Sragen-Inspirasiline.com. Akhir-akhir ini dihebohkan dengan salah satu wabah Cacar Monyet yang akan segera masuk ke Indonesia. Belum selesai dengan pandemi Covid-19 kini harus bersiap menghadapi wabah Cacar Monyet yang telah menjadi perhatian dunia dan kembali merebak diawal 2022.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen dr. Hargiyanto M.Kes mengkonfirmasi apa yang disampaikan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Senin (22/8/2022) kemarin saat ini kasus pertama Penyakit Cacar Monyet sudah masuk di Indonesia. Kasus Cacar Monyet terkonfirmasi pada pasien laki-laki berusia 27 tahun berasal dari Jakarta serta baru pulang dari luar negeri.
Menurutnya penanganan selanjutnya sesuaii prosedur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adanya perintah untuk vaksinasi terbatas terkhusus bagi seseorang yang kontak erat terlebih dahulu. Selanjutnya akan dilakukan tracing seperti Covid-19 dan dicek untuk mengetahui diagnosanya dengan cara PCR.

Apa itu Cacar Monyet? Apakah berbahaya? Apa saja penyebabnya? Cacar Monyet adalah infeksi virus monkeypox (anggota genus Orthopoxvirus dalam keluarga Proxvindae) yang umumnya terjadi di Afrika Tengah dan Afrika Barat.
Penyakit Cacar Monyet sejauh ini tidak berbahaya dan tingkat kematiannya pun lebih rendah daripada penyakit lain.
Penularan Cacar Monyet pada saat sudah bergejala, seperti mengalami bintik atau ruam dan harus kontak langsung. Tidak seperti pada virus Covid-19, seseorang yang belum bergejala pun sudah bisa menularkan.
Penyakit ini dapat bersifat ringan dengan gejala yang berlangsung 2 – 4 minggu, namun bisa berkembang menjadi berat dan bahkan kematian tingkat kematian (3 – 6 %). Penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan orang ataupun hewan yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi dengan virus tersebut.
Sejak tanggal 13 Mei 2022, (WHO) telah menerima laporan kasus Monkeypox yang berasal dari Negara non endemis, dan saat ini telah meluas ke-3 Regional Eropa, Amerika dan Western Pasific. Negara non endemis yang telah melaporkan kasus meliputi Australia, Belgia, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia, Inggris dan Amerika.
Gejala Cacar Nonyet
Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) Monkeypox biasanya 6 -13 hari., tetapi dapat berkisar dari 5 – 21 hari. Masa infeksi dapat dibagi kedalam 2 fase:
Fase akut atau prodromal (0- 5 hari) berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan kelelahan yang terus menerus. Limfadenopati dapat dirasakan dileher, ketiak atau selangkangan/lipatan paha.
Fase erupsi ( sekitar 1 – 3 hari setelah timbul demam) berupa munculnya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar kebagian tubuh lainnya secara bertahap. Ruam paling banyak muncul pada wajah (95% kasus), telapak tangan dan telapak kaki (75% kasus). Ruam atau lesi ini berkembang mulai dari bintik merah melenting seperti Cacar (Makulopapula), lepuh kecil berisi cairan bening (Vesikel), lepuh kecil berisi nanah (Pustula), kemudian mengeras atau krusta lalu rontok. Pada fase yang berlangsung 10 hari ini, seseorang berpotensi menularkan penyakit ini hingga semua krusta menghilang dan rontok.
Pengobatan dan Cara Pencegahannya
Saat ini belum ada pengobatan yang spesifik untuk Infeksi virus Monkeypox. Pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul. Gejala penyakit Monkeypox pada umumnya dapat diobati dan dapat sembuh dengan sendirinya tergantung dengan imunitas penderita.
Vaksin yang digunakan selama program pemberantasan cacar (Smallpox) memberikan perlindungan terhadap Monkeypox. Vaksin baru yang dikembangkan untuk smallpox telah disetujui pada 2019 untuk digunakan dalam mencegah Monkeypox namun ketersediaan global masih terbatas.
Berikut cara pencegahan untuk mengurangi resiko penularan
Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat
Hindari kontak fisik dengan siapa saja yang memiliki gejala atau barang terkontaminasi
Hindari kontak langsung atau provokasi Monkeypox yang diduga terinfeksi Monkeypox seperti hewan pengerat, marsupial, primate non-manusia (Mati atau Hidup).
Hindari mengonsumsi atau menangani daging yang diburu dari hewan liar (Bush meat). Biasakan mengonsumsi daging yang sudah dimasak dengan benar
Mengurangi resiko penularan bagi pelaku perjalanan Negara endemis (utamanya penularan bagi pelaku perjalanan Negara endermis (Utamanya penularan dari hewan ke manusia)
Pelaku perjajalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala dan menginformasikan riwayat perjalannya. ( Sugimini/17- Release Diskominfo Sragen)

Hi there mates, its enormous piece of writing on the topic of cultureand fully explained, keep
it up all the time.
Here is my blog post; Sarap