WONOGIRI (inspirasiline.com) Tak ada kata terlambat. Di penghujung Agustus 2026 warga Batu Lor menyelenggarakan Malam Pentas Seni Simfoni Nusantara, mengangkat tema. ” Guyub dalam Kebersamaan, Berkarya dalam Budaya.”
Kegiatan tersebut bertujuan memperingati HUT Ke – 81 Republik Indonesia, sekaligus memberikan hiburan kepada warga masyarakat Baturetno. Pentas seni bertempat di area Monas Batu Lor, Baturetno, Wonogiri.

Acara dihadiri anggota DPRD Kabupaten Wonogiri (Lutfi Angga Pradana) Kepala Desa Baturetno, Kadus, Ketua RW,RT Batu Lor, ketua panitia (Cundoko) tokoh masyarakat, sesepuh, dan tamu undangan, serta ratusan penonton dari berbagai daerah.
Saat itu kebetulan malam Minggu, lagi pula tepat bulan purnama. Sang Dewi malam didampingi lintang Panjer Sore memancarkan sinarnya menerangi Tugu Monas serta panggung hiburan, menambah suasana kelihatan lebih anggun.
Acara dibuka oleh sesepuh Desa Batulor (Sudarno)
Pada sambutan singkat ia mengucapkan terima kasih kepada panitia atas inisiatif kegiatan pentas seni, juga kepada para donatur, sponsor, Kepala Desa Baturetno ( Mas Tuntas ) yang telah memberikan bantuan, dukungan dalam bentuk apapun , demi terselenggaranya kegiatan. Sebagai penutup sambutan, ia mengajak seluruh warga untuk menjalin kerukunan, antar warga hingga tercipta masyarakat yang damai, tentram, dan sejahtera.

Malam pentas seni simfoni Nusantara menyajikan berbagai hiburan seperti; paduan suara dari SMP Negeri 1 Baturetno, Vokal tunggal dari SD Negeri IV Baturetno, Duet kakak beradik dari SDN 1 Baturetno, Puisi dari SDIT Baturetno, paduan suara PKK Batulor pimpinan Endang Tri Winarni, dan pentas kethoprak humor.
Malam itu juga disampaikan hadiah kejuaraan olah raga dan seni meliputi ; voli pa/pi, tenis meja, tendangan pinalti, dan paduan suara.
Hadiah kejuaraan diterimakan oleh Lutfi Angga Pradana (DPRD Kab.Wonogiri).
Di penghujung acara dipentaskan kethoprak humor, oleh warga Desa Batu Lor Baturetno, dengan mengangkat cerita ” Uthak – Uthak Ugel “

Seni Kethoprak ini bernaung di Sanggar Joglo Satrio, beralamatkan di Batu Lor Baturetno, dipimpin Gatot Satrio Nugroho.
Group Kethoprak memiliki personal kurang lebih tiga puluh orang terdiri dari ; sutradara ( Mas Tofik) pemain, pemusik, petugas tata busana, perias, tata lampu, dekorasi, perlengkapan sertab seorang narator.
Grup Kethoprak humor Sanggar Joglo Satrio ( SJS ) pernah keluar sebagai juara pertama pada kejuaraan lomba Kethoprak humor se Kecamatan Baturetno, yang diselenggarakan oleh warga Patuk Lor Baturetno.
Lain dengan kebiasaan, umumnya seni Kethoprak diiringi musik gamelan. Kali ini pentas kethoprak humor SJS diiringi instrumen band dari putra putri Baturetno.

Pentas kethoprak Uthak – Uthak Ugel ternyata mampu membuat gelak tawa penonton. Gara – gara ulah tokoh Uthak – Uthak Ugel yang berwajah seram, suara lantang, tawa keras, didukung alunan musik, tata cahaya dan asap pekat, membuat anak – anak ketakutan, bahkan ada yang menangis.
SINOPSIS
Pentas diawali prolog oleh seorang narator ( NK) Ia membacakan sepenggal cuplikan cerita Uthak – Uthak Ugel, diiringi alunan instrumental lagu Kutha Ngawi dominan suara buluh perindu, diperkuat cahaya lampu sedikit remang menambah suasana panggung lebih hidup, memikat perhatian penonton.
Jalan Cerita. Konon, tokoh Uthak – Uthak Ugel merupakan tokoh raksasa botak, tubuh kekar, perut besar, wajah seran, rambut gimbal, suara lantang.
Tokoh tersebut memiliki sifat sombong, congkak, adigang, adigung, adiguna, kejam, bengis, lagi pula pemakan daging manusia.
Dijelaskan dalam cerita, bahwa Uthak- Uthak Ugel berasal dari hutan Gunung Payung.
Atas perilaku Uthak – Uthak Ugel penduduk sekitar merasa miris. Kian hari penduduk semakin berkurang. Warga desa setempat ketakutan, anak – anak tak berani masuk sekolah karena takut menjadi mangsa Uthak – Uthak Ugel.
Atas peristiwa itu, pemimpin kampung mencari akal bagaimana cara menangkap Uthak – Uthak Ugel. Punggawa desa mengutus kedua abdi kinasih, Cak Endro dan Cak Awik untuk mengumumkan sayembara.
Isi sayembara, barang siapa dapat membunuh Uthak – Uthak Ugel, ia akan diberi hadiah yang setimpal.
Syahdan, sayembara tersebar ke seluruh kampung.
Dua pemuda dari kampung sebelah maju menghadapi Uthak – Uthak Ugel.
Ternyata kedua pemuda itu tak mampu menandingi kesaktian, Uthak – Uthak Ugel. Keduanya mati di tangan raksasa buas itu.
Mendengar hal tersebut, punggawa desa serta penduduk kian tambah miris. Tak menyerah, punggawa desa bersama masyarakat terus berupaya untuk mendapatkan orang yang mampu menandingi kesaktian Uthak – Uthak Ugel.
Cak Endro dan Cak Awik terus menabuh bende, sambil tetembangan mengelilingi berbagai desa.
Lantunan bende terdengar seorang wanita tua, berbaju putih, berbadan bungkuk, bertongkat, rambut putih, gigi hitam sebagian ompong, suara serak parau, namun masih jelas didengar.
Siapa dia sebenarnya ? Ia seorang pendekar wanita, satu perguruan dengan Uthak – Uthak Ugel. Dalam cerita, pendekar wanita itu memiliki kesaktian linuwih. Namun demikian ia tetap rendah hati, berwatak santun, asih sesama, suka menolong serta mengabdikan diri demi ketenteraman masyarakat.
Syahdan, ringkas cerita Uthak – Uthak Ugel bertemu dengan pendekar wanita sakti.
Kedua pendekar bertarung adu kesaktian, baik fisik maupun tenaga dalam. Pertarungan disaksikan para punggawa desa dan masyarakat.
Atas kesaktian pendekar nenek tua, Uthak – Uthak Ugel dapat dilumpuhkan, dikutuk menjadi batu hitam. Kumara Uthak – Uthak Ugel merintih sambat minta ampun dan berjanji tidak akan mengganggu kehidupan masyarakat setempat.
Saat itu penduduk hidup damai tata tentrem kerta raharja seperti sedia kala. Anak – anak kembali bersekolah bermain seperti biasa, hati merdeka tidak dihantui rasa ketakutan. Akhir cerita terdengar epilog dari sang narator ( NK) mengakhiri pentas Uthak Uthak Ugel.
Uri Ima Kulata selaku pembawa acara mempersilakan grup musik untuk melanjutkan menghibur para penonton hingga usai acara. (SK/19)
