TEGAL (inspirasiline.com) Suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan menyelimuti Kota Tegal pada Kamis, 22 Oktober 2026. Ribuan santri dari berbagai daerah di penjuru Jawa Tengah tumpah ruah mengikuti Upacara Peringatan Hari Santri Nasional Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026.
Bertindak selaku inspektur upacara, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memimpin jalannya barisan santri yang hadir dengan atribut kebanggaan ponpes masing-masing.

Peringatan hari besar kaum bersarung ini tidak hanya sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi mendalam atas sejarah panjang perjuangan bangsa.

Menghidupkan Kembali Semangat Resolusi Jihad
Dalam amanatnya di hadapan ribuan peserta upacara, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa esensi Hari Santri adalah wujud penghormatan serta upaya mengenang jasa para ulama dan pejuang terdahulu yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

”Hari santri ini merupakan bentuk mengenang para pahlawan kita, khususnya resolusi jihad oleh Mbah Hasyim Asy’ari di Surabaya. Jadi, resolusi jihad itu intinya bahwa santri ini adalah harus mempunyai jiwa pejuang dalam rangka memerangi penjajah saat itu,” ujar Gubernur Ahmad Luthfi.
Namun, seiring bergulirnya waktu dan tercapainya kemerdekaan, bentuk perjuangan santri mengalami pergeseran paradigma yang disesuaikan dengan tantangan zaman. Jika dahulu jihad diartikan sebagai perlawanan fisik terhadap penjajah, maka di era modern ini jihad dimaknai secara lebih luas untuk kemaslahatan umat.
”Tetapi saat ini Indonesia sudah merdeka, maka para santri tugasnya adalah bagaimana dia membuat jihad kepada diri sendiri dan masyarakatnya, utamanya adalah menyejahterakan masyarakat dengan cara mereduksi angka kemiskinan,” imbuhnya.
Kontribusi Nyata Santri dalam Pembangunan dan Pengentasan Kemiskinan
Gubernur memaparkan data konkret mengenai capaian pembangunan di Jawa Tengah yang menuntut peran aktif kaum santri. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, angka kemiskinan di Jawa Tengah kini berada di angka 9,21%.
”Jadi, 3,6 juta masyarakat kita sudah kita angkat untuk tidak miskin kembali. Pertumbuhan ekonomi kita adalah 5,76% BPS yang terakhir. Artinya, Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang sangat menarik terkait dengan investasi dan pembangunan,” jelas Gubernur.
Dengan tren pertumbuhan ekonomi yang positif tersebut, para santri dituntut untuk tidak tinggal diam. Mereka diposisikan sebagai subjek penting yang turut serta membangun wilayah. Kendati demikian, pembangunan yang berkelanjutan mustahil terwujud tanpa adanya stabilitas sosial.
”Oleh karena itu, santri dituntut untuk ikut serta membangun wilayah kita. Salah satu syarat membangun adalah ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat,” tegasnya.
Potensi Besar Pesantren sebagai Cooling System di Tengah Dinamika Global
Jawa Tengah menyimpan potensi keagamaan dan pendidikan yang luar biasa besar. Tercatat ada hampir 555.000 santri yang tersebar di sekitar 4.500 pondok pesantren di seluruh wilayah provinsi ini. Potensi demografis dan moral tersebut dinilai sangat strategis untuk dikerjakan secara kolaboratif.
Di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu dan dinamika sosial yang kian kompleks, Gubernur mendorong agar pesantren dan para santri mampu mengambil peran sebagai agen penyejuk di tengah masyarakat.
”Lah ini potensi harus kita kerjakan, kita gandeng kemudian untuk menjadi apa? Cooling system, mendinginkan masyarakat. Sekarang situasinya yang geopolitik tidak menentu, kemudian perkembangan situasi yang perlu adanya suatu cooling system dari masyarakat kita, termasuk kolaboratif government di dalamnya adalah santri itu sendiri,” pesan Gubernur Ahmad Luthfi di hadapan para tamu undangan dan tokoh agama yang
Selesai pelaksanaan upacara dilanjutkan dengan aksi nyata kepedulian sosial. Gubernur Ahmad Luthfi secara simbolis. (Biet)
