Slawi-Inspirasiline.com. Gemuruh sorak-sorai dan warna-warni kostum memeriahkan Alun-alun Slawi, Kabupaten Tegal, Senin (24/11/2025) Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan perhelatan akbar “Kirab Budaya Museum Semedo,” sebuah pawai budaya yang tidak hanya memukau mata, tetapi juga membawa misi mulia: membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya dan sejarah Kabupaten Tegal, khususnya Museum Situs Semedo.

Pawai dimulai dari Jalan Gajahmada Slawi, menyusuri bundaran alun-alun Slawi hingga tiba di panggung kehormatan depan Kantor Sekretariat Kabupaten Tegal. Barisan pawai dipimpin oleh pasukan Paskibra SMA Negeri 1 Slawi dengan gagahnya membawa bendera Merah Putih, diikuti oleh beragam kelompok peserta yang menampilkan kebolehan masing-masing. Di antara deretan peserta yang memukau, tampak gemulai Tari Topeng Endel, tarian khas Tegal yang mempesona, serta energiknya seni Barongan dan Kuda Lumping, yang membangkitkan semangat dan kegembiraan. Barongsai yang lincah juga turut memeriahkan suasana, menambah semarak pawai budaya ‘ Maring Semedo Ndisit ‘
Acara yang diinisiasi oleh Dewan Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal bukan hanya sekadar hiburan. Lebih dari itu, pawai ini adalah upaya nyata untuk “Nguri-uri” (melestarikan) kebudayaan tradisional yang telah mengakar dalam masyarakat Tegal. Selain itu, pawai budaya ini menjadi ajang promosi Museum Situs Semedo yang terletak di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng. Museum ini menyimpan harta karun sejarah, berupa fosil manusia purba, hewan, dan flora yang menjadi saksi bisu peradaban masa lampau.

Hadir dalam acara tersebut, Wakil Bupati Tegal, Mohamad Kholid, bersama tokoh-tokoh penting seperti Kepala Unit Museum Semedo, Gatot Eko Nurcahyo, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Ki Haryo Entus Susmono, serta perwakilan dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seniman, dan budayawan di Kabupaten Tegal. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh terhadap pelestarian budaya dan sejarah daerah.
Gatot Eko Nurcahyo mengungkapkan harapannya bahwa pawai budaya ini, yang mengusung tema “Maring Semedo Ndisit” (Ayo ke Semedo Dulu), dapat menggugah rasa memiliki masyarakat terhadap museum purbakala tersebut. Museum Semedo sendiri dibangun pada tahun 2015 dan dibuka tahun 2022 atas kerjasama Pemerintah Pusat (penyedia sarana dan prasarana) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal (penyedia lahan). Pengelolaannya berada di bawah Museum Nasional, menjamin standar pengelolaan yang profesional.

Momen pawai budaya ini juga menjadi perayaan atas kembalinya sejumlah fosil yang sempat dipinjamkan ke Museum Sangiran selama hampir 10 tahun. “Saya bangga kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal yang selalu menjaga warisan budaya, khususnya seni tradisional,” ujar Eko.
Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan
Meskipun museum telah diresmikan sejak tahun 2022, data menunjukkan bahwa baru sekitar 64% warga Kabupaten Tegal yang berkunjung ke Museum Semedo hingga Oktober 2025. Padahal, museum ini telah menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari 4 negara di 4 benua!
Wakil Bupati Tegal, Bapak Achmad Kholid, menekankan pentingnya museum Semedo sebagai pusat pelestarian arkeologi di Kabupaten Tegal. Beliau berharap masyarakat semakin memahami nilai sejarah yang terkandung dalam fosil-fosil tersebut. Melalui program “Maring Semedo Ndisit,” masyarakat diajak untuk kembali mengunjungi, melestarikan, dan mempromosikan budaya lokal, agar tetap relevan di era digital. Beliau juga berharap acara seperti ini dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Tegal.
Pesan dan kesan dari Kepala Bagian Umum Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia semakin menguatkan semangat pelestarian. Acara ditutup dengan pemukulan gong oleh Wakil Bupati, menandai dimulainya secara resmi program “Maring Semedo Ndisit,” sebuah ajakan untuk menjelajahi kekayaan sejarah dan budaya Tegal. (Abiet Sabariang )
