Kurdianto Olah Tanaman Padi Tanpa Urea

INOVASI

Rembang-Inspirasiline.com. Kurdianto, seorang petani warga Dukuh Kedungwatu, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, berhasil mengelola sawah padi tanpa menggunakan pupuk urea.

Inovasi yang ia kembangkan berawal ketika dia mengikuti pelatihan di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Sumber tentang bagaimana cara mengurangi penggunaan pupuk urea.

Selain itu, akurdianti juga mengikuti pelatihan yang di gelar oleh Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Provinsi Jawa Tengah tentang pemanfaatan pupuk organik menggunakan bahan dasar mikrobakteri. Lantas Kurdianto memanfaatkan ilmu dari kedua kegiatan tersebut.

Ia mengungkapkan, untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan sistem vegetatif, Kurdianto memakai taoge atau buah maja. Sedangkan untuk generatif, memakai campuran umbi-umbian. Campuran tersebut juga berguna untuk mencegah tumbuhnya jamur pada tanaman.

“Dari sistem awal kocor (tanah disiram pakai gayung) waktu olah tanah, sekitar 200 liter. Saat pengolahan tanah mikrobakteri dicampur dengan air, perbandingannya 1:2, setelah itu disemprot pupuk Jakaba yang kita buat sendiri, “ tutur Kurdianto.

Anggota kelompok tani “Angudi Luhung Tani 2” tersebut sempat dimarahi oleh ayahnya saat baru pertama kali mencoba inovasi ini. Akan tetapi kurdianto tetap memberanikan diri mengolah lahan seluas 2000 m² miliknya.

Saat ini padi yang dikelola oleh Kurdianto telah memperlihatkan hasil yang nyata. Pada tanaman padi berjenis cakra buwana, ia menuturkan masa panen padi tersebut yaitu 85 hari. Saat ini padi miliknya telah berusia 80 hari, sehingga kemungkinan nanti akan panen dalam beberapa hari ini.

Inovasi yang dikembangkan oleh Kurdianto tersebut mendapatkan apresiasi langsung dari Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang, Agus Iwan Haswanto.

Agus menilai, Kurdianto merupakan sosok serta contoh yang baik karena mampu menerapkan ilmu yang ia dapatkan saat mengikuti pelatihan.

baca juga:  Walikota Tegal Dedy Yon Menerima Anugerah PWI Jateng Award 2022

“Rencana akan kita ekspos dan getok tular kan ke yang lain. Ternyata budidaya padi dengan cara organik pun bisa, tidak harus pakai pupuk anorganik,”ungkap Agus.

Agus menambahkan, Kabupaten Rembang memiliki potensi untuk memproduksi pupuk organik dengan total populasi sapi sekitar 130 ribuan.

“Penggunaan pupuk organik ini perlu dipacu sehingga bisa menjadi solusi di tengah mahalnya pupuk anorganik,” pungkas Agus. (Yon Daryono)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *