Kerugian Rp 18 Miliar, 10 Km Pantai Rembang Rusak Dihantam Gelombang

NEWS

Rembang-Inspirasiline.com. Sekitar 10 kilometer pantai di Rembang mengalami kerusakan, akibat dihantam gelombang besar selama 2022. Kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp 18 miliar.

Data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang menyebutkan, selama 2022 di Rembang telah terjadi hantaman gelombang besar yang mengakibatkan kerusakan di 11 titik breakwater atau bangunan penahan gelombang. Tersebar di Kecamatan Kaliori, Rembang, Lasem, Kragan dan Sarang.

Salah satunya Pantai Caruban, Kecamatan Lasem. Dari pantauan media ini Selasa (24/1), pantai wisata ini terkena abrasi cukup parah. Di lokasi yang rusak telah dipasang tanggul sementara dari karung yang berisi pasir.

Lina dan Suswati dua pedagang di pantai Caruban kepada Inspirasiline.com menuturkan, ombak besar yang merusak pantai Caruban terjadi tahun lalu.

“Ombak besar terjadi bulan Nopember dan Desember. Klu tidak di talud, semua lokasi kios ini kena ombak,” tutur Suswati.

BPBD Rembang mencatat, gelombang besar rata-rata terjadi pada bulan Mei. Panjang kerusakan bervariatif mulai dari 35 meter sampai dengan dua kilometer. Seperti di pantai Desa Pandangan Kulon, Kecamatan Kragan. Kerusakan breakwater mencapai 2 Km.

Kemudian di Desa Pandangan Wetan 250 meter, dan Desa Kragan sekitar 1 Km. Jika di total panjang keseluruhan kerusakan sekitar 10 kilometer dengan total kerugian mencapai sekitar Rp 18 miliar.

Pemkab Rembang telah mengusulkan pembangunan breakwater kepada pemerintah pusat. Seperti di Desa Karangharjo, Kragan, yang sudah dibangun tanggul permanen.

Sementara untuk wilayah lain, seperti di Pantai Caruban, Lasem, baru dilakukan penanganan sementara.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Agung Dwi Prasetya menyatakan, saat ini ada pemantauan di sepanjang pantai. Mulai Kaliori, Rembang, Lasem, Sluke, Kragan, dan Sarang.

baca juga:  Menyambut Kemerdekaan RI OPD Kabupaten Sragen Mengikuti Lomba Olah Raga Tradisional

Pantauan itu sudah dilakukan mulai 11 Januari lalu sampai dengan 40 hari ke depan.

“Jadi siaga bencananya dari awal Januari sampai 31 Maret. Di daerah sepanjang pantai kita selalu siaga dan waspada,” terang Agung. (yon)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *