Wonogiri-Inspirasiline.com. Hampir dua bulan, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri tidak turun hujan. Akibatnya, sumur mulai asat, lahan sawah, tegalan, terlihat pecah – pecah (Jw.nela) rumput mengering, pepohonan meranggas bagai tombak seribu.
Wonogiri terkenal memiliki Waduk Gajah Mungkur (WGM) mampu menampung jutaan liter air.
Walau demikian, air tersebut sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian di daerah Wonogiri selatan, seperti; Baturetno, Giriwoyo, Giritontro, Paranggupito, Pracimantoro, dan Eromoko. Hal ini disebabkan geografi Wonogiri selatan lebih tinggi ketimbang perairan Waduk Gajah Mungkur.

Petani Kecamatan Baturetno hanya mengandalkan air tadah hujan, dan kiriman air dari Bendungan Ngancar, Kecamatan Batuwarno. Bendungan tersebut mengairi sawah di beberapa desa yang berada di Kecamatan Baturetno, seperti ; Desa Temon, Saradan, Watuagung, Balepanjang, Baturetno, Glesungrejo, dan Gambiranom.

Musim kemarau seperti saat ini, bendungan Ngancar tak lagi mampu mencukupi kebutuhan air, ke daerah tersebut. Akibatnya para petani tak lagi bisa menanam padi gadon.

Wartawan inspiradiline.com, menyempatkan waktu menelusuri irigasi dari Desa Temon, berakhir di Desa Gambiranom, kurang lebih 8 km, terlihat saluran irigasi ” asat gereng ”
Penampungan air ” Proliman ” yang berada di antara Desa Baturetno, Watuagung, kini kering ketontang. Lima pintu air terbuka menganga. Kondisi sangat memprihatinkan, sebagian cat pintu mengelupas berkarat, karena dimakan usia.

Dahulu pintu air Proliman dilindungi pohon trembesi besar- besar, sepanjang irigasi tumbuh pohon katamana, turi, janti. Semua itu kini telah berubah, menjadi deretan gerumbul rumput kering, cuaca panas, terkesan gersang tanpa peneduh.
Tak hanya itu, anak pintu air yang terletak di lintas jalan Desa Gambiranom, menuju Desa Balepanjang bernasip sama. Saluran air kering, rumput di kanan kiri pintu air menjalar liar, tak elok dipandang mata.
Walau demikian, para petani tak menyerah. ” Tak ada rotan, akar pun jadi.” Sebagian petani memanfaatkan lahan kering ditanami tembakau, jagung, ubi jalar, buah semangka, melon, dan sayuran. Untuk mengairi tanaman, mereka membuat sumur pompa di sawah, ada pula sedot air dengan disel dari sungai. Air dialirkan ke lahan tanaman dengan menggunakan pipa pralon, karet. Ada pula yang menampung air sumur bor di kolam buatan yang dibuat dari deklit, atau plastik.
Tidak tinggal diam, untuk menanggulangi kekurangan air, khususnya bibang pertanian, pemerintah Kabupaten Wonogiri membuat bendungan, bernama ” Bendungan Pidekso”, yang terletak di Desa Pidekso, Kecamatan Giriwoyo.
