainggolan mengatakan, webinar yang disiarkan langsung dari kanal Youtube KPK itu menghadirkan narasumber terpilih mewakili 542 kepala daerah se-Indonesia yang dinilai tidak pernah melakukan jual-beli jabatan.
“Terima kasih kepada lima narasumber yang kami rasa sangat berkompeten. Diinformasikan kepada masyarakat, syukur-syukur dari lima ini kita bisa formulasikan solusinya,” ungkap Pahala Nainggolan.
Saat ditanya oleh moderator terkait jual-beli jabatan, Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati menegaskan bahwa menjadi pemimpin, khususnya kepala daerah harus diniatkan untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Hal itu dianggap penting untuk mencegah kepala daerah dari tindakan korupsi, termasuk jual-beli jabatan.
“Memang iya, beberapa rekan kami, bupati/walikota tertangkap, karena suap jabatan. Tapi perlu diingat, ada 542 bupati/walikota di Indonesia dan saya yakin sebagian besar punya integritas serta ketulusan mengabdi untuk daerah dan masyarakatnya,” ujarnya.
Sejak awal menjadi Bupati Sragen pada periode pertama (2016-2021) hingga periode kedua (2021-2026), Yuni Sukowati komitmen akan selalu bersikap profesional, karena niat utamanya adalah membangun Sragen dan sumber daya manusia (SDM)-nya lebih baik lagi.
“Semuanya diawali dari niat pribadi bahwa memimpin daerah adalah untuk mengabdi kepada masyarakat, bukan mencari kekayaan pribadi. Sampai hari ini, alhamdulillah saya nyaman dengan teman-teman abdi sipil negara (ASN) Sragen, karena mereka sudah tahu bagaimana integritas dan kredibilitas saya,” terang Yuni, sapaan akrab Bupati Sragen.
Yuni juga tidak menampik, banyak yang melobinya untuk meminta jabatan di pemerintahan. Namun, Yuni menegaskan bahwa sebagai bupati, dirinya punya komitmen independen dalam mengambil sebuah keputusan. Termasuk saat melaksanakan lelang jabatan atau open bidding.
“Ada yang berani titip, saya coret. Akhirnya sekarang terbentuk sistem itu, tidak ada lagi ASN yang minta kedudukan jabatan,” tegasnya.
Menurutnya, jika manajemen ASN dipedomani, praktik jual-beli jabatan juga tidak akan terjadi.
“Sistem manajemen ASN memang penting. Tapi sebagus apapun sistemnya, pasti tidak bisa sempurna. Kunci utama dari menjadi pemimpin, dalam urusan apapun, terlebih manajemen ASN, adalah integritas dan komitmen pemimpin itu sendiri. Itulah yang akan menyempurnakan sistem,” imbuhnya.
Sebagai tim pelaksana pengawas, kata Yuni, Inspektorat harus berperan optimal sebagai tim penilai maupun dalam seleksi JPT pratama.
“Sehingga dipastikan Inspektorat berperan. Kalau kami dari pimpinan memberikan contoh sikap integritas, profesional, akuntabel, dan transparan yang baik, kami yakin ke bawah pun tidak akan terjadi apa-apa. Karena dengan ketegasan dari pimpinan, pasti akan menular dan menjalar ke bawah,” tandasnya.***
