Penulis: Supriyani
SUKOHARJO | inspirasiline.com
PULUHAN tahun telah bergelut dengan getah karet, itulah pekerjaan yang dilakoni Surono (44) dan kawan-kawannya sebagai penyadap karet di perkebunan karet milik PTP IX Polokarto wilayah Kebun Batu, Jamus.
Surono mengatakan, dia bekerja di PTP IX sebagai penyadap karet sudah sekitar 23 tahun, sejak 1998 hingga sekarang.
Surono mengungkapkan, pekerjaannya ini memerlukan ketekunan dan keuletan. Pasalnya, untuk mencari (menyadap) getah karet, dia harus bangun sekira pukul 02.00 dinihari.
Kegiatan itu dilakukan, untuk menaruh wadah deresan berupa kotak kecil berbentuk segi empat berbahan plastik, yang dipasang tepat di bawah garis deresan.
“Baru nanti, pagi-pagi saya tengok, wadah itu sudah penuh,” ujar bapak dari dua anak, yang mengaku sebagai buruh harian lepas di PTP IX dengan tugas utama menyadap getah karet.
Setelah mengambil hasil sadapan, lalu getah karet tersebut dibawa ke pabrik untuk diolah.
Namun, Jumat (17/9/2021) tak seperti hari lain bagi Surono. Dia kedatangan Muspika Polokarto, yang memberikan bantuan sembako kepada para penyadap karet.
“Selain diberi sembako, kami juga diajak sarapan bareng sama beliau. Kami berterima kasih dan sangat senang, bapak-bapak pejabat masih peduli kepada kami dan berbaur bersama, duduk di semak-semak untuk menikmati makan pagi. Serasa nggak ada sekat antara pejabat dan masyarakat,” tuturnya.
Sementara Koco Saguh Pribadi selaku Abdelin PTP IX Polokarto, masuk wilayah Kebun Batu, Jamus kepada wartawan menjelaskan, PTP IX seluas 702 hektare.
Ada dua komoditas yang ditanam, yaitu karet dengan luasan 500 hektare dan 200 hektare lainnya untuk lahan tebu.
Seluruh karyawan berjumlah 130 orang, baik karyawan tetap, harian lepas, dan pengawas.
Untuk penyadapan dengan sistem rotasi tiga hari sekali, hasil sadapan per hari untuk pohon tanam muda bisa dapat 500 pohon, sedangkan untuk pohon tanam tua mendapat 300-350 pohon.
Mengenai harga karet, tergantung kualitas. Untuk sit 1 dihargai Rp 30 000/kg dan latek beku/kompon seharga Rp 22 000/kg.
“Panen karet bisa tiap tahun dan hasil yang lebih bagus pada saat musim hujan. Selama ini tidak ada kendala yang berarti dalam mengelola kebun karet dan tebu ini, karena lingkungan masyarakat sekitar cukup mendukung,” terang Koco.***
